Hormat Bendera, Antara Nasionalisme dan Agama

Ilustrasi

Oleh : Ari Wibowo

Tuhan, tetangga di kampungku sudah banyak yang memasang umbul umbul dan bendera merah putih untuk menyongsong hari kemerdekaan RI. Tapi saya belum melakukannya.

"Gile loe, Ndro. Kenapa kamu masih ragu untuk memasang bendera merah putih di tiang depan rumahmu?"

Iya, Tuhan. Saya takut memasang bendera dan menghormati bendera, karena tak ingin membuat Tuhan cemburu. Hanya Engkaulah yang akan kuberi sembah dan hormat.

"Gile loe, Ndro. Emangnya gue Tuhan apaan? Aku memang pencemburu, jika manusia sepertimu punya ilah ilah lain dan berhala berhala yang kamu jadikan sebagai 'tuhan' didalam hidupmu. Jika manusia menyembah pohon atau gunung, pasti Aku murka. Tapi menghormati bendera tidak kuanggap sebagai menyembah bendera. Aku jauh lebih besar dari sekedar bendera. Tenang aja bro ...."

Apakah definisi menghormati tidak sama artinya dengan menyembah?

"Sudah pasti beda bro. Menyembah bermakna memuja, menghormati, menganggap yang disembah memiliki kekuatan besar, sehingga si penyembah mengajukan permintaan dan permohonan. Apakah kamu pernah meminta rejeki atau jodoh atau kesehatan kepada bendera yang kamu hormati? Tidak pernah! Kamu cuma memberi hormat kepada bendera, bukan menyembah, jadi kenapa Aku mesti cemburu dan murka padamu?"

Oh, begitu ya Tuhan?

"Itu 2 hal yang berbeda. Pernahkah Aku bertanya kepadamu; Mana yang lebih kamu cintai, Aku Tuhan Allahmu atau kedua orang tuamu? Mana yang lebih kamu cintai, Aku Tuhan Allahmu atau keluargamu? Kamu tetap boleh mencintai orang tuamu, istrimu, anak anakmu, tanpa harus membuatKu merasa cemburu dan diduakan.

Begitupun Aku tak akan bertanya kepadamu; Mana yang lebih kamu hormati, Aku Tuhan Allahmu atau bendera merah putihmu? Kamu boleh mencintai negaramu, pemerintahanmu, berbarengan dengan kamu mencintai dan menghormatiKu sebagai Tuhan Allahmu. Konsepnya bukan substitusi yang akan saling menggantikan, tapi konsepnya adalah komplemen alias saling melengkapi. Percuma cinta padaKu sebagai Tuhan Allahmu, tapi kamu membenci ortumu, keluargamu, dan bangsa negaramu.

Didalam hatimu kuberikan persediaan rasa cinta yang berkelimpahan. Jika sudah kau berikan rasa cinta kepadaKu, bukan berarti tak ada lagi yang bisa kau bagikan kepada ortumu, keluargamu atau bangsa negaramu."

Oh, saya mulai paham.

"Yes, begitu. Didalam kitab sucimu tertulis FirmanKu sbb; Berikan kepada Allah apa yang patut diberikan kepada Allah, dan berikan kepada Kaisar apa yang patut diberikan kepada Kaisar, termasuk didalamnya membayar pajak kepada Kaisar. Di jaman sekarang ini konsep Negara sama artinya dengan konsep Kaisar di jaman dulu. Ada representasi pemerintahan yang memiliki wilayah, punya rakyat, dan punya simbol simbol yang menyatukan kesemuanya. Kalian punya negara bernama Indonesia, punya bendera berwarna merah putih, punya bahasa yang dipakai bersama. So what gitu lho? Kenapa Aku mesti cemburu pada sesuatu yang tidak sejengkalpun mengurangi kebesaran dan keagunganKu?"

Oh, terima kasih Tuhan. Saya jadi yakin dan mantap, segera memasang bendera merah putih di tiang depan rumah.

"Laksanakan!"

Siaaap graaak !!

Sumber : Status Facebook Ari Wibowo

Sunday, August 13, 2017 - 17:00
Kategori Rubrik: