Ibadah Age-Segregated Penyebab Kemerosotan Anak Muda Di Gereja Tradisional?

ilustrasi

Oleh : Joas Adiprasetya

Saya memulai karya-pastoral saya sebagai pembina kaum muda. Tren waktu itu sama saja dengan tren yang masih terus berlangsung hingga hari ini, setidaknya sebelum pandemi. Anak sekolah minggu cukup banyak, remaja lebih sedikit, pemuda jauh lebih sedikit. Kalau grafik itu diteruskan, logisnya ibadah dewasa sepi ... Tapi kenapa tiba-tiba melonjak lagi? Setelah saya amati, setidaknya di jemaat saya, sebagian besar pengunjung ibadah dewasa (yang disebut "ibadah umum") itu sebagian besar adalah migran, bukan native. Yang native sudah hilang semua.

Sebagai pembina remaja-pemuda, saya sudah mengusulkan dan mengusahakan segala cara untuk mengatasi ini, hanya untuk sampai pada sebuah kesimpulan: Nihil! Satu-satunya yang belum saya coba adalah mengulik praktik ibadah yang tersegregasi secara usia ini. Saya semakin percaya, segregasi berdasarkan usia ini adalah penyebab utama decline anak-anak muda di gereja-gereja tradisional.

Lantas, banyak pemimpin jemaat yang playing-victim dengan mempersalahkan gereja-gereja kontemporer yang sudah "mencuri domba muda" mereka. Sebagian yang lebih positif kemudian justru mencegah proses eksodus kaum muda ini dengan mengadopsi model ibadah kontemporer. Alasannya sederhana:

Daripada jajan di luar, kita sediakan jajanan di luar itu di rumah sendiri. Dan ternyata tetap gagal. Karena bagaimana pun, kita meniru. Barang KW tidak pernah lebih baik dari barang ORI. Lebih parah lagi ... dengan cara itu kita melakukan habituasi calon-calon anggota gereja lain dengan resources gereja kita. Konyol. Saya akan membahas lebih lanjut soal ini kelak.

Sumber : Status Facebook Joas Adiprasetya

Tuesday, July 14, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: