Holocaust: Industri Telenovela

Oleh: Denny Siregar
 

"Sejarah ditulis oleh tinta pemenang.."

Begitu kata monumental Napoleon Bonaparte yang menggambarkan bahwa para pemenang pertarungan selalu mempunyai peluang lebih besar dalam menulis sejarah karena ia menguasai sumber dan media informasinya.

Begitu juga dengan kekalahan Hitler dalam Perang Dunia II, ia harus menanggung banyak tudingan karena ketidak-mampuan membela diri. Dan tudingan itu semakin lama menjadi semacam kepercayaan. Menyitir kata Goebbels, kebohongan yang di sampaikan terus menerus akan menjadi kebenaran.

Holocaust atau pemusnahan - ini dikaitkan dengan pembantaian 6 juta umat Yahudi di seluruh Eropa - oleh Nazi adalah benda sakral yang tidak boleh disinggung. Menyinggung-nya berarti tidak ber-prikemanusiaan. "Apa lu bisa merasakan sakit hati gua, dimana bangsa gua dibantai ?" begitulah kira2 yang dilontarkan. Dan sebagai umat manusia, kita dipaksa ber-empati kepada para korban pembantaian itu.

Pertanyaannya, benarkah holocaust itu terjadi ? Apakah benar 6 juta manusia dimusnahkan pada waktu itu ?

Sudah banyak yang membahas bahwa tragedi holocaust itu sebenarnya hanyalah propaganda yang dibesar2kan. Bukti2 dari kamp2 yang ada yang hanya bisa memuat maksimal 11 ribu orang, dimana sebagian besarnya dihuni juga oleh non Yahudi, sungguh tidak masuk akal. Butuh ratusan kamp dengan kecepatan tinggi untuk membunuh sekian orang per jam.

Bahkan Emilie Schindler, istri Oskar Schindler menyatakan film Schlinder List nya Speilberg penuh dgn kebohongan. Begitu juga banyak orang lain yang berada pada masa itu. Tapi apa daya mereka menghadapi raksasa media dan film yang secara massif mem-propagandakan pembantaian itu ?

Negara yang berani secara langsung menyatakan bahwa Holocaust hanyalah propaganda Yahudi Zionis adalah Iran, ketika Ahmadinejad menjadi Presiden. Ia bahkan membuat seminar di Teheran yang mengundang banyak ilmuwan dan tokoh tentang mitos sekitar Holocaust.

Jika memang Holocaust tidak ada, lalu untuk apa propaganda itu terus menerus diluncurkan ?

Tentu untuk menarik simpati terutama bangsa Amerika dan Eropa. Dengan propaganda yang terus menerus, orang seperti di curhati bahwa "saya ini lho di zolimi..". Propaganda ini tentu bukan tanpa uang, dan dengan kekayaan yang mereka miliki dengan menguasai The Fed dan lobi2 kuat mereka di politik Amerika, maka para yahudi zionis ini "melembutkan" hati orang2 utk ber-empati pada kesedihan besar mereka.

Dengan konsep empati itulah, mereka kemudian mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Empati ditambah bungkus agama bahwa Israel adalah tanah yang dijanjikan, lengkap lah sudah telenovela penguras airmata itu supaya mereka " si yang selalu di zolimi" boleh mendirikan negara sendiri sebagai bentuk hadiah.

Kasihan memang Hitler, kumisnya bisa membentuk jajaran genjang, jika ia tahu bahwa ia sebenarnya di provokasi untuk melakukan imperialisme ke negara2 eropa justru sebagai alat saja untuk tujuan yang lebih besar, pendirian negara Israel.

Ahhh... capek juga nulisnya dan ga mungkin semua data dimasukkan kesini. Ini hanya petunjuk , selebihnya banyak membaca dengan mem-fungsikan akal tentunya. Jangan cuman imani saja...

Sruput kopi duluuuu...

 

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Wednesday, May 4, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: