HTI Menyusup Dalam Dukungan Pada Capres

ilustrasi

Oleh : Rowie Sujudi

Hizbut Tahrir ingin mewujudkan khilafah. Dalam konteks Indonesia itu sama artinya membubarkan NKRI. Dengan segala konsepsinya, mendirikan khilafah berarti mengubah konstitusi dan dasar negara.

Merubah konstitusi UUD 1945 pada tingkat yg sangat ekstrem sekalipun mustahil bisa dilakukan, sebab konstitusi kita dengan jelas menyebut bahwa mengubah Pembukaan UUD 1945 sama artinya membubarkan negara. Begitu juga bentuk NKRI yg sudah final dan tidak bisa diganggu gugat, sebagaimanatersebut dalam UUD 1945.

Di tingkat internasional, negara-negara muslim banyak yg menyatakan Hizbut Tahrir sebagai organisasi terlarang. Sebut saja Saudi Arabia, Mesir, Turki, Tunisia, Pakistan, Bangladesh, bahkan Yordania - negara tempat organisasi ini dibesarkan. Catatan, tujuh negara Islam di timur tengah juga luluh lantak oleh gerakan radikalisme pengusung khilafah. Yg lucu lagi, pusat Hizbut Tahrir berada di negara demokrasi - Inggris. Paradoxnya mereka menolak keras demokrasi, di saat yg sama berlindung di ketiak demokrasi.

Atas dasar ketidakmungkinan dan kelucuan itu, lebih fair kiranya HTI mendeklarasikan diri menjadi partai politik yg siap bertarung dan berkompetisi di panggung nasional untuk membuktikan apakah gagasan mereka diterima atau ditolak rakyat Indonesia. Tapi sebelum kesana, ada baiknya HTI dan antek-anteknya belajar konsisten untuk menjadi pejuang khilafah secara kaffah.

Pertama. Tidak sekedar anti upacara, anti bendera, anti demokrasi, dan anti pemilu. Tapi harusnya mereka juga menolak apapun yg berhubungan dengan negara, seperti infrastruktur, subsidi, KTP, Surat Kelahiran, Surat Nikah, dan sebagainya.

Kedua. Indonesia sudah kepalang dianggap negara kafir dengan sistem pemerintahan demokrasi laknatullah. Maka satu-satunya cara menegakkan khilafah secara kaffah mereka harus keluar. Buat apa tinggal di negara thogut - negara yg mereka haramkan kedaulatannya?

Apakah mereka bisa? Kita lihat, sejauh mana mereka akan terus bergandengan dengan Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Ansharut Tauhid, Jemaah Islamiyah. Sekuat apa mereka akan terus mendompleng oposisi untuk menyelundupkan payung besar menuju terwujudnya khilafah.

Meski sudah dibubarkan, sel-sel HTI masih hidup. HTI kini berubah nama. Mereka memang tidak berafiliasi secara resmi dan terang-terangan menyatakan diri. Terkecuali menyelinap menjadi penunggang diam-diam atau berdalih dakwah sambil mengompori perang saudara dengan membuat keributan dan kerusuhan di arena kontestasi. Lempar batu sembunyi tangan.

Bajingan...!

Sumber : Status Facebook Rowie Sujudi

Tuesday, March 26, 2019 - 07:00
Kategori Rubrik: