Hoax Game Online dan Pelajaran Etika Digital

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Kemarin di Magelang, berlangsung pertemuan antara keluarga dari anak di Puskesmas yang di-video tanpa ijin seolah sebagai korban kecanduan game online, dengan yang mem-video-kan, bernama Ida Riyani yang berprofesi sebagai bidan desa di kecamatan Dukun.

Sudah ada permintaan maaf dari pelaku pemvideo, dan kita mengapresiasi keluarga korban yang menerima pelaku dengan baik.

Kita mungkin tahu, niat dari pemvideo sebenarnya baik, ingin mengajak orangtua untuk mengetahui bahaya kecanduan game online, dimana menurut WHO memang kecanduan game online sudah dimasukkan dalam kategori mental disorder. Hal ini tanpa menggeneralisir penggunaan game sebagai hiburan selama dalam batas wajar, ataupun mereka yang secara profesional berkompetisi dalam e-sports.

Namun niat baik seharusnya juga disertai dengan cara yang baik pula. Nah pemvideo ini yang tampaknya masih gagap memahami dua etika, etika di ruang digital, dan etika menjaga privasi pasien di fasilitas kesehatan.

Menyebar video yang melanggar privasi orang, ditambah statusnya adalah pasien, tentu merupakan hal yang sangat tidak patut dilakukan oleh siapapun. Terlebih video ini sangat viral, dengan lebih dari 70.000 share dan 3 juta view lebih di Facebook dalam hitungan satu dua hari, belum termasuk di group tertutup maupun group Whatsapp.

Saya termasuk yang tidak ingin melihat kasus ini masuk ke ranah pidana. Biarlah sesama masyarakat yang saling mengasuh dan mengasihi, memang akan sangat pahit bagi keluarga korban. Mungkin cukup dinas kesehatan setempat yang akan memberikan teguran atau sanksi mendidik bagi pelaku pemvideo.

Peristiwa ini seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi mereka para pengguna gadget, untuk bisa lebih bertanggungjawab, lebih paham dampak kerusakan atas keteledoran etika dalam penggunaan gadget.

Sekarang tinggal para akun-akun medsos yang terlanjur ikut menyebarkan hoax ini, silakan meminta maaf juga kepada keluarga korban, dan membuat status pemberitahuan atas kekeliruan status yang dibagikan. Beberapa akun medsos yang menyebarkan, saya screenshot sebagian dalam gambar di bawah ini.

NB: Hoax kemarin ini pun juga sempat mencetak hoax lain juga. Ketika pelaku bernama IDA RIYANI, yang merupakan bidan desa, artinya dia tidak bekerja di Puskesmas tersebut, sempat menyeret salah seorang perawat Puskesmas Dukun yang bernama IDA MARYUNANI, karena nama yang mirip, yang pada kejadian tersebut, ia sedang berada di luar. Keduanya beda orang.

Terimakasih mbak Fida Nastiti atas perjuangannya untuk meluruskan kekeliruan dan fitnah yang sempat berkembang luas, semoga menjadi amal kebaikan mbak dan sekeluarga.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Monday, August 26, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: