Hoaks Ratna Sarumpaet, NU dan MU

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Semua kita mengakui selain dampak baik atas hadirnya medsos, kita juga menerima imbas dampak buruk yg juga luar biasa. Salah satunya produk paling laku yaitu hoaks.

Hantaman isu negatif ini sudah memakan korban banyak. Yang mencengangkan ternyata produsennya ternyata orang-orang pintar, hanya saja pikirannya melingkar dan liar.

 

 

Hoaks yg nyaris menjadi tsunami sosial dan berpotensi memecah belah bangsa dan negara adalah hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet yg melibatkan begitu banyak jajaran orang yg harusnya bermoral. Sayang karena nafsunya mereka jadi berandal dan bebal.

Mengamati eksistensi NU dan MU, saya pribadi menilai kadang kurang " gesit " dalam membantu memadamkan isu yg sumbernya kadang malah melibatkan orang-orang dilingkarannya.

Saya lbh menyoroti MU, karena keberadaan orang-orang dilingkaran keributan itu justru ada oknum dari ormas islam terbesar kedua itu. Sekarang ada Dahnil Simanjuntak, yg kalau tidak salah masih menjabat Ketua Pemuda MU, dalam kasus hoaks Ratna S, begitu gigihnya dia membela ketidak benaran itu. Dia pakai jurus 3N, Ngotot, Ngeyel, Ngelantur, yg sudah memang style dari kelompok oposisi yg tak berisi, disana ada juga mantan Ketua Umum MU, Amien Rais, yg seantero negeri imi tau AR adalah salah satu raja hoaks, malah boleh di kata sak anak-anaknya 11-12. Sementara dari NU, atau MUI saya gak pasti. Ada Zulkarnaen ( sy tdk panggil dia ustadz, krn lbh pantas dia di panggil preman medsos ). Jabatannya di MUI ckp tinggi, orang satu ini paling ngawur, memproduksi hoaks dan caci maki kepada pemerintah sudah tanpa batas kemoralan, apa lagi dia duduk di MUI, majlis ulama itu jadi seperti kandang sapi dibuatnya. Mendengus sambil berdiri buang hajat ditempat yg sama. Heranny MUI sbg rumah mulia yg punya hak tunggal menghakimi haram dan halal itu malah membiarkan produk sosial haram di produksi oleh orang MUI sendiri.

Kembali kepa NU dan MU, kadang saya melihat masih memakai pegangan lama, yaitu, Silent is Gold, padahal tampang kita sebagai rakyat Indonesia sudah dilempati tinja oleh orang-orang yg sungsang moral. Padahal ada statement Rasullullah, katakanlah yg benar walau pahit. Arti " katakanlah" saya menangkapnya adalah harus ada AKSI yg memadai untuk menghambat laju inflasi hoaks dan sejenisnya ini. Tidak boleh lagi kita pakai gaya menutupi aib orang lain agar aib kita ditutupi Tuhan. Wong mereka sudah melemparkan tinja ke muka, kok kita biarkan merajalela. Jangan tunggu Tuhan untuk menghentikannya, karena bila murka Tuhan yg diharap mengehentikan, orang yg menjalankan kebenaran juga akan binasa bersama mereka. Kecuali MUI, mungkin. Krn Majlis Ulama, jd kalau ulama-ulamaan berdiam disana tapi dibiarkan, kelak Tuhan bisa memaklumkan, bukan sbg kesalahan, tapi sebagai kealfaan, terus apa bedanya.

Saya membayangkan NU dan MU bisa membuat apel akbar serentak di seluruh Indonesia membuat pernyataan sikap mendukung penegak hukum menghukum seberat-beratnya penyebar hoaks, kalau perlu dihukum seumur hidup atau hukum mati sekalian. Karena dampak hoaks bisa menghancurkan negara, sekali lagi, kebayang bgmn hancurnya kita bila hoaks penganiayaan Ratna sampai luput dari polisi, bisa perang saudara kita semua. NGERI.

Pernyataan sikap yg lain harus dengan berani memberi sanksi sosial kepada orang-orang pecandu hoaks seperti Eggy, Zulkarnaen, Fadli, Fahri, dan bahkan Prabowo sendiri dan tak ketinggalan raja hoaks Amien Rais, dan Hanum Rais. Dalam kasus hoaks penganiayaan orang- orang ini terlibat langsung didalamnya. Walau akhirnya berdalih sebagai korban, karena Ratna ketahuan mau minggat, coba lolos, pemerintah bisa jadi bulan-bulanan. Mulut bau bersumber dari sakit didalamnya atau asupan makanan yg ditelannya. Kalau anda makan bangkai, jgn berharap mulut bau kesturi, kata pepatah Turki.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, October 21, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: