Hutang Arab Saudi

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Dalam 10 tahun belakangan ini saja total hutang Arab Saudi mencapai SAR 316,50 atau setara dengan Rp. 1225 Triliun. Bandingkan dengan Indonesia yang berhutang sejak negeri merdeka mencapai Rp. 4000 triliun dengan populasi 8 kali dari penduduk Saudi. Dengan kondisi harga minyak yang ada di perkirakan hutang Saudi sampai dengan tahun 2020 akan mencapai USD 255 miliar atau setara dengan Rp. 3400 triliun. Itu sama saja setiap penduduk Saudi punya hutang sebesar Rp. 104 juta. Sangat mengerikan jebakan hutang. Hanya masalah waktu kurs tetap akan di lepas ke pasar. Nasip Saudi akan sama dengan negara yang pernah berjaya karena SDA. Pesta kemelimpahan akan minyak berpuluh puluh tahun justru melahirkan kutukan panjang bagi generasi Saudi selanjutnya..

Suka tidak suka. Kini Saudi masuk dalam jebakan kapitalis. Kerajaan punya cara hebat memastikan hutang terbayar. Caranya ? barang barang akan naik secara lambat tapi pasti. Kenaikan harga itu bukanlah karena factor demand and supply dimana barang sedikit namun permintaan banyak. Bukan !. Kenaikan itu terjadi by design lewat system. Negara terus berhutang untuk hari ini dan karenanya nilai uang tergerus. Para industriawan berhitung harga pokok produksi dengan menghitung nilai uang yang tergerus. Para pedagang berhitung harga pokok penjualan dengan menghitung nilai uang yang tergerus. Para buruh menuntut gaji naik dengan menghitung nilai uang yang tergerus.

Disamping itu , by system tidak ada satupun kegiatan yang bisa tumbuh dan berkembang tanpa hutang. Industriawan butuh hutang untuk memicu produksi. Pedagang perlu hutang untuk menjaga stok barang dan menjamin supply. Karyawan butuh hutang untuk kebebasan berkonsumsi mendapatkan rumah dan kendaraan. Kalau sudah begitu bagaimana mereka bisa berkelit lagi bahwa mereka tidak berhutang. Kehidupan terjerat dalam system berhutang itu. Setiap orang beli barang atau jasa, itu tandanya orang sedang mengansur hutan Negara, hutang industriawan, hutang pedagang. Ingat itu!. Apakah kehidupan seperti ini sehat? Apalagi di negara yang tidak ada demokrasi dan tidak ada transfaransi ? yang selalu bilang Bumi ini milik Allah, agar tidak boleh dipertanyakan soal kemana saja uang utang itu? Yang menyatakan hutang adalah RIBA.?

Saya berharap Saudi Arabia cerdas belajar dari Indonesia yang pernah berjaya karena minyak di era Soeharto akhirnya tumbang. Walau terlambat melakukan restruktur Ekonomi secara revolusioner namun di Era Jokowi , pemerintah Indonesia mampu melakukan restrutur APBN dari konsumsi ke produksi, rasionalisasi sistem birokrasi, deregulasi industry, perdagangan, investasi dan pertambangan, restruktur hutang negara agar porsi hutang kepada rakyat lebih besar di bandingkan hutang kepada asing, membuka seluas mungkin kanal demokrasi agar semakin besar peluang terjadi transfaransi sehingga dapat menekan angka korupsi. Memang resikonya besar. Tentu akan terjadi goncangan politik. Tapi ini harus di lakukan. Kalau tidak , akan bernasip apes seperti Venezuela yang pernah memberi semua rakyat dengan subsidi semua sektor, akhirnya tumbang, karena terjebak dengan program populis. **

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Wednesday, March 22, 2017 - 10:45
Kategori Rubrik: