HTI Lagi

ilustrasi

Oleh : Agus Setyabudi

Beberapa hari lalu, menjelang tengah malam, ada seorang bapak setengah baya yang menyapa saya dari dalam sebuah rumah. Karena kenal dan sejak sebulanan selepas pulang Jawa belum pernah ketemu, saya pun beranjak ke arahnya. Di ambang pintu rumah, si pemilik rumah ternyata ada di samping bapak yang menyapa saya tadi. Tak hanya si pemilik rumah, ada seorang pemuda juga.

Rumah itu memang biasa jadi tempat berkumpul orang-orang. Pernah, saya diajak rembukan oleh bapak si pemilik rumah agar membuat kumpul-kumpul itu ada suasana lain di kali tempo. Yaitu dengan membuat Tahlilan atau Yasinan rutin setiap seminggu atau berapa hari sekali. Boleh juga nanti diisi dengan ceramah atau mengaji kitab. Tapi sayang, rencana bagus itu keburuan oleh saya yang keburu pulang ke Jawa beberapa bulan yang lalu. Dan hingga saat ini pun belum ada pembicaraan lagi tentang hal tersebut.

Di tengah-tengah obrolan ringan, seorang pemuda yang sedari tadi hanya diam menyimak, tiba-tiba melemparkan sebuah pertanyaan kepada si pemilik rumah, "tidak ingin belajar memanah, pak...?" Kedua bapak setengah baya itu pun hanya diam dan tersenyum simpul.

"Gara-gara orang-orang melupakan memanah, jadinya seperti di Wamena. Lihat, banyak orang tewas karena panah. Kalau kita mau belajar, kita tidak akan bernasib seperti itu," urainya panjang lebar.

"Mending ketapel. Bikinnya gampang, pelurunya mudah dicari," jawab bapak yang menyapa saya tadi, yang terlihat jelas asal-asalan menanggapi.

Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang bapak setengah baya. Sementara itu, pemuda yang berpakaian serba hitam itu masih berbicara banyak. Semuanya, termasuk saya, diam menyimak. Dan dengan pasti, saya sudah tahu kemana arah pembicaraan pemuda itu.

Ketika ia berbicara, "rakyat Indonesia tidak akan sejahtera kalau negara ini tidak menerapkan hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur'an," telinga saya terasa gatal, maka saya pun coba menimpalinya. Ketika hendak mulai menimpali, ia bilang, "jangan dipotong dulu, mas Agus," batin saya pun berucap, "kok tau nama saya?" Padahal baru pertama kali ini saya berjumpa dengannya. Saya pun manut menyimaknya.

Ketika ia hendak meneruskan "ceramahnya", bapak yang menyapa saya tadi pamit undur diri mau pulang. Bapak yang baru datang pun ikut-ikutan. Sementara bapak si pemilik rumah langsung beranjak ke belakang entah ngapain.

Walhasil, di ruang tamu itu hanya ada saya dan pemuda yang dalam obrolan selanjutnya dengan terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah HTI. Gaya bahasa dan gerak tubuhnya, apalagi topi HTI yang dipakai di malam menjelang dini hari, menunjukkan sekali betapa bangganya ia sebagai HTI.

Setelah "ceramahnya" sudah tiba pada titik, saya pun hanya menimpali, "saya tidak setuju dengan ide Khilafah, tidak lain dan tidak bukan karena saya ikut para ulama' dan kiai. Beliau-beliau jauh lebih paham tentang hal itu daripada saya, apalagi sampean."

Bersamaan dengan itu, si pemilik rumah muncul, tapi nampak sekali ia tidak ingin ikut nimbrung. Saya pun menggunakan kesempatan itu untuk pamit undur diri. Selain sepertinya percuma meladeni orang model begini, waktu pun sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari.

"Kapan-kapan lah, mas Agus, kita diskusi lagi. Tapi jangan seperti itu. Saya tau mas Agus lebih tau soal agama daripada saya," ajak pemuda itu.

"Wah, sampean berlebihan. Tapi, kalau benar sampean percaya kalau saya lebih tau soal agama, kenapa sampean gak manut saya? Hahaha...." si bapak pemilik rumah, yang mengantar sampai ambang pintu, ikut tertawa. Sementara pemuda itu hanya diam dan ia berkata kapan-kapan ingin ngobrol lagi.

***

"Siapa orang semalam itu, pak? Kok saya baru melihatnya" tanya saya pada bapak si pemilik rumah, yang hari esoknya main ke tempat saya.

"Halah, orang edan itu. Gak usah ditanggepi. Sok Islami. Sok paling bener sendiri. Orang-orang sudah paham itu. Makanya pada kabur, to..!! hahaha...."

***

Ormas HTI memang sudah bubar, tapi orang-orangnya masih terus gerilya. Seandainya pemerintahan yang baru, yang sebentar lagi akan dilantik ini, membuat program rehabilitasi bagi orang-orang HTI, kayaknya bagus. Nanti pemikiran mereka bisa diinstal ulang di tempat rehabilitasi itu.

Sumber : Agus Setyabudi

Sunday, October 20, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: