Homo Faber

Ilustrasi

Oleh : Aizza Ken Susanti

Saya dari awal kerja setelah lulus SMA, magang zaman kuliah, sampai pas kerja zaman jadi single mother, gak pernah mantan bos-bos saya nggak nanyain atau nawarin saya balik. 
Selalu nyariin saya. Adalah semata karena saya total dalam bekerja, di lini apapun, tak memandang itu kerjaan rendah atau kantoran. Bos saya terakhir mengontak saya dan bersedia menjamin baby sitter untuk dua anak saya, selama saya mau ditempatkan di cabang luar jawa.

Jadi ketika 2x manggil mbak goclean dengan pembayaran tinggi dan jam kerja terstruktur, mendadak nylintut tugas yang sebenarnya dia tahu dan seharusnya dia kerjain tapi nggak dikerjain, saya bertanya: "beginikah rerata para pekerja zaman now?" Padahal jam kerja dia masih sisa, tapi pamit pulang, dan meninggalkan 2 bathroom yang belum dia garap. 

Watak dan pola kerja saya kadang menguntungkan sekaligus merugikan juga bagi saya. Alhasil saya sering gonta ganti prt. Dan sering kali klo kerjaan prt blm bersih ya saya terpaksa mengulang kerjaan itu. Dua sampai tiga kali. Atau si embak saya kasih tahu langsung di tempat. Jadi kalau prt gk cocok kerjanya, sayapun pada dasarnya ikutan beberes juga sebab mengupayakan memberi contoh pada prtnya. Beberapa temen mencap saya: OCD. 

Gak semua prt betah. Tapi satu prt yang sangat mengerti dan paham pola kerja saya ada yang betah hingga lama. Prt ini notabene mantan TKW yang sangat cekatan dan bahkan bisa mengerti watak seluruh anggota keluarga. Kami menunggu dia balik kapan saja, bahkan kalau suatu hari kami dapat prt baru, saya rela menerimanya kembali -- mengganti prt kami dengan dirinya. Gajipun bakal naik 50% sesuai janji saya. Kendalanya saat ini adalah dia sedang memastikan sulungnya menemukan jodoh dan menikah di usia yang dalam stereotipe masyarakat desa sudah dicap sebagai perawan tua. Jadi si bibik ini merasa wajib menunggui gadis sulungbya naik pelaminan, baru bisa lega dan bekerja lagi. (Duh berat mau kasih advice sama bibik ini, gak kenal emansipasi deh pokoknya

Jadi begitulah, pada dasarnya manusia adalah homo faber, manusia itu hakikatnya bekerja. Kita mahluk yang tanpa makna jika tak melakukan apa-apa. Konsep manusia Yahudi bahkan mengajarkan eksistensi manusia terletak pada pencarian subjek atas predikatnya yang tiada henti. Dalam Islam, manusia adalah pemimpin di muka bumi -- ketahuilah, tak ada pemimpin yang tak menguasai/mengenal lingkungan tempat ia berada.

Hakikat kita pada dasarnya menjadi pemimpin dan pekerja yang handal dan bertanggungjawab atas apa yang diamanahkan pada kita. Bukan melakukan sesuatu asal-asalan. Apalagi menyalahi komitmen awal yang disepakati bersama.

Kita juga sadar bahwa asumsi manusia sebagai homo ludens tidak dapat diabaikan. Hakikat manusia juga senang bermain-main dan piknik. Kita suka sekali bergembira, itu alamiah sekali. Dan prt kesayangan saya itu tak ayal demen sekali kalau saya ajak shopping bareng, sebagian gajinya disisihkan untuk antisipasi dia ke Mall bersama saya. Dia prt yang bekerja amat baik, dan saya adalah majikan yang sangat royal membelanjakan barang untuk dia. Setahun setengah bersama kami, dia pulang kampung membawa tas 5x lipat lebih banyak dibanding ketika dia datang pertama kali. Isinya pun beraneka ragam 

Jadi semboyan bekerja keras dan bermain habis-habisan itu benar adanya. Seimbangkan antara faber dan ludens. Saya pun hanya membelikan mainan anak serelah melihat ada perkembangan belajar dia secara informal maupun formal. Anggaplah ini bukan bentuk kepelitan, tapi pendisiplinan.

Kata bapak, mudah membesarkan anak orang miskin menjadi pribadi sukses dan (lebih) kaya (dari ortunya) pada suatu hari nanti. Tapi takmudah mengkontrol anak orang yang berkecukupan sejak kecil agar memiliki pribadi baik dan lebih sukses dari ortunya. Karena memanjakan anak (bukan dalam bentuk reward) itu seperti mendoktrin bahwa manusia itu semata-mata homo ludens. Kita sangat tahu, bahwa dunia ini bukan permainan dan hanya untuk bersenang-senang.

Seimbangkanlah. ~

Sumber : Status Facebook Aizza Ken Susanti

Monday, January 1, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: