Ibnu Muljam Ala Indonesia

Ilustrasi

 

Oleh : Sahir Nopri

Diakui atau tidak, saat ini umat Islam di Indonesia sedang mengalami situasi yang meningkat ketegangannya dengan sesame muslim. Jika dipetakan secara jeli, kelompok muslim yang relative tetap toleran dan sesuai dengan yang diajarkan para walisongo namun ada sekelompok kecil umat Islam yang mengklaim bahwa Islam ala mereka yang benar. Meski kelompok itu kecil, tapi ributnya luar biasa. Ditambah persinggungan politik, makin menjadi-jadilah Ibnu Muljam ala Indonesia.

Siapakah Ibnu Muljam? Apakah dia seorang pembenci Islam? Atau seorang yang tidak mengakui Al Quran? Atau seorang penyembah berhala?

Bukan. Ibnu Muljam dikenal rajin ibadah sampai dahinya menghitam. 
Dia hafal Al Quran
Dia menjalankan Ahli Puasa daud, sehari puasa, sehari tidak. 
Dia rutin Sholat malam

 

Dengan segala ibadahnya itu, Ibnu Muljam merasa lebih islami dari Imam Ali RA. Dia mengkafirkan Imam Ali. Menuduh Imam Ali tidak berpegang pada hukum Allah lalu merasa berhak  untuk  menumpahkan darahnya.Dia menista keluasan ilmu Imam Ali dengan kedangkalan pikirannya
Padahal Rasulullah yang mulia pernah berkata kepada Ali, “Sesungguhnya tidak mencintaimu kecuali mukmin dan tidak membencimu kecuali munafik.”

Ideologi Ibnu Muljam adalah ideologi yang menganggap orang yang tidak sepemikiran dengannya sebagai kafir (takfiri). Orang yang berbeda dengannya adalah sesat. Dan karena itu, wajib dibinasakan.  Dia selalu berteriak, “berpeganglah pada hukum Allah.” Padahal maksudnya, hukum Allah menurut versi kelompoknya. Jika orang berbeda versi tentang hukum Allah, Ibnu Muljam langsung menuding orang tersebut menentang agama.Dari sekadar seorang Ibnu Muljam, dia ingin menjelma menjadi Tuhan.

Kita tahu dari kelompok mana yang menuduh Presiden Indonesia yang jelas-jelas seorang muslim tapi dituduh komunis atau PKI kan? Kita tahu Ketua Umum PBNU yang jelas-jelas seorang nahdliyin tulen tapi diserang sebagai syiah. Buya Syafii yang jelas-jelas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ketika menyatakan dukungan ke Ahok dihujat habis-habisan oleh kader Muhammadiyah. Menteri Agama difitnah dengan berbagai kalimat saat mengeluarkan daftar 200 ulama yang recomendate untuk ceramah/tausiah. Ansor dan Banser disangka menjadi beking orang kafir saat melakukan pengamanan rutin tiap peringatan natal dan sebagainya.

Beberapa kelompok yang mudah kita definisikan sering melontarkan cacian, hinaan, fitnah, hasut adalah kelompok yang mengklaim paling Islami. Apalagi sejak berkembangnya organisasi HTI, isu tudingan pemerintah thogut makin mengerucut. Kelakuan-kelakuan model Ibnu Muljam ala Indonesia bisa dimaknai sebagai intoleransi hingga radikalisme. Pada level intoleransi penyebutan kafir, syiah, pro china, komunis, aseng, LGBT, tidak Islami, dan tudingan lain mudah ditemui terutama di media social. Sementara pada tataran radikal, mereka para teroris yang melakukan bom bunuh diri. Versi kepolisian bisa disebut JAT (Jamaah Anshorut Tauhid), JAD (Jamaah Anshorut Daulah), JI (Jamaah Islamiyah), Kelompok Santoso dan masih banyak yang lainnya.

Ditingkat masyarakat, intoleransi ala ibnu Muljam mudah kita temui bahkan dikehidupan sehari-hari. Baik dilingkungan pergaulan maupun di media social. Dan rata-rata para Ibnu Muljam ala Indonesia itu dapat diasosiasikan ke kelompok-kelompok tertentu.  Menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, mereka mulai mengelompok dan merapat pada capres non petahana. Sejak awal mereka melawan dengan menggunakan tagar. Mengapa mereka dapat diidentifikasikan dengan merapat ke lawan petahana? Karena Presiden Jokowi sangat dekat dengan ulama-ulama besar dan mereka menyelinap dalam sebuah kepentingan. Mereka tahu ada kepentingan besar politik yang bisa mereka tunggangi sehingga mereka dapat merapat tanpa reserve.

Bukti nyata jelas saat Pilkada DKI 2017 lalu saat petahana Ahok melawan Anies. Kampanye hitam secara massif dikembangkan. Pertama isu yang diangkat adalah bahwa muslim harus dipimpin gubernur/pemimpin muslim. Hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Pilkada di Indonesia selama ini. Jelas-jelas pengaburan makna dari tafsir (bukan terjemahan) Al Maidah 51. Isu ini dipertajam dalam turunan-turunan isu lain. Kedua, muslim pemilih Ahok tidak boleh disholatkan. Padahal jelas-jelas Rasulullah tidak pernah melakukannya namun hal ini diterapkan di DKI. Ketiga, pengusiran Wakil Gubernur Djarot yang jelas-jelas seorang muslim selesai sholat Jum’at. Keempat, demo-demo menolak Ahok menenteng kalimat-kalimat ala Ibnu Muljam seperti “seret Ahok”, “Gantung Ahok Disini”, “Bunuh Ahok” dan lain sebagainya. Yel-yel serta orasi yang dilakukan persis seperti Ibnu Muljam yang ditulis diawal.

Ya, Ibnu Muljam ala Indonesia itu tidak sekedar berjubah, berteriak takbir, ceramah di masjid, menyajikan dalil dan hadits, mengupas ayat, berkhotbah di mimbar Jumat, berjidat hitam, bertasbih, bercadar dan segala atribut yang sama persis dengan muslim Indonesia kebanyakan. Bedanya hanya dalam akal pikiran, tutur kata, hati dan perasaan mereka. Mereka merasa paling benar dan yang lain kafir meski beragama Islam.

Kondisi ini terus dipelihara dan dikembangkan demi kepentingan Pilpres. Sudah terlihat narasi-narasi yang dikembangkan oleh kelompok Ibnu Muljam ala Indonesia saat ini. Saat banyak Ulama besar yang santun, memegang Islam dengan benar, memiliki adab, berilmu tinggi justru malah tidak didekati. Mereka malah merapat ke ulama yang menganjurkan tidur di masjid dan sholat di monas. Mereka mengidolakan ulama yang bicara kotor seperti pantat china, biadab, anjing, dan caci maki lain. Mereka mendekat ke ulama yang memfitnah ke sesama muslim bahkan umaro.

Dan kita tahu siapa Ibnu Muljam ala Indonesia kan?

NYANG PENTING MESTI  DI INGAT

#2019BubarkanPKS,

#2019TenggelamkanPKS

#2019JanganPilihPKS

#2019BubarkanFPI,

#AwasBahayaLatenHTI

Thursday, June 7, 2018 - 18:30
Kategori Rubrik: