Hujatan untuk Seleb yang Hamil Diluar Nikah

Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

Saya geleng-geleng kepala melihat komen-komen tentang pasangan seleb yang menikah karena si perempuan telah hamil. Komen hujatan tidak mengherankan saya, meski selalu berhasil membuat sebal. Komen yang membuat saya terhenyak adalah komen berbasis keyakinan tertentu. Dikatakannya, bahwa si ayah biologis tidak berhak menjadi ayah bayi secara hukum, dan si bayi kelak tidak berhak akan warisan si ayah biologis.

Saya terhenyak akan pernyataan yang bagi saya sangat tidak manusiawi itu. Betapa buta hatinya. Kita hidup berdampingan dengan jutaan orang yang suka rela mengasuh bayi bukan anak kandung dengan penuh kasih layaknya anak sendiri. Lha kok ada pandangan yang menghalangi ayah biologis untuk mengakui anaknya secara hukum. Sementara banyak orang sudah bisa berbagi cinta kasih murni karena kemanusiaan, ternyata sebagian kita masih dihambat kasih sayangnya untuk hal-hal seperti darah, ideologi, ataupun materi.

Membicarakan warisan untuk bayi yang lahir saja belum, terus terang bagi saya memuakkan. Keyakinan, lebih lanjut lagi spiritual adalah sesuatu yang harusnya melampaui masalah-masalah materi. Menakut-nakuti tentang kehilangan materi, rasanya tidak pas digunakan untuk khotbah berdasar keyakinan. Sebab keyakinan selalu diidentikkan dengan kedamaian di hati, yang rasanya sulit didapat bagi seorang pemburu materi. Saya pun tertawa ngakak, membayangkan bila ternyata si ayah kelak miskin dan tak mampu mewarisi apa-apa. Bagaimana jika ada yang ternyata mengikuti aturan itu hanya karena dalih materi, tentu dia nangis bombay mendapati ternyata keyakinan tak memberi imbalan materi.

Entahlah, mungkin saya yang terlalu ribet dan kritis pada keyakinan. Tidakkah saya salah bila menganggap, ada hal-hal yang bisa kita putuskan hanya dengan menggunakan hati (mungkin ini yang disebut nurani) tanpa harus repot mencari rujukan yang kadang justru bertentangan dengan nurani. Bagi saya, perbuatan baik adalah baik, siapa pun yang melakukan. Tak perlu percaya rujukan bahwa kaum ini berbuat baik karena tendensius, kaum itu tidak akan rela sebelum melihat kita hancur. Lupakan rujukan yang mengajak perpecahan itu. Orang baik ada di segala kaum begitu juga orang jahat. Sederhanakan hidup, berspiritual antara lain dengan menggunakan hati.

Seperti juga bayi yang tak minta dilahirkan. Seperti juga semua hewan yang menyayangi semua anaknya, ada dan tak ada pernikahan. Kelahiran adalah sesuatu yang perlu kita rayakan. Tak ada hal buruk mengenai kelahiran. Tak perlu juga ada perbedaan terhadap latar belakang kelahiran seseorang. Tak ada anak yang lahir dari maksiat. Saya percaya, saat kita berhenti menghujat, saat itu tak akan ada lagi orang tua yang lari dari tanggung jawabnya. Tak adalagi anak yang terbuang.

Bahwa kelahiran yang tak direncanakan berpotensi menjadikan kehidupan anak tidak sejahtera dan tak bahagia, yang perlu disadari adalah bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab dan menerima konsekuensi perbuatannya. Bukan menakut-nakuti dan lari dari sesuatu yang telah terjadi.

Gunakan hati...

(Sumber: Facebook Vika Klaretha D)

Saturday, July 15, 2017 - 00:45
Kategori Rubrik: