HTI dan Cinta Palsunya Pada Pancasila

ilustrasi

Oleh : Abdulloh Faizin

Sebuah syair mengungkapkan:

لماذا أُحبُّكِ لا تسأليني فليسَ لديَّ الخيارُ

“Jangan bertanya kepadaku mengapa kucintaimu, sebab aku tak punya pilihan (Nizar Qabbani)

Cinta itu daur kasih sayang yang dibangun dari istikamah. Cinta itu mengalir ibarat air, merendah dengan indah. Cinta membawa aura kelembutan dan sentuhan nurani yang dalam melewati batas dan tak terbatas bahkan melalui kasih sayang dan ketulusan serta rona ketakberhinggaan.

Cinta itu fakta dan realita, bukan kebohongan dan artikulasi suara labial dental kata kata kasar yang terpental tanpa keindahan lalu tak bermental. Cinta tidak hanya bersuara mendesis tapi tak klimaks dalam lezat. Cinta itu tak seperti jeritan jeritan burung yang ganas memburu mangsa di antara tebing lalu dengan congkaknya mengangkasa.

Pun cintaku kepada Pancasila yang tak seperti cinta pura-pura Hizbut Tahrir Indonesia [HTI] kepada Pancasila. Kepalsuan cinta yang dipertontonkan pada demo kemarin hanya taqiyyah semata. Sungguhpun mereka merasa berjuang untuk meninggikan Pancasila, padahal rekam jejak anti-Pancasila mereka sudah dimafhumi khalayak ramai.

Kepalsuan itu sudah kau jelaskan kepada kita bertahun-tahun lamanya, bahwa Pancasila selama ini hanya kau tahbiskan sebagai ideologi thāghūt. Pancasila kau anggap sampah bertahun-tahun ini.

Cinta palsumu kepada Pancasila tak seperti dibayangkan orang layaknya kisah Romeo dan Juliet, Rama kepada Sinta, atau Amrul Kais kepada Laila. Cinta yang kau pertontonkan kemarin itu membunuh sakralitas cinta. Arti sebenar-benar cinta tak pernah kau tampakkkan. Ini pseudo cinta. Cintamu sungguh buram seburam air keruh.

Jika saat itu kau mencintai khilafah, mengapa hari ini kau mendadak cinta Pancasila. Bagiku itu sebuah taqiyyah dan kemunafikan yang luar biasa.

Jadi, sudahi kepalsuan cintamu pada Pancasila. Hakikat dan sumpah serapahmu kepada Pancasila sudah kau bunyikan lantang bertahun-tahun di Indonesia. Sejatinya kau pembeci Pancasila. Kalau engkau ingin belajar tentang mencintai Pancasila, belajarlah dari para kiai dan ulama pendiri bangsa. Belajarlah kepada NU dan Muhammadiyah cara mencintai Pancasila dengan baik.

Jika engkau sudah belajar dan mempraktikannya, maka kami akan menguji ketulusanmu. Apakah kamu benar-benar tulus mencinta atau hanya tawaran kepalsuan yang sudah biasa kau perlihatkan kepadaku selama ini.

Sumber : Arrahim.id

Wednesday, July 1, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: