HTI - Khilafis Dan Rombongan

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Minggu sore kemaren, saya beruntung bisa hadir dalam satu diskusi kelompok kecil. Di sebuah pesantren di Bekasi. Markas para Avangers 

Nara sumber utama (Kiai) M Kholid Syeirazi yang mengawali diskusi dengan kalimat2 bernada guyon namun pas sekali. Khas wong NU. Beliau memang Sekjen Ikatan Sarjana NU. Jadi pakai kopiah, peci hitam, juga. Tapi minus sarung.

Beliau ini sebenarnya biasa berkutat dengan masalah migas (minyak dan gas bumi). Penulis buku 'serius' juga. Yang baru dari Gramedia, 'Tata Kelola Migas Merah Putih'.

Buku lainnya, 'Dibawah Bendera Asing', di buku online 'goodreads', petik point 4.4 dari nilai 'sempurna'

Kiai Kholid katakan, sebenarnya sudah males bahas HTI dan khilafah. Lebih suka bicara Intelegensi Buatan, Robot, Cara Eksplorasi Migas baru, Revolusi Industri 4.0, . . . .

Itu topik bahasan tahun 1945 ! Saat para 'Founding Father' eyel2an tentukan dasar dan bentuk negeri ini.

Bahkan Para Ulama NU tahun 1936 sudah sepakat di Banjarmasin untuk 'case closed'. Negeri ini adalah Darul Islam. Negeri Islam. Meskipun waktu itu masih dijajah Belanda.

Namun ya begitu, para khilafis ini selalu cari alasan. Pakai dalil2 hadits meskipun tak shahih. Bahkan ayat Qur'an pun di pas2 kan, di cocok2kan. Dengan apa saja yang diiinginkan.

Aneh2 saja 'fatwa' yang mereka keluarkan. 'Panduan orang Islam itu Quran dan hadits. Bukan akal', kata seorang 'ngustat' mereka.

Kita, umat Muslim, amat paham syarat orang jadi 'obyek-subyek' hukum Islam itu harus 'ber-akal'. Jadi, anak kecil, orang tidur, orang lupa, dan orang gila, ndak termasuk.

Si ngustat yang rilis 'fatwa', tepatnya omong 'ini' termasuk yang mana ? Anak kecil pasti bukan. Orang sedang tidur apalagi. Orang Lupa juga bukan, wong ndak diralat lagi. Jadi cuma tersisa satu kategori, yang 'itu' !

Ada yang lebih 'lucu' dan 'parah'. Menggelikan 'soro' ! Sak enak udêl e !

Mereka klaim negara kita ini, Indonesia, bukan negara Islam. Dus, semua produk kebijakan dan hukum tidak mereka akui. Ndak laku buat mereka. Dan berlaku hukum negara 'darurat'. Negara dalam keadaan darurat perang.

Jadi mereka merasa bole2 saja bohong. Bikin hoax. Merampas harta orang lain. Bayar pajak ? Apalagi ini ! Meski tiap hari riwa-riwi diatas jalan, nyalakan lampu, minum air PDAM dan lain-lain.yang disediakan, langsung atau tidak, oleh pemerintah yang akan mereka 'gulingkan'.

Munafik dong ? Ya ndak papa. Darurat kok ! Ingat tidak beberapa tahun yang lalu, partai Islam yang 'itu' dukung Wakil Walikota non Muslim di Solo.

Panjang alasannya. Pakai 'dalil' juga. Ternyata di Jakarta ndak laku. Yang dipakai Al-Maidah ayat 51. Munafik ? Ndak. Darurat kok !

Jadi ndak aneh juga para petinggi partai 'itu' tersangkut korupsi. Termasuk 'simpatisan2' nya juga di'cokok' KPK. Dosa ? Ya ndak juga. Boleh saja ngrampok. Darurat kok !

Tipu2 saudara sendiri, jemaah 'haji-umroh' ? Bole saja meski obyek yang di-tipu2 bukan 'orang pemerintah' bukan 'toghut'.

Ndak aneh juga, jika 'para penggemar' yang 'kroco2' pun ikut bikin 'fatwa' di medsos yang 'lucu2' pula. Misal, 'Judi ndak papa asal hasilnya untuk sedekah' . . . 

Dosa ? Ya ndak lah ! Darurat kok !

Jadi ingat ulah beberapa rekan yang termasuk 'partisan'. Dulu kalau foto pakai jari telunjuk, sekarang pose james bond, 'nembak' 

Nyambangi saya. Silaturahim, kata mereka. Masuk ruang kantor ucap 'Assalamualaikum'. Sembahyang 'Lohor-Ashar' di 'langgar' kecil kantor saya.

Lalu omong pinjam uang. Buat dagang. Ya sudah saya 'iya' kan. Syarat dan ketentuan sesuai 'syar-i'. Wong kedua pihak, saya dan mereka, di KTP tertulis Islam.

Waktu ditagih bayar utang, muter2. Bukan keluarkan uang, tapi alasan dan 'dalil2'. Sampai sekarang posisi 'utang' masih 'nylêmpit' di antara 'kitab2' rujukan 'fatwa'nya.

Nipu pol ! Mbujuk soro ! Dosa ? Ya ndak lah ! Darurat kok !

Aneh2 memang. Lucu2. Kadang malah bikin miris. Menyeramkan. Menakutkan.

Mau 'tegakkan' negeri khilafah kok di negara Indonesia. Harusnya di Saudi, karena minimal punya Ka'bah. Atau di Turki, mereka asli punya pengalaman, karena turunan Utsmaniyah. Atau Yaman negeri penuh berkah yang disebut dalam Quran dan Hadits.

Kalau Indonesia ? Ndak punya Ka'bah, Monas adanya. Ndak ada disebut Indonesia dalam Quran, nama itu baru 'sah' muncul tahun 1928. Sumpah Pemuda.

Kalau khalifah memang dulu ada. Karena Pangeran Diponegoro dan beberapa raja Jawa pakai gelar 'Khalifatullah' . . . .

Ah ! Sebodo amat ! Kita rebut saja ! Ini 'jihat'. Jika mati dalam 'berjihat' berarti 'sangit' diganjar 'sorga' !

Kamu ke surga ? Kami manusia yang lain, termasuk Muslim yg lain, termasuk ulama yang lain, dimasukkan ke mana ? 

Rumah, sekolah, pasar tempat kami dagang, tempat ibadah termasuk mesjid, mungkin akan luluh-lantak. Seperti banyak contoh negeri2 di timur-tengah sana.

Mereka pasti juga ndak peduli !

Karena mesjid cuma berfungsi bagai kamar mandi dan kamar tidur. Sembahyang-nya di lapangan, Monas. Padahal seringkali mereka teriak, 'Lelaki sejati sholat di mesjid !'

Bahkan Laki-perempuan pun bisa sholat bareng2. Padahal, harusnya boleh begitu cuma di Masjidil Haram. Mekah bukan Jakarta . . . .

Ndak papa ? Ok2 saja ! Wong darurat kok !

Ibadah para Sahabat tidak ada apa2nya dibanding 'mereka'. Nabi Muhammad SAW merujuk 'satu kaum' yang kelak akan muncul. Bacaan Qurannya sangat baik dan merdu. Namun tidak melebihi kerongkongannya.

Terlalu kagum atas pendapat mereka sendiri. Jika melihat Imam yg mereka pandang salah dalam menghukum, segera mereka kafirkan.

Suka berlebihan dalam ibadah, hingga nampak dalam kesehariannya. Seperti orang kurang tidur atau tanda2 fisik lainnya.

Suka berprasangka buruk, suka mencela, suka menganggap sesat Muslim lainnya.

Dulu mereka pun meninggalkan Sayyidina Ali karena hentikan perang dan mau berdamai dgn saudara Muslim lainnya. Dan juga karena tidak menghukum Aisyah, istri Nabi, yang telah berperang melawannnya namun sangat dihormatinya.

Apakah 'mereka', para khilafis termasuk 'kaum' yang disebut Nabi dan yang dulu memisahkan diri dari Ali sebab menghormati istri Nabi, Ibu Umat Muslim ? Kaum 'itu' ?

Yo embuh ! Tapi kayaknya mirip-mirip ya . . . .

Nabi berpesan, 'Jangan berontak pada penguasa selagi mereka masih menegakkan sholat diantara kamu' (Riwayat Muslim)

Beliau juga bersabda, 'Jika ada 2 khalifah yg dibaiat, bunuhlah yg terakhir' (Riwayat Muslim). Pemerintah yang sekarang sudah lebih dulu kita baiat. Oleh 50 persen lebih rakyatnya.

Jadi ? Bagaimana Pak 'Presiden' Jokowi ?

Bapak tentu masih sibuk bikin jembatan dan jalan. Sibuk buat waduk dan bendungan. Bikin murah ongkos berobat dan sekolah. Perjelas status tanah dgn sertifikasi. Bangun 'tol laut'. Setarakan harga dan 'daya hidup' rakyat di seluruh pelosok negeri . . . .

Panjênêngan minta saja pada pak Wiranto. Nanti beliau juga pasti akan dibantu pak Tito, Kapolri, pak Hadi yang panglima TNI.

Kita 'ikuti' hadits Nabi itu. Sunnah Rasul. Shahih kok. Kita 'pithês' saja mereka !

Lho ?! Ndak dosa ?! Ya ndak ! Darurat kok !

Kelapa Gading, Jakarta Utara
Rabu Wage, 05 Desember 2018

Note :
Silakan baca dulu buku Gus Nader. 'Islam Yes, Khilafah No !' Jilid I dan II. Baru berangkat ngaji . . 

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, December 5, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: