Ibadah Kerja VS Ibadah Virtual

ilustrasi
Oleh : Budi Santosa Purwokartiko
 
Ibadah ritual itu sulit diukur kinerjanya. Karena customernya Tuhan dan tidak ada atasan lain atau teman sejawat. Ibadah sosial seperti kerja di kantor , panitia tujuh belasan kampung, dan segala kerja kemanusiaan yang lain sangat mudah dinilai oleh sejawat atau atasan. Kinerjanya jelas terlihat. Maka banyak orang yang lebih suka kerja ritual karena lebih aman. Kita tidak bisa menilai kualitas kerja ritual. Hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Tapi kerja ritual itu semata2 untuk dirinya sendiri , tidak ada efek yang dirasakan orang lain. Sebaliknya kerja sosial, kemanusiaan , profesional akan segera ketahuan jika kualitasnya buruk. Mungkin banyak orang yang secara kinerja profesional buruk lalu bersembunyi pada ibadah ritual yang nggak pernah ada evaluasinya.
Banyak dari kita mengagumi dan mengutamakan kerja ritual. Kita sering melontarkan puja-puji orang yang rajin ke mesjid atau puasa sunah atau yang hafal quran. Tapi kita sering menganggap biasa2 orang2 yang kerja sosial kemanusiaan termasuk kerja profesional. Prestasi2 kerja profesional kurang diapresiasi. Itu dianggapa keduniawian. Ucapan masya Allah , subhanallah sepertinya hanya pantas untuk mereka yang rajin kerja ritual. Kita memang hidup di dunia, membutuhkan prestasi2 dunia yang membantu orang lain menghadapi masalahnya.
 
Di kantor2 sudah umum saat adzan, rapat dihentikan betapa pun urgennya rapat itu. Begitu juga kerja yang lain ditinggal saat terdengar adzan. Seakan kerja profesional, kerja kemanusiaan itu tidak penting. Hanya kerja ritual itu yang paling penting. Di BUMN-BUMN marak kejadian begini. Kantor seperti kuburan saat sholat jamaah. Seakan urusan lain tidak penting..
 
 
Bayangkan jika berpikir ekstrim suatu saat dokter lagi mengoperasi pasien, menyangkut nyawa orang lalu ditinggal sholat gara2 dengar adzan. Apakah Tuhan begitu egois harus disembah ramai2 pada saat yang tepat? Sedangkan Tuhan itu ada dimana-mana kapan saja dan maha memahami, maha mengampuni.
 
Banyak bos atau pimpinan BUMN akhirnya sungkan mengajak kerja anak buahnya saat adzan sholat berkumandang karena jika itu dilakukan dia akan dianggap melawan Tuhan. Atau dianggap tidak menghormati perintah agama. Mereka lupa bahwa bekerja secara profesional , memenuhi komitmen sesama manusia tidak kalah mulianya. Dosa pada Tuhan bisa dihapus dengan mohon ampun. Melupakan kewajiban sesama manusia tidak akan terampuni sebelum si manusia yang bersangkutan memaafkan.
 
Masyarakat kita sedang terbelah memahami perlunya menghargai kesepakatan sosial kemanusiaan dan mengutamakan ibadah ritual. Siap2 saja kerja profesional bakal hilang dari kantor2 BUMN atau kementerian dan akan diganti dengan kerja ketuhanan.
"“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadist) "
 
Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko
Friday, September 25, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: