Ibukota Preman

Ilustrasi

Oleh : Yahya Kus Handoyo

Hari Jum'at kemarin pada tanggal 29 Dec 2017 saya ambil SIM A yang kebetulan kena tilang. Setiba saya di lokasi, saya agak bingung tidak bisa cari parkir karena halaman kejaksaan tidak di buka untuk parkir umum (entah mengapa) dan gerbang pun ditutup, hanya di buka sebagai akses pejalan kaki saja.

Sejurus kemudian ada tukang parkir liar yang mengarahkan saya agar parkir di pinggir jalan, sedikit di luar pintu gerbang kejaksaan, persis di bawah rambu "Dilarang Parkir". Kemudian saya terlibat dialog dengan tukang parkir itu:

Saya: "Mas, itu tanda dilarang parkir kan?"
Parkir: "Tenang bang, sekarang sudah bebas"
Saya: "Maksudnya bebas? Itu tanda Jelas-jelas di pasang di situ, dan mas minta saya parkir di bawahnya persis, klo di Derek, mas mau tanggung jawab?"

Parkir: "Tenang bang, itu jaman dulu waktu masih #Ahok Gubernur, sekarang udah ganti sudah ngga ada yang ngurusin"
Saya: (terdiam sesaat) — "Ya udah, tapi klo mobil saya di Derek, sampeyan saya kejar dan akan saya pastikan sampeyan juga bakal dapet masalah" 
Parkir: "Iya bang tenang, liat aja itu motor banyak di parkir di sini juga"

Akhirnya saya mendapat pembuktian memang setelah Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi "Penguasa", Jakarta benar-benar sudah berubah, demi slogan yang selalu di suarakan yaitu "Kebe-Rp-ihakan".

Jakarta dulu yang di perjuangkan oleh seorang "Pelayan" bernama Basuki Tjahaja Purnama, dengan kerja keras yang begitu hebat agar tertata dan lebih baik, kini tidak bersisa lagi..

Para Preman itu kembali menemukan lahan mereka, yang sudah 3 tahun terkekang..

Tapi tidak perlu sedih, menurut Anies-Sandi memang Jakarta menuju "lebih baik", lebih baik bagi Preman jalanan dan Preman Berdasi, semua dapat "jatah", semua "senang".. Begitu bukan yang ideal.. 

Sumber : Status Facebook Yahya Kus Handoyo

Sunday, December 31, 2017 - 18:30
Kategori Rubrik: