Hoax dan Teori Konspirasi Mudah Menyebar

ilustrasi

Oleh : SaSqa SaSqa

Kenapa hoax dan teori konspirasi itu mudah sekali menyebar? Ini pendapat saya mengenai hal itu. Sekali lagi ini pendapat saya.

Pertama, orang berminat tinggi pada heroisme. Entah karena terbiasa nonton film holiwud atau apa. Jadi berita heroik lebih mudah dipercaya.

Kedua, orang cenderung membela yang tampak tertindas. Jadi kalau tanpak ditindas, tentu langsung dibela, bahkan sebelum semua jelas siapa benar siapa salah. Oleh karena itu playing victim menjadi salah satu cara menggaet simpati orang banyak.

Ketiga, orang menyukai jawaban sederhana dan instan. Kalau tersedia berita yang langsung memberi jawaban tentu akan lebih dipilih daripada fakta-fakta sepotong yang tercecer dan musti keluar tenaga untuk merangkainya menjadi sebuah gambaran kebenaran yang utuh. Hazard ini makin meningkat ketika model pemberitaan di era perangkat genggam ini adalah berita pendek dan terpotong-potong.

Seperti ditulis di artikel Psychologytoday, menurut Daniel Jolley, seirang psychologist
Dan conspiracy theory researcher:
"Mereka butuh jawaban senderhana atas
masalah yang kompleks, dan dengan
menyalahkan aktor tertentu atas masalah ini,
akan sangat menarik dan meyakinkan." (Thanks mas Ismail Fahmi, sy kutip twitnya)

Keempat, orang sangat butuh kepastian dan takut akan misteri, kecuali misteri dalam film karena nggak ngaruh ke kehidupan nyata, toh hanya film. Tapi kalau misteri, kegelapan dan ketidak tahuan itu langsung mengenai dirinya, orang cenderung takut, lalu mencari jawaban. Kecenderungan ini membuat orang cepat-cepat berpegang pada suatu kesimpulan, lalu memegangnya erat-erat. Kalau ada kesimpulan lain yang lebih sesuai fakta, muncul resistennya karena dia harus melepas kenyamanan yang sudah dia dapat dari kesimpulan awal, takut untuk berpindah pada kesimpulan baru tadi.

Di samping ketakutan atas ketidakpastian saat harus berpindah ke kesimpulan baru tadi, ada juga unsur ego. Udah terlanjur mengambil kesimpulan, lalu mengkampanyekan kesimpulan itu... eee kok harus menganulirnya dan berpindah ke kesimpulan baru. Gengsi donk...
Makanya tak sedikit yang tetap ngotot meski itu sudah terbukti salah oleh fakta baru.

Kemarin di wall FB teman saya ada yang komen bahwa dia yakin covid itu hanya fatal pada orang tua yang memiliki penyakit sebelumnya. Lalu saya komen dengan jurnal dan berita yang menunjukkan bahwa orang muda tanpa penyakit sebelumnya juga bisa fatal. Apa tanggapannya? Bukannya menerima fakta baru, tapi membantah dengan bilang saya sok pakai bahasa sulit, ngarang-ngarang istilah, lalu memberikan emot ketawa di komen2 saya yang mengutip jurnal dan berita itu. Ya itulah kalau ego yang main.

Biasanya, yang percaya hoaks itu terjebak pada kesalahan-kesalahan logika (logical fallacies), di antaranya:

1. Argumentum ad ignorantiam
Disebut juga argumen ketidak tahuan, adalah kesalahan berpikir karena tergesa mengambil kesimpulan atas dasar apa yang tidak diketahuinya. Contohnya seperti orang di FB teman saya itu. Dia menyimpulkan tidak ada orang muda tanpa penyakit sebelumnya bisa fatal karena covid... hanya karena dia belum pernah baca jurnal atau beritanya. Sayangnya setelah tahu, masih tetap berkesimpulan sama.

2. Hasty Generalization
Adalah cara mengambil kesimpulan yang karena mendasarkan sesuatu yang khusus dan jumlah kecil dan terburu-buru untuk menerapkannya sebagai kesimpulan umum. Contoh, seseorang bilang, "Sebenarnya jumlah penderita covid itu sedikit jumlahnya, buktinya di kampung saya tidak ada!".

3. Context Collaps
Sering lihat broadcast kesehatan di grup WA? Umumnya di situ ditulis beberapa statement dalam beberapa paragraf. Mayoritas fakta-fakta di dalamnya benar, sebagian ada yang salah. Lalu ada kesimpulan akhirnya. Nah kesimpulan akhirnya ini biasanya salah karena mengandalkan salah satu fakta yang salah tadi dan menutupimya dengan fakta-fakta yang benar, lalu melepas kesimpulan itu dari konteks fakta-fakta yang benar. Ini agak canggih.

Sebagai contoh agar mudah, ada broadcast begini:
Stroke bisa terjadi karena perdarahan atau sumbatan di otak (1). Ini adalah salah satu penyakit mematikan di dunia (2). Menurut dr. Gudi dari Harvard, tekanan darah itu bisa sampai ke ujung-ujung jari (3). Pada orang stroke, tekanan darah di ujung jari meningkat (4). Oleh karena itu saat ada gejala stroke, tusuklah jari-jari penderita dengan jarum sampai keluar darah, agar tekanan berkurang dan pasien tetap sadar (5). Fakta ini diambil dari Liputan8 dot kom (6).

Kalau dibaca sekilas, tampak setiap statement itu nyambung, logis dan benar.
Mari kita petakan: 1. Benar. 2 Benar. 3. Statemen benar, sumber entah. 4. Bisa benar, bisa salah. 5. Kesimpulan salah. 6. Entah.

Nah, siapa yang sabar memetakan begini sebelum ngeshare sebuah berita?
Coba saja dipraktekkan untuk memetakan isi video dua dokter yang viral itu. Saya sih udah nemu bagian-bagian dari statementnya yang meragukan.

Masih ada Logical Fallacies yang lain, tapi kita bahas kapan-kapan kalau ada kesempatan.

Oya, dengan posting-posting semacam ini, bukan berarti saya bilang bahwa konspirasi itu tidak ada lho, kisanak....

Dah, buka puasa dulu

- Dr MA -

Sumber : Status Facebook SaSqa SaSqa

Monday, May 18, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: