Ibu, Jangan Terbelenggu Pendidikan Semu

ilustrasi
Oleh : Aina Nainawa
#renungan di Hari Bunda
Namaku Vincent. Wajahku ganteng khas oppa. Aku anak orang berada. Aku sekolah di SD SMP SMA swasta termahal di kotaku. Dan aku selalu nomor satu. Seumur hidup aku tak pernah merasa kalah. Aku selalu menjadi yang terdepan. Baru kali ini aku merasakan kekalahan. Aku tak terima. Bagaimana bisa judul skripsiku ditolak mentah-mentah oleh pembimbingku.
Vincent, ditemukan bunuh diri kemudian.
Namaku Bunga. Ayah ibuku orang baik. Mereka selalu mendidikku dengan baik. Mereka berdua guru. Mereka tak segan mengikutkanku les ini itu. Aku pun selalu nomor satu. Sampai aku diterima kuliah jalur undangan di sebuah kampus terkenal. Di sana aku terhenyak. Karena aku banyak saingan. Mana mungkin mengalahkan mereka semua yang begitu cemerlang?
Bunga, ditemukan mencoba bunuh diri di kamar kostnya. Beruntung ia masih selamat lalu pindah ke kampus swasta, kemudian ia menjadi optimis lagi menjalani hidup di sana.
Namaku Citra. Ayahku gagah dan ganteng. Ibuku cantik. Aku tergolong pintar. Karena kepintaran dan kecantikanku aku selalu populer. Tapi tidak tahun ini. Aku yang biasanya dipuji kakak kelas dan kawan seangkatanku, harus kalah tenar oleh adek kelas yang kuospek. Aku tak tahan. Seminggu sudah aku memendam. Tiap menatap bintang baru itu hatiku remuk redam.
Citra, ditemukan pingsan ketika perkuliahan. Karena ia tak sanggup kalah dalam pertarungan kehidupan.
Vincent, Bunga, dan Citra hanyalah sekelumit kisah anak manusia yang menyedihkan. Masih ada kesedihan lain. Dimana Bunga atau Citra begitu mudah menggadaikan keperawanan demi kata cinta dan sayang yang diobral. Bahkan sebagian Bunga harus mati di tangan kekasih yang ia sanjung dan ia sayang.
Semu!
Ya, pendidikan di negara ini sebagian besar masih belum bisa mencetak kepribadian yang tangguh menjalani kehidupan. Keluarga-keluarga di Indonesia juga masih banyak yang belum paham, bagaimana sejatinya pendidikan.
Ibu.
Ijinkan saya mengangkat tema pendidikan ini di hari istimewa buat kaum istimewa: wanita.
Wanita, kita lah tiang negara. Kita lah pilar peradaban dunia. Kaum lelaki adalah kepala sekolah, dan kitalah gurunya. Suami adalah pencari nafkah, kita lah yang menghandle rumah.
Masalah utama pendidikan ini dimana? Kenapa ada Vincent, Bunga, dan Citra? Dan semakin ke sini semakin mengerikan jumlahnya?
Salah satunya karena: para ibu, kita, tak mampu mendidik manusia tangguh dengan tangannya.
Ketangguhan manusia, tidak untuk diceritakan. Kemandirian manusia, tak cukup dengan didoakan. Pendidikan karakter ini tentang pembiasaan. Bagaimana mungkin kita berharap anak tangguh, jika ia tak pernah disuruh menyelesaikan masalah?
Karakter manusia juga tentang contoh di lapangan. Bagaimana mungkin anak kita akan cekatan, jika ibundanya tak mencontohkan kegesitan dalam menyelesaikan hal-hal kecil dalam keseharian?
Coba renungkan. Kita sekarang menjadi tangguh, karena telah melewati kesulitan belasan tahun lamanya dalam kehidupan. Kita sekarang paham konsep problem solving, karena ditempa oleh kesulitan demi kesulitan.
Lalu kenapa, kita tak memberikan kesempatan anak kita tangguh? Biarkan mereka menyelesaikan masalah. Itulah pendidikan yang nyata. Itulah yang mereka butuhkan untuk masa depannya.
Jika semua kita bantu. Jika semua kita fasilitasi. Dan jika semua pilihan kehidupan mereka kita yang menentukan ke kanan atau ke kiri, apa yang kita harapkan untuk kepribadian mereka? Yang ada justru mereka rapuh. Dan bermental pengeluh.
Kita semua pasti paham. Kupu-kupu yang indah berterbangan, ia kuat mengepakkan sayap hingga ke kejauhan, karena telah berjuang keluar dari kepompong tanpa bantuan.
Sebuah percobaan telah dilakukan, dengan menggunting kepompong itu untuk memberikan kemudahan, hasilnya adalah: kupu-kupu lemah yang tak mampu terbang.
Mari kita berkaca pada kisah Rasulullah nan mulia. Beliau yatim piatu sejak kecil. Diasuh kakek beberapa waktu. Kemudian ikut pamannya yang tak terlalu kaya, banyak anak pula.
Rasulullah sejak kecil ikut berdagang. Beliau belajar mengenal banyak orang. Beliau berjuang melintasi gurun tandus nan gersang.
Rasulullah juga belajar menekan ego, kala di rumah sang paman hanya ada sedikit makanan. Beliau yang mulia, kala muda belajar survival, mengisi perutnya dengan air, agar tak kelaparan, juga agar membuat sepupunya merasa nyaman dengan jawaban kenyang.
Maka jadilah Rasulullah. Pemuda tangguh nan teguh. Jujur. Amanah. Ramah. Menyenangkan. Penyayang. Penyabar. Tegas dan berwibawa.
Jika kita membaca siroh beliau, kita akan mendapati perjalanan hidup yang luar biasa.
Apakah beliau bisa demikian karena dibesarkan penuh fasilitas dan kemewahan?
Tidak!
Karena karakter bukan untuk dikisahkan. Karakter bukan lencana yang bisa disematkan. Ini tentang latihan.
Sekedar sharing.
Saya pribadi, bahkan memilih tak menggunakan jasa ART dalam rangka meniatkan ini. Saya ajarkan anak kami melipat baju sendiri. Mereka tahu kemana meletakkan baju kotor untuk dicuci. Dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri, abinya menyetrika, umminya mencuci. Mereka merekam, umminya memasak, abinya menyapu dan mengepel.
Buat apa? Karena pelit? Tak mau berbagi kepada dhuafa? Sayang uangnya?
Sama sekali bukan.
Karena kami ingin anak-anak kami tumbuh tegar. Kami berharap mereka tahu bagaimana kelak menyelesaikan permasalahan.
Bahkan, saya sengaja menjahit baju untuk keluarga kami. Lagi-lagi, ini bukan tentang uang. Tapi ini tentang pendidikan. Saya meraba diri, saya bisa menjadi yang sekarang, karena di masa lalu melihat dan merekam bagaimana ibunda tangguh menyelesaikan ujian demi ujian kehidupan. Saya melihat dengan jelas, bagaimana beliau pontang panting menyelesaikan permasalahan.
Dan saya ingin, anak-anak kami tangguh, melebihi ketangguhan kami berdua.
Saya menuliskan ini demi mengajak ibu-ibu sekalian. Mari berkontribusi untuk bangsa ini, dengan menghasilkan anak-anak tangguh dan pemberani. Mari didik anak kita, menjadi pribadi menyenangkan dan rendah hati dengan sesama.
Apakah anak saya tak pernah rangking 1, tak pernah juara, hingga tak posting apa-apa?
Saya, sudah kenyang rangking 1. Tapi justru inilah tantangan bagi saya pribadi. Bagaimana agar tak mendewakan otak yang hanya Allah titipi. Anak kami tak bodoh, kami tahu itu. Anak kami kadang juga kami ikutkan lomba untuk kompetisi. Tapi kami selalu tekankan pada mereka, bahwa kemenangan bukan segalanya. Bahwa hidup ini pergiliran saja. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ada kalanya menang, ada kalanya harus siap menerima kekalahan.
Mari ibu. Tak perlu risau. Apalagi menjadikan rangking dan non rangking sebagai perdebatan tiada akhir.
Survey terbaru tahun ini mengatakan bahwa, rangking hanya faktor nomor 30 yang mempengaruhi kesuksesan manusia. Silahkan baca slidenya di wall saya.
Mohon maaf jika ada kalimat yang tak berkenan. Saya hanya mengajak kita merenung dan memahami konsep pendidikan ini dengan benar, sebagaimana yang pernah saya dengar dari para ahli pendidikan.
Sumber : Status facebook Aina Nainawa.
Saya seorang ibu biasa yang belajar menjadi pendidik utama bagi ketiga anaknya, namun di sela me time juga berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara saya. Semoga kita semua bisa menunaikan amanah Allah menjadi khalifah di bumiNya. 22.12.2019.
Tuesday, January 26, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: