Ibadahmu Bukan Bebanmu

ilustrasi

Oleh : Enha

Kebahagiaan memang tak bisa dilogikakan, ia terkadang hadir pada sebuah peristiwa yang sederhana. Misalnya saat kita habis-habisan mengeluarkan materi untuk membantu orang tua atau saudara yang sakit. Totalitas pelayanan ternyata mendatangkan kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan materi yang kita keluarkan.

Memaknai sebuah peristiwa yang tampak mata seperti beban yang mengganduli namun justru menjadi motor penggerak kreativitas, inilah makna pelayanan yg sesungguhnya, dan saya yakini, inilah jenis ibadah yang nilainya lebih tinggi ketimbang jenis ibadah reguler lainnya. Tak ada kesan berat, susah dan merepotkan. Layani saja, itu saja!

Tapi coba perhatikan, pada jenis ibadah formal, ada saja yang merasakannya sebagai "beban", lucunya, saat seseorang tiba di rumah dari perjalanan jauh dan melelahkan, ia berkata sebelum merebahkan badan di tempat tidur, "untung tadi udah sholat isya yaaa, sekarang bisa langsung tiduuuuur."

Hmmm, apa mafhum mukhâlafah (baca: pesan terbalik)nya? Seandainya tadi tidak sempat sholat isya maka jelas sekali sholat-nya sebelum tidur akan menjadi beban yang teramat berat. Laaah, bagaimana Anda bisa totalitas menyembah kalau proses menjalaninya penuh beban begitu?

Maka belajarlah dari peristiwa ketulusan di atas, di mana pelayanan kemanusiaan yang tanpa batas itu justru melahirkan ketulusan yang menjadi prasyarat ibadah kepada Tuhan. Begini Allah mengingatkan:

QS 85/5: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Agama yang lurus itu terletak pada pelayanan tanpa beban, tanpa keluhan dan bahkan tanpa berharap balasan, inilah semurni-murni ketulusan.

Sumber : Status Facebook Enha

Sunday, January 13, 2019 - 12:30
Kategori Rubrik: