Ibadah Haji, Wujud Keimanan Kita

ilustrasi

Oleh : Rowie Sujudi

Secara akal, semua rukun Islam bisa dinalar kecuali ibadah haji. Syahadat, sholat, zakat, puasa - jelas bacaan, gerakan dan tujuannya. Kalau haji?

Thawaf itu cuma jalan-jalan mengelilingi kubus besar. Tak ada rukun dan doa apapun yg diwajibkan. Kita bisa thawaf sambil ngerumpi kandidat menteri tanpa takut kehilangan keabsahannya.

Wira-wiri Shafa-Marwah malah tak ada syarat bersucinya. Wukuf cuma nongkrong di padang luas nan gersang. Boleh sambil tiduran atau pura-pura pingsan.

Melempar jumroh. Membidik tembok dengan kerikil kecil kayak orang iseng gak ada kerjaan. Yg tak kalah lucu adalah sa'i, memotong rambut - bagi yg punya rambut. Kalau Deddy Corbuzier gimana?

Parahnya lagi kalau daftar haji sekarang, harus menunggu dua tiga kali pilpres baru bisa berangkat.

Apa yg masuk akal dari itu ibadah omong kosong semacam itu?

Dulu ketika jumrah masih tiang yg ramping dan para jamaah harus berebut membidiknya, ada seorang jemaah haji yg frustrasi. Saaf fokus mengincar, tangannya kesenggol hingga kerikilnya jatuh. Ia ulangi lagi, kesenggol lagi, jatuh lagi. Ia ulangi, jatuh lagi. Terus begitu sampai entah berapa kali. Hingga di puncak kekesalan ia pun menjerit.

“Ya Allaaaah, iki ngibadah cap opoooo...?!"

Tak bisa dijelaskan bukan berarti tak ada penjelasan. Kita hanya tak menemukan padanan yg tepat untuk mewakilinya. Ada semacam perasaan yg merembes ke dalam jiwa. Terpatrinya rasa yg selalu menyertai. Menghangati jiwa dengan sepenuh rindu. Mimpi abadi untuk mengulangi dan mengunjungiNya lagi.

Secara lughowi, haji berarti menyengaja atau menuju - mengunjungi. Sebuah panggilan menuju puncak ketaatan untuk melalukan perintah Ilahi. Apapun itu.

Meski tampak lucu dan tak masuk akal sama sekali.

Sumber : Status Facebook Rowie Sujudi

Tuesday, August 13, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: