Hoax Sudah Menjadi Strategi Politik

Oleh: Henri Subiakto

 

Bisnis hoax di era post truth sekarang ini persis seperti menggunakan sentimen agama, untuk politik identitas. Yaitu sama sama mempermainkan mkanisme keyakinan orang dengan cara yg sistematis.

Mmpermainkan hoax tidak selalu nyerang langsung pihak lawan, dengan berita buruk, atau fitnah, terkadang mereka bisa dengan memproduksi berita baik, seperti menunjukkan keberhasilan pihak lawan, tapi sebenarnya isinya menjerumuskan lawan saat disebarkan, krn hasil manipulasi fakta juga.

 

 

Di era komunikasi digital ini, bagi politisi dan konsultan politik yg abaikan etika moral, Hoax sudah dianggap sebagai "part of the game" Atau "kind of political communication" yg tdk bisa dipisahkan dalam ajang perpolitikan saat ini, dimana pun.

Bagi para politisi dan konsultan politik, Hoax itu sdh bukan lagi soal informasi salah atau benar, tapi persoalan sejauh mana hoax itu bisa digunakan untuk menciptakan impact, lalu digunakan secara tepat.

Impact itu tidak harus mempengaruhi orang agar pindah pilihan, tapi lebih pada bagaimana bisa mnciptakan kegaduhan, kebingungan, kemarahan, atau apa pun yg bisa mmbuat goyah stabilitas, dan tdk percaya pd pihak tertentu.

Ada teori yg diyakini, sekuat apa pun stabilitas itu, kalo trus menerus secara intens dan massif dikikis informasi hoax, lama-lama akan goyah pada wktunya. Ada yg secara diam-diam lewat jalanya waktu tertentu orang mulai goyah, ragu-ragu, hingga akhirnya percaya hoax.

Saat goyah itu lah, kesempatan bagi propagandis politik masuk mempengaruhi opini dan sikap pemilih sesuai yg diinginkan. Mekanisme ini menjadi efektif saat pelaku politik menjalankan operasionalnya dengan dasar data lapangan yg diperoleh dari Big Data, atau hasil sadapan model Cambrige Analytics. Itulah mengapa di banyak negara hoax dipakai sebagai bagian dr strategi politik.

Sebenarnya kalau banyak orang yg termakan hoax. Itu bukan semata mata salahkan hoaxnya atau pembuat, karena memang sudah menjadi bagian dari strategi politik, di era "Mass Self Communication" ini. Kesalahan itu karena kebodohan yg percaya, karena lebih mendahulukan emosi bawah sadar yang sesuai dengan hoax itu dari pada sikap skeptis dan hati hati.

Dalam satu atau dua tahun ke depan, hoax akan lebih canggih lagi, bisa berupa video seakan asli yg berisi seorang tokoh yang sedang bicara, wajah, suara, gerak bibir dan gesture khas tokoh itu persis seperti nyata, tapi sebenarnya adalah hasil manipulasi.

Perang hoax akan terus terjadi, dan komunikasi politik menjadi ajang adu pintar, adu licik, dan adu ketrampilan dalam membuat pesan. Hanya masyarakat yg cerdas, sabar tdk emosional, skeptis dan selalu membuka pintu tabayun yg akan mampu menangkal hoax. Apa masyarakat kita sudah seperti itu? Kayaknya tidak. Bagaimana menurut Anda.

 

(Sumber: Facebook Henri Subiakto)

Wednesday, October 31, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: