Hujan Emas Asian Games, Bukti Komitmen Jokowi Majukan Prestasi Olahraga

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Coretan saya 2 September 2014. Sebelum ASIAN GAMES Incheon Korea

Ada beberapa concern di awal rezim Jokowi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Lihat hasil ASIAN GAMES 2014, SEA GAMES 2015 dan 2017 

Dan atlet Taiwan merebut emas badminton 

**

Carolina Marin, pebulutangkis Spanyol pertama yang menjadi juara dunia. Mengalahkan Li Xuerui, tunggal putri nmr satu dunia saat ini.

Marin, menurut Susi Susanti berteknik biasa saja. Tentu dia bisa bermain badminton dgn baik, di atas rata2), seperti dirinya (Susi) di masa lalu.

14 bulan yang lalu, dia berlatih di Cipayung untuk persiapan kejuaraan dunia badminton 2013. Alasannya, ada Susi Susanti yang masih melatih tunggal putri kita. Mental dan semangat tinggi membuat marin berhasil juara dunia. Itu yang terlihat tak dimiliki pebulutangkis kita era kini. Padahal pemain seperti Firdasari berteknik mumpuni melebihi Susi Susanti.

Tentu juga nihilnya gelar juara dunia (dibanding 2 gelar tahun lalu) adalah karena absennya dua ganda juara bertahan kita. Tapi, itu tak bisa jadi alasan. Lihat Cina, pemainnya silih brganti juara.

Spanyol, apa yang dilakukan pemerintah negara itu sejak puluhan lalu secara konsisten, sehingga dunia olahraganya sekuat AS, Cina, Rusia dan Inggris dalam event tunggal? Memang dalam multi event seperti olimpiade, Spanyol kadang jg ga masuk 5 besar dunia, tapi gelar juara dunia Tenis, Motorsport, Sepakbola, Futsal, Voli dan Basket membuktikan mereka punya sesuatu.

Setelah sdikit meriset, kunci utamanya adalah iklim olahraga yang trcipta oleh pemdanya dan sekolah. Idem dgn cara yg dipakai di AS, Inggris, Jerman, Rusia atau Cina dan Jepang di Asia. Salah satunya lagi adalah memelihara fasilitas olahraga dasar (Atletik, sepakbola, GOR multi cabang) dengan sangat baik. Anggaran negara untuk pendidikan trnyata diserap juga untuk alokasi penciptaan atlet berkualitas di bangku sekolah

Setelah mendapat posisi kedua dalam Asia Games 1962 (saat itu kita tuan rumah), kita tak pernah bisa lagi mengulanginya. Bahkan, di zaman Soeharto, kita cukup puas dengan juara umum SEA GAMES saja plus juara dunia badminton, yang harus diakui popularitasnya mash rendah di Eropa dan Amerika. Sehingga sempat akan dihapus di Olimpiade karena medali emas lebih sering diraih atlet Cina.

Kompleks olahraga besar? 
Kita hanya punya dua, Senayan dan Jakabring (Palembang).

Senayan (lebih dari 1000 Ha) bahkan sekarang 3/4 nya dipakai untuk area komersil. Hotel, Mal besar dan apartemen atau kondominium bertebaran. Hotel Atlet bahkan sudah tak ditempati lagi oleh atlet pelatnas secara massal karena tidak kondusif lagi (atlet malah sering nge-Mal).

Jakabaring? 
Masih berdiri megah dan terlihat dirawat, tapi beraroma korupsi di beberapa pembangunan gedungnya (misalnya Wisma Atlet).

Punya pemimpin yang hobi olahraga ternyata tidak cukup. Dia harus bervisi besar dan jauh ke depan seperti Soekarno. Soeharto jago main bola dan golf. Bgitu juga dengan Gus Dur yang sangat jago bermain bola saat muda. SBY bahkan pemain voli yang handal. Jokowi? Dia pendaki gunung yang hebat plus mampu bermain bola.

Sekolah dan universitas harus menjadi sumber utama atlet andalan bangsa. beasiswa saja tidak cukup. IKLIM dan DANA besar dibutuhkan untuk membuat atlet2 andalan lahir.

Bagaimana bisa untuk Asian Games 2014 hanya sekitar 200M untuk prsiapan atlet. itupun targetnya 9 emas. Ada2 saja. Saya perkirakan maksimal kita hanya akan peroleh 5 emas. Itu maksimal. Dari badminton (2), Boling (1), angkat besi (1) dan Karate atau panahan (1)

Sebagai pendukung Jokowi, terus terang, saya tidak yakin jargon Revolusi mental akan banyak menyentuh olahraga dalam sistem pendidikan kita di zaman Jokowi. Periode pertama ini Jokowi akan lebih fokus untuk meraih kedaulatan pangan dan membangun infrastruktur. Plus membenahi perlindungan WNI dalam sektor kesehatan dan pendidikan.

Baru di priode kedua (itupun kalo terpilih lagi), Jokowi akan punya waktu membangun visi besar membuat nama Indoensia kembali harum di dunia internasional di bidang olahraga. Setidaknya menjadi peringkat 5 Asia dalam Asian games dan dengan mulus bisa juara Sea Games lagi tanpa harus jd tuan rumah terlebih dahulu 

Jadi? 
Ya kita berdoa sekenceng2nya deh untuk perjuangan para atlet di Asian Games 2014. jangan sampai keberhasilan Marin sebagai juara dunia juga akan diiikuti atlet Taiwan atau India misalnya sebagai peraih emas badminton Asian games. Malu

Apapun,
Hiduplah Indonesia Raya!

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Sunday, September 2, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: