Ia Menopang Punggung Itu

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Mungkin....

Dua puluhan tahun lagi, Sedah Mirah yang lucu baru akan paham bahwa dia pernah dipangku oleh seorang perempuan luarbiasa.

Seorang perempuan sederhana yang setia menjaga punggung suaminya agar tak roboh, sebab nyaris setiap saat berbagai panah busuk menghujaminya.

Panah fitnah, panah kebencian, panah kelicikan, panah penghinaan, panah dendam.

Setiap saat, setiap momen...
Panah-panah itu menerjang bergantian. Sedangkan sang suami yang kurus terus berdiri tegak dan tegar. Sebab tatkala kakinya gemetar menahan seribu luka, perempuan inilah yang menopangnya.

Menopang, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kepedihan, segenap air mata, dan juga segenap cinta.

Perempuan ini bahkan siap untuk terjatuh lebih dulu, agar kaki suaminya tetap tegak berdiri.

Bukan hanya untuk suaminya dia rela jatuh, tapi untuk rakyat yang menggantung asa di pundak suaminya.

Amanah untuk suaminya itulah yang dia jaga. Sebanyak air mata dan luka suaminya, sebanyak itu pula air mata dan lukanya ikut menganga.

Tak banyak orang yang tahu, sebab dia selalu tersenyum - di balik air mata, di balik luka - sembari tangannya yang lembut namun perkasa terus menopang punggung suaminya.

Tak banyak yang tahu, apalagi paham. Namun dua puluh tahun lagi, Sedah Mirah lucu yang sudah jadi gadis ayu akan paham :

Bahwa dia pernah dipangku dan ditimang oleh seorang perempuan luarbiasa yang penuh luka di republik besar bernama Indonesia.

Perempuan itu bernama Iriana, dan perempuan itu adalah neneknya.

"Eyang uti.." desah Sedah Mirah dengan penuh bangga dan haru.

-HT-

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Sunday, October 6, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: