Humor dalam Agama

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Dalam tradisi kami, agama itu menyediakan segalanya, termasuk menyediakan bahan baku humor, yang tidak ada habisnya. Sampai ada kitab al-Majanin dan al-Majanin al-Uqala, orang-orang 'gila' yang bijaksana.

Coba bulan syawal ikut pengajian Fathul Qarib di KH Adang di Cipulus, ada ratusan humor jenaka yang dikisahkan sepanjang hari selama ngaji dalam 10 hari.

Atau ikut pengajian Ramadhan Habib Muhammad Luthfi seriap pagi. Kisah-kisah lucu yang tidak ada habisnya. Tentu saja bukan menyepelekan atau merendahkan agama, tapi menertawakan praktek-praktek keagamaan yang dilakukan oleh orang pandir, atau jenaka.

Tujuannya agar santri pasaran, posonan tetap antusias tidak jenuh dan tidak ngantuk.

Misalnya, beliau mengisahkan, pada hari jumat menjelang khutbah ada orang Arab lewat ke masjid. Takmir masjid belum mengenal khatib. Orang Arab pedagang minyak tadi di daulat jadi khatib. Karena mereka kita itulah khatib yang mereka tunggu.

Karena tergiur amplop jadi khatib, pedagang minyak mau saja jadi khatib. Saat khutbah dimulai, khatib yang sebenarnya datang.

Dengan gemetar si khatib palsu tadi mengatakan dalam bahasa Arab انا مئاة وانت خمسون (ana miatun wa anta khamsun), (kita bagi hasil saja) saya 100 rupiah dan anda saya kasih 50 rupiah.

Humor semacam ini, bagi orang sekarang akan dianggap menistakan orang Arab.

Sekarang kita sudah terlalu serius dalam beragama. Sampai sedikit-sedikit mencap penodaan atau penistaan. Karena yang dipahami agama yang dangkal. Bukan Islam yang kita kenal.

(Kutipan dibawah dari bu Nyai Titi Razak)

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, January 10, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: