Hobi Urus Agama Orang

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Sebuah obrolan iseng tapi bikin ngganjel. Pada sebuah acara kementerian ketemu pegawai kementerian yang bergelar doktor.

"Di kementerian ini kan sekarang harus mengajarkan pekerti ke anak-anak. Gimana mau mengajarkan pekerti kalau menterinya beristri non muslim."
Waduh mulai mual ini perut. Pola pikir yang salah kaprah dan melanda banyak kepala, nggak yang berpendidikan , nggak yang pejabat, banyak kalangan kena sindrom ini.

Energi habis ngurusi agama orang. Pekerjaan utama jadi terbengkalai karena ngurus keyakinan orang yang bukan porsi kita.
Coba ngomongin pekerti kok disambungkan dengan agama seseorang, dihubungkan dengan orang kawin beda agama. Itu bukan pekerti, itu soal keyakinan. Kapan orang akan berhenti ngomongin keyakinan orang. Kapan kita stop bertanya 'ente agamanya apa'.

Pertanyaan-pertanyaan yang tendensius mengorek keyakinan orang yang mestinya tidak layak dikatakan.
Kadang juga ada perasaan rakus di kalangan mayoritas, bahwa pejabat publik harus beragama mayoritas. Ini menurut saya mindset yang mestinya juga perlu diluruskan. Sudah berlalu beberapa kabinet, beberapa generasi, membuktikan bahwa perilaku tidak ditentukan agamanya

Agama mengajarkan kebaikan. Cara bertuhanlah yang berbeda. Tapi sungguh kita nggak butuh cara bertuhan seseorang. Kita hanya butuh sikap , perilaku dan cara berpikir seseorang dalam hubungan sosial. Dan kita sepakat hidup di negara demokrasi, bukan negara agama. Jadi tidak pada tempatnya mengurusi agama seseorang dalam kaitannya dengan jabatan. Semua yang punya kapasitas dan kompetensi mestinya berhak duduk menjabat. Saya percaya ketika seseorang mengungkit agama dalam kaitannya dengan jabatan, dia sudah bersikap tidak adil.

Negara agama itu menyeramkan.Para penguasa memerintah atas nama Tuhan. Orang yang tidak sepaham akan dianggap musuh Tuhan. Hukum diberlakukan untuk rakyat tapi tidak untuk penguasa. Karena atas nama Tuhan, penguasa merasa selalu benar. Dan itu adalah ciri negara otoriter. Kita akan ke sana? Sungguh itu kemunduran luar biasa. Belum berkuasa saja suka memaksakan kehendak, apalagi jika berkuasa.

Kembali ke pekerti. Pekerti adalah perilaku baik yang berlaku universal, tidak berkaitan dengan agama. Semua orang bisa berpekerti baik tanpa melihat agamanya. Bahkan atheis pun bisa berpekerti baik kepada sesama manusia. Kebaikannya diniatkan untuk dipersembahkan kepada siapa, itu bukan urusan kita. Gimana?

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Sunday, November 3, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: