HTI Lagi

ilustrasi

Oleh : Agus Setyabudi

Pagi-pagi ada seseorang yang mengetuk-ketuk pintu yang kemudian diikuti dengan ulukan salam. Sembari menjawab, saya bukakan pintu. Berdiri seorang pemuda berhelm merah di depan saya. "Assalamu'alaikum, pak ustadz," katanya mengulang salam sambil mengulurkan tangannya.

Karena pagi-pagi enaknya ngopi, saya ajak dia masuk. Tapi ia tak mau. Katanya sebentar saja, lantaran buru-buru. Dibukanya helm merahnya. Masih di depan pintu, lalu ia sampaikan maksud kedatangannya.

"Kau punya topi bagus sekali," ucap saya melihat topinya.

"Hehehe... iya, pak ustadz. Ada tulisannya..."

"Kau lepas dan kau tinggal di sini sudah kau punya topi itu,"

"Baru, kenapa?"

"Itu tulisannya bagus. Tapi sekarang ini sudah terlanjur dijadikan lambang teroris-teroris. Kalau dilihat polisi, bisa ditangkap kau nanti," bujuk saya.

Walhasil, dilepaslah topi itu dan ditinggal di tempat saya.
___________________

Di hari-hari lebaran beberapa waktu yang lalu, ada salah seorang yang "badan" ke tempat saya yang berbicara, "Kenapa mesti harus ikut aturan negara? Yang buat, kan, manusia? Bukan Alloh?"

Kepadanya saya bertanya balik, "Memegang istri itu membatalkan wudlu' tidak?"

Setelah dia bilang "batal", saya bertanya lagi, "Siapa yang bilang membatalkan? Alloh atau manusia?"
___________________

"Kalau yang thoghut wajib dibunuh, kau berani nggak membunuh semua yang ada di sini? Kau bilang banyak ibu-ibu di sini yang setuju dengan Khilafah, dasarnya apa? Saya tau dasarmu. Absen pengajian Majlis Ta'lim, kan? Mereka absen itu bukan berarti setuju dengan Khilafah. Karena mereka hadir di pengajian Majlis Ta'lim itulah yang membuat mereka mengisi absen kehadiran," cerita salah seorang kenalan di Sorong sini yang mendebat tetangganya yang HTI pada suatu hari sebelum Romadlon kemarin.

"Agamamu apa?" tanya seorang lelaki setengah baya pada saya. Dan tentu saja saya menjawabnya "Islam". Obrolan yang awalnya mirip interview itu pun berlanjut dengan protes kerasnya terhadap UUD 45 dan Pancasila.

Dan kengeyelan saya terhadap segala argumennya itu, akhirnya memaksanya harus pulang terlebih dulu untuk kemudian datang kembali dengan membawa beberapa buku. Diantaranya ada karangan Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri HT. Karena disuruh membawa pulang buku-buku itu, akhirnya saya pun membawanya satu.

Kejadian yang terakhir ini kalau tidak salah terjadi di tahun 2014, dimana saat-saat masih sering ngopi bersama Agus AhmadThoyyib dan Gombal Amoh.
____________________

HTI memang sudah dinyatakan bubar. Tapi orang-orangnya masih berkeliaran. Kasihan mereka yang awam. Yang hanya bisa diam ketika dihadapkan dengan ayat-ayat Tuhan. Kemudian turut dalam gegap gempita platonisme Khilafah yang utopian. Simbol, lambang dan atribut yang digunakannya pun bisa membuat orang kesemsem dan lupa kenyataan.

Sumber : Status Facebook Agus Setyabudi

Monday, June 24, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: