Hypnotherapist dari Sang Mastermind

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Dan aksi saling tuding itupun terjadi. Inilah tujuan sebenarnya yang diharapkan oleh "dalang" pelaku penusukan terhadap Syekh Ali Jaber. Terus terang ini yang saya khawatirkan, bahwa ada yang bertugas menghina-hina Agama untuk menyulut kemarahan diantara umat. Penganiayaan terhadap Ulama adalah salah satu contoh "penghinaan" itu. Selain sebutan-sebutan melecehkan seperti Takbir menjadi Take a Beer dan lain sebagainya.

Sejak tersiar kabar penusukan Syekh Ali Jaber, saya mengutuk sekaligus berusaha menahan diri atas kejadian ini. Menahan diri untuk berkomentar apalagi berasumsi yang bisa memperkeruh suasana. Betul saja, di linimasa mulai terbentuk polarisasi berseliweran narasi saling tuding. Seperti biasa, narasi memusuhi atau bahkan menghabisi ulama mulai dimainkan oleh suatu kelompok. Dan ujung-ujungnya membangun sentimen negatif terhadap pemerintah. "Ah, paling-paling nanti dikatakan gila! Kalau penganiayaan terhadap ulama itu orang gila. Tapi kalau kepada pejabat pemerintah itu teroris." Sementara di kutub yang lain mengatakan "Inilah generasi Ibnu Muljam." Ironis, bahwa dari keduanya adalah sama-sama mewakili kelompok Muslim.

Dari kedua narasi yang tebangun di atas, saya melihat sepertinya tidak ada yang merepresentasikan motif yang sebenarnya ketika melihat figur pelaku. Pertama, Syekh Ali Jaber adalah sosok Ulama yang akhir-akhir ini pro kepada kebijakan pemerintah. Jika dinarasikan dan diasumsikan ini adalah perbuatan kelompok pendukung rezim, sungguh fitnah yang sangat keji. Begitu pula sebaliknya, sosok pelaku yang bernama Alvin juga sepertinya tidak menggambarkan personifikasi generasi Ibnu Muljam.

Entah kenapa saya jadi teringat kejadian sekitar lima tahun lalu di sebuah kota di Jawa Timur. Saya pernah menginap di sebuah rumah bekas tempat bunuh diri seorang mahasiswa "baik-baik". Dari latar belakang keluarga yang cukup dan baik-baik saja dalam memenuhi kebutuhannya. Menurut keterangan beberapa tetangga, ternyata remaja ini sedang kecanduan game online. Apa yang dilakukannya seperti disebabkan sebuah pengaruh hipnotis dari aktivitas onlinenya.

Kemudian saya juga teringat tentang sosok Siska Nur Azizah. Seorang mahasiswi semestar 6 di UPI Bandung yang menjadi pelaku teror Mako Brimob tahun 2018 lalu. Berbekal sebilah gunting, ia ditangkap aparat ketika akan melakukan penyerangan. Bagi saya ini terdapat sebuah kemiripan antara Siska dengan Alvin. Keduanya tergolong nekad melampaui kewajaran. Menyerang di sebuah kerumunan yang sebenarnya lebih beresiko terhadap pelaku daripada korbannya. Tidak sepadan dengan senjata "seadanya" dibanding resikonya. Dan dari latar belakang aktivitasnya, keduanya sama-sama intens di dunia daring. Bahkan Siska diketahui telah berbaiat kepada ISIS via online. Dan tidak menutup kemungkinan apa yang dilakukan oleh Alvin juga mendapat perintah dan panduan dari dunia maya.

Ini menjadi PR bersama terutama bagi penegak hukum untuk mengurai kasus ini. Jangan sampai "ujung-ujungnya pelakunya orang gila" menjadi stigma terhadap kejadian-kejadian serupa. Patut diduga ada teknik manipulasi alam bawah sadar kepada para pelakunya. Dan ini bisa dimainkan di kubu mana saja sebagai sarana adu domba untuk memelihara konflik di negeri ini. Seperti sebuah pendulum, ada yang diberi peran menyerang simbol Agama, ada juga yang diberi tugas menyerang simbol Negara. Tujuannya untuk menempatkan Negara dan Agama berada pada kutub yang berbeda dan saling menegasi antar keduanya. Dan teknik memanipulasi alam bawah sadar para martir ini bisa dinamakan dengan Hypnoterorist. Yaitu teknik Hipnotis yang bisa membentuk seseorang menjadi Teroris. Dan ini bisa ditempatkan dimana saja sesuai dengan kemauan Sang Mastermind.

Waspadalah!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Tuesday, September 15, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: