Hoax konspirasi ala Andrew Kaufman: virus penyebab covid-19 tidak ada, yang dideteksi eksosom tubuh kita sendiri?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Dua tokoh barat yang kerap dijadikan rujukan penggemar teori konspirasi HOAX covid-19 adalah Andrew Kaufman dan Judy Mikovits. Kali ini saya akan fokus ke Andrew Kaufman dulu, Judy nyusul di postingan selanjutnya in syaa Allaah.

Klaim keliru Kaufman secara garis besar:

1. Waham yang mengajak perombakan besar-besaran ilmu Biology Molekuler. Menurut Kaufman dasar ilmu Biology di seluruh dunia salah: virus itu tidak ada di dunia ini, yang ada hanya eksosom yang saat dideteksi via PCR dikira virus.

Dari klaim ini saja, sebenarnya sudah terlihat klaim Hoax bombastis yang sangat halu dan menabrak akal sehat.

Ibarat mengajak kembali ke jaman kegelapan di masa ilmu pengetahuan belum berkembang, mikoskop elektron belum ditemukan, teknologi sequencing belum ada. Padahal struktur virus ini bisa diamati dengan jelas di bawah mikroskop elektron (gambar terlampir).

Urutan kode genetiknya juga sudah dibaca beramai-ramai oleh ilmuwan seluruh dunia yang mustahil bersekongkol dalam kebohongan:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/genbank/sars-cov-2-seqs/

Sama artinya Kaufman bilang seluruh ilmu Biology yang dipelajari di sekolah dan perkuliahan tentang adanya virus itu salah semua, alias semua ilmuwan Biology itu semuanya bodoh semua, dia sendiri yang 'pintar' yang tau kalau virus di dunia ini tidak ada, yang ada hanya eksosom tubuh yang selama ini dianggap virus? Ini namanya waham alias halu level akut.

Sejenis halunya dengan teori kuno Bechamp yang sekarang diusung lagi sama penjual probiotik yang diklaim bisa menggantikan vaksin karena menurut teori halu mereka, virus adalah bakteri, kadang juga berubah jadi fungi (jamur). Bagi yang paham sentral dogma Biomol ya ibarat menghembuskan teori baru 1 + 1 = 5.

2. Kaufman dalam videonya memelintir pernyataan Dr. James Hildreth yang bicara tentang HIV dalam jurnalnya, yang dia kutip jadi: “virus itu sepenuhnya merupakan eksosom,” untuk mendukung klaimnya jika virus infeksius yang bisa menular itu memang tidak ada.

Padahal maksud Hildreth, HIV adalah virus yang menyusup ke dalam eksosom di tubuh kita. Pernyataan aslinya bisa dilihat di jurnal ini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2248418/

Nah dengan naifnya Kaufman (atau sengaja memelintir?), menerjemahkan kalau virus yang dideteksi itu adalah eksosom produksi tubuh kita sendiri.

3. "Wabah covid-19 adalah pembohongan publik. Yang dideteksi bukan virus, tapi eksosom. Tes PCR pada pasien covid-19 cuma menguji keberadaan eksosom yang diproduksi oleh sel tubuh kita sendiri karena adanya toksin (karena paparan teknologi wireless 5G)."

Ini pernyataan sesat dan tidak masuk akal bagi mereka yang sedikit saja paham biology molekuler (biomol). 

Eksosom sendiri disekresikan (dikeluarkan) oleh sel baik dalam kondisi normal maupun ketika infeksi yang fungsinya untuk komunikasi antar sel dengan mentransportasikan biomolekul seperti protein, RNA, dan lipid dari satu sel ke sel lainnya.

https://www.sciencedirect.com/…/medicine-and-dentis…/exosome

⁉️ SARS-Cov2 (virus covid-19) adalah virus RNA, sedang eksosom juga bisa berupa RNA. Jadi bisa salah deteksi? Di sini letak salah kaprahnya.

Biarpun sama-sama RNA, Eksosom manusia ya melepaskan RNA MANUSIA, tidak bisa melepaskan RNA spesies lain.

Eksosom manusia tidak bisa melepaskan RNA gajah karena tidak ada RNA gajah di dalam sel manusia.

Eksosom manusia juga tidak bisa melepaskan RNA virus jika tidak ada viral load di dalam sel manusia. Eksosom hanya dapat merilis RNA virus jika sel telah terinfeksi virus (sel kita dimasuki virus).

Jaman sekarang sudah canggih, ada teknologi sequencing yang bisa membedakan susunan rantai RNA virus dan manusia, tidak mungkin tertukar susunan rantai RNA nya yang jelas berbeda.

Harus dipahami, virus tidak dapat mereplikasi diri sendiri. Mereka harus membajak mesin replikasi sel inang dari manusia dan kemudian 'melarikan diri' dari sel inang. Seperti napi yang sembunyi di truk yang meninggalkan penjara di film-film untuk kabur.

Virus yang bereplikasi dalam sel juga 'menaiki mesin keluar sel', yaitu eksosom. Karena nyusup di eksosom, virus jadi terlihat seperti eksosom dan beberapa ahli virologi memang menggambarkan beberapa virus sebagai eksosom. Tapi jelas beda dengan eksosom kita saat kondisi tidak terinfeksi virus, karena virus tidak memiliki RNA manusia demikian juga sebaliknya RNA manusia tidak memiliki RNA virus.

Urutan DNA dan RNA manusia, gajah, harimau, dan virus apa pun semuanya unik. Urutan yang tepat bisa diidentifikasi dengan teknologi sequencing. Manusia baik bayi baru lahir atau lansia, baik sehat maupun sakit, hanya akan membuat RNA manusia dalam selnya. Tidak ada toksin yang akan menyebabkan sel di tubuh kita memproduksi RNA gajah, apalagi RNA virus yang jauh berbeda, kecuali kalau kita terinfeksi virus.

⁉️Covid-19 bukan virus tapi eksosom dan tidak menular?

Jadi apa donk yang menyebabkan lonjakan besar pasien dirawat di rumah sakit, dan banyak yang meninggal sekarang? Dan kenapa dimulai di Wuhan dan menyebar ke negara lain? Lantas kenapa para nakes tiba-tiba berjatuhan meninggal? Di sinilah kita diajak halu berjamaah dan dimatikan kekritisannya dengan dalih 'konspirasi'.

4. Kaufman mengklaim semua tes lab RT-PCR untuk mendeteksi virus corona, sebenarnya mendeteksi sesuatu yang lain, yaitu eksosom kita sendiri.

Ilmuwan seluruh dunia telah telah mengurutkan lebih dari ribuan sampel coronavirus SARS-cov2. Artinya seluruh genomnya, sekitar 30.000 basa atau "huruf" bisa kita baca. Kita tahu protein apa yang mereka kodekan. Ilmuwan seluruh dunia telah membandingkan genom ini dengan coronavirus lain dari manusia (SARS-2003, MERS) dan hewan (bat coronavirus, dll). Jadi tidak mungkin keliru, apalagi keliru dengan RNA tubuh manusia (eksosom).

Ini contohnya satu dari sekian banyak makalah yang mengamati urutan genetik virus SARS-Cov2:

https://www.nature.com/articles/s41591-020-0820-9.pdf

Seluruh untain RNA ini tidak ditemukan dalam sel manusia kita, dan kita harus mengetahui: ilmuwan telah mengurutkan genom manusia berkali-kali. Bahkan membaca dan menganalisa ratusan ribu genom manusia adalah kerjaan saya sehari-hari.

5. Kaufman mengklaim RT-PCR tidak ada pemurnian virus, jadi bisa salah deteksi eksosom sebagai virus.

Ini tidak benar. Dalam protokol pengujian, selalu wajib adanya pemurnian RNA virus dan primer yang dibuat berdasarkan genome virus yang disekuen oleh ilmuwan di seluruh dunia di GISAID yang bisa diakses oleh siapa aja:

https://www.gisaid.org/

Primer dan Reagen kit (material yang dipakai untuk PCR) bisa dibeli dari vendor/manufaktur yang tersedia dimana aja, bukan dari satu vendor saja. Jadi mustahil mereka berkongsi untuk konspirasi karena berada dalam pengawasan CDC (screenshot terlampir).

Kalau misalnya tidak dilakukan pemurnian, bakalan terdeteksi saat sequencing. Jika memang eksosome manusia, maka tidak akan dikenali sebagai RNA asing (virus baru). Ingat setiap manusia punya genom 99.99% kemiripan antara satu dengan lainnya, tapi tetap bisa dikenali berasal dari satu keluarga atau tidak (kasus tes DNA seorang anak yang tidak diakui bapaknya misalnya). Apalagi virus yang rantai RNA nya jauh lebih pendek dan berbeda dari manusia jelas lebih mudah dibedakan.

⁉️Adakah dampak mutasi virus SARS-Cov2 pada efisiensi RT-PCR sebagaimana yang dikhawatirkan Ibu ex menkes SFS?

Mutasi SARS-Cov2 tidak cepat. Saya sudah pernah mengulasnya di sini:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10221341346299471

Jadi mutasi hanya terjadi di beberapa titik (SNP) saja, sehingga primer yang dipakai dari genom asal viruspun masih bisa mendeteksi jika hanya terjadi mutasi di satu atau beberapa titik saja.

Jadi virus saat ditemukan pada kasus awal di Wuhan saat pasien terinfeksi awalnya bisa dideteksi dengan 'whole genome sequencing' yaitu pembacaan urutan kode genetik (RNA), dengan cara ini bisa dikenali adanya virus baru dengan susunan RNA virus yang belum pernah ditemukan sebelumnya, lalu dinamainlah SARS-CoV2.

Nah, selanjutnya deteksi keberadaan virus pakai sequencing agak lama (butuh beberapa hari hingga pekan) dan cukup mahal. Maka digunakan versi lebih murahnya tapi akurat yaitu RT-PCR. Ini teknologi yang sudah dipakai ilmuwan seluruh dunia dari sejak 1983. Kalau tiba-tiba ada 'ilmuwan' yang bilang teknologi ini gak akurat tapi gak bisa membuktikan, maka bisa dibilang dia hanya menyebar hoax.

Sekarang saya jelaskan dikit teknologi PCR (PCR untuk amplifikasi DNA, untuk RNA direverse dulu jadi cDNA baru diamplify, namanya jadi RT-PCR). Karena SARS-CoV2 adalah RNA virus maka kita pakainya RT-PCR.

Dalam PCR kita butuh primer. Primer dalam RT-PCR adalah untaian RNA yang diambil dari RNA virus dari hasil sequencing. Yang fungsinya adalah fondasi awal untuk proses replikasi agar bisa dikenali virusnya.

Nah kalau ada sample dari swab, maka sample itu mengandung rantai RNA, tapi awalnya belum bisa dikenali apakah itu RNA virus atau bukan. Maka primer dipakai untuk membatasi segmen template RNA yang akan diamplifikasi (di sinilah akan terdeteksi positif atau negatif).

Pada kondisi khusus, kalau mutasi virusnya di primer dan probe target (probe dipakai untuk mendeteksi keberadaan asam nukleat), maka bisa mempengaruhi sensitifity menjadi false negatif (artinya keberadaan virus jadi negatif saat diuji alias dianggap gak ada virusnya) sebagaimana di penelitian ini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7189409/

Namun jangan khawatir, desain primer itu selalunya diambil dari region di genom virus yang secara evolutionary conserved. Artinya pada gen yang cenderung tetap gak berubah secara evolusi yaitu gak akan bermutasi. Kenapa? Karena kalau berubah sedikit saja di region itu bakalan lethal mengubah besar-besaran karakteristik virus. Maka dalam genom, ada region yang secara alami memang condong tetap gak berubah, dan ada yang mudah berubah karena mutasi. Yang condong tetap inilah yang dipakai sebagai primer. Maka kekawatiran tidak bisa mengenali virus karena sudah bermutasi jadi sangat sangat kecil peluangnya. Ngerti gak kamu, Son?

***

Sebagai tambahan, Kaufman ini punya background S1 Biology MIT (sangat disayangkan), namun PhD di jurusan psikiatri forensik dan publikasinya juga semua terkait psikiatri forensik.

Kaufman sendiri lisensi spesialisnya sempat ditangguhkan kampusnya karena menyalahgunakan dana penelitian untuk kepentingan pribadi:

http://www.circare.org/pd/kaufman_20081126.pdf

Sebagai pakar kejiwaan mungkin dia ingin cari sensasi memanfaatkan kondisi kejiwaan netizen yang suka halu dan buta sama sekali terhadap biology molekuler (biomol). Lumayan jadi sampel penelitian dia terhadap kejiwaan netizen. Terutama kaum pecinta teori konspirasi yang gak pernah punya bukti ilmiah untuk membuktikan klaim mereka. Bahkan sedikit saja mereka bicara sains, ngawurnya na'udzubillah.

Monday, June 1, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: