HTI Dan Fraser Anning

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

HTI dan Fraser Anning sama-sama bisa ada di negara masing-masing karena mereka memanfaatkan prinsip demokrasi di negara masing-masing;

HTI dan Fraser Anning sama-sama konsisten dengan ujaran-ujaran kebencian yang menunjukkan superioritas mayoritas terhadap kelompok yang dianggap minoritas di negara masing-masing;

HTI dan Fraser Anning sama-sama punya pendukung yang fanatik, yang mendukung mereka dengan suara dan dana sehingga mereka bisa tetap eksis, walau dengan cara berganti-ganti baju;

HTI dan Fraser Anning sama-sama memprovokasi kebencian dan rasisme dan bekerja sama dengan orang atau kelompok yang punya narasi yang sama dengan mereka;

HTI dan Fraser Anning sama-sama merasa bahwa mereka tidak berbuat sesuatu yang salah, walaupun ujaran kebencian mereka itu bisa dipakai sebagai pembenaran untuk melakukan persekusi, serangan bahkan teror bagi kelompok yang menurut mereka minoritas di negara masing-masing;

Banyak orang yang tidak sepaham dengan HTI dan Fraser Anning, tapi mereka tidak berani untuk mengambil tindakan lebih karena mereka punya identitas yang sama.

Banyak orang yang tidak berani untuk melawan HTI dan Fraser Anning karena mereka merasa bahwa mereka itu bukan target dari provokasi rasis dan ujaran kebencian tadi;

Banyak orang akan bersorak, bergembira disaat ada orang atau kelompok yang berani melawan HTI dan Fraser Anning secara terbuka. Tapi mereka diam disaat tidak ada orang yang memulainya. Mereka takut akan kedudukan mereka, akan posisi mereka, akan reputasi mereka kalau mereka bersuara dan melawan secara terbuka. Mereka hanya bersembunyi di balik ketiak orang-orang atau kelompok yang berani.

Akan tetapi banyak orang yang akan bersuara dan menunjukkan keberanian kolektif saat ada serangan teror dimana ada nyawa yang melayang atau darah yang tertumpah. Tapi terkadang, narasi duka mereka itu adalah tentang mereka, tapi bukan tentang korban, padahal duka mereka itu sementara, tapi duka korban itu sepanjang hayat.

Solidaritas ini biasanya sesaat, 1 hari, paling lama 1 minggu. Setelah itu maka orang akan melupakan nyawa-nyawa yang melayang itu, karena mereka kembali ke kesibukan masing-masing, dan kemudian permisif lagi terhadap aksi-aksi provokatif ala HTI dan Fraser Anning.

Apakah masjid-masjid di Christchurch akan dijaga tiap minggu oleh orang Christchurch? Atau gereja-gereja akan dijaga tiap minggu pasca serangan teror? Tentu tidak!

Ummat Muslim di Christchurch pun tidak berharap akan dijaga tiap minggu oleh masyarakat sekitar, atau ummat Kristen di Indonesia pun tidak berharap dijaga tiap minggu oleh masyarakat sekitar. Itu bukan kebebasan yang dijamin oleh negara, sebaliknya, itu adalah simbol 'pengasihan' mayoritas terhadap minoritas.

Kelompok yang dianggap minoritas itu tidak ingin dikasihani. Mereka cuma ingin dihargai sama seperti kelompok yang merasa diri mereka superior alias mayoritas karena jumlah, karena angka.

Yang diharapkan cuman satu: Jangan toleran terhadap intoleransi. Itu saja!

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Tuesday, March 19, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: