Hoaks Kesehatan

Oleh: Aldinshah Vijayabwana

 

Memo saya yang seorang dokter gigi dapat video dari grup WA. Video lama, videonya Alfian Tanjung bicara soal vaksin. Katanya vaksin beginilah, begitulah, konspirasi membunuh umat Islam lah, gitu aja. Kalau dari Alfian Tanjung, saya tebak bahwa mayoritas informasinya hoaks. Jelas, lha dia kan dipenjara karena nyebar hoaks soal PKI. Nah benar dugaan saya, segala informasi yang dia sampaikan soal vaksin, menyalahi literatur-literatur ilmu kedokteran yang mendasari vaksinasi.

Tiba-tiba saya teringat. Difteri habis jadi KLB di Semarang. Banjarbaru kena KLB rubella. Bangka Belitung dan Sumatera Utara terancam KLB rubella, karena capaian imunisasinya hanya mencapai 20 sampai 30-an persen. Aceh malah parah, baru sekitar 4%. Sejumlah daerah dengan capaian imunisasi rendah, adalah daerah mayoritas muslim pula! Padahal MUI sudah membolehkan vaksin, bahkan Yai Maruf Amin selaku Ketua MUI mengatakan vaksin sudah wajib hukumnya.

 

 

Kemarin siang, si Amalia Raissa tanya soal semangka yang bolong karena zat kimia itu. Saya sampaikan fakta bahwa untuk mendeteksi zat yang dimaksud, adalah dengan melihat warna daging buah dan biji buah. Juga bahwa efek bahan kimia yang disebutkan itu tidak sedahsyat yang digembar-gemborkan. Dia bersedih. "Bingung sama orang-orang, kayak gini dibuat hoaks," ucapnya melalui japri.

Hoaks kesehatan berbeda dengan hoaks politik, hoaks ekonomi, atau lainnya. Hoaks politik, separah-parahnya menyebabkan polarisasi masyarakat. Namun, hoaks kesehatan, urusannya adalah langsung dengan NYAWA seseorang! Ini membuat hoaks kesehatan seharusnya dianggap serius.

Coba lihat hasil penyebaran hoaks vaksin itu. Penyakit yang sebenarnya sudah lama tidak jadi masalah, mendadak jadi KLB lagi karena banyak yang ogah divaksin. Yang kena, ya anak-anak. Catat, ANAK-ANAK. Generasi penerus bangsa kita. Gara-gara hoaks soal vaksin, kita mengorbankan kesehatan anak-anak yang seharusnya sehat selalu agar di masa depan bisa membangun Indonesia.

Saya pernah mendengar ada seorang profesor yang meninggal karena hoaks kesehatan, yaitu hoaks yang menyebutkan bahwa jika muncul gejala stroke, maka tusuk ujung jari supaya peredaran darah lancar. Profesor ini melakukannya, dan kehilangan golden period penanganan stroke, sehingga beliau meninggal dunia. Padahal sumbatan stroke (apabila stroke iskemik) ada di pembuluh arteri otak, dan tidak ada kaitannya dengan menusuk jari. Fatal sekali, bukan?

Tantangan meluruskan hoaks kesehatan, terutama bagi orang yang memang berkecimpung di dunia medis, adalah pada menyederhanakan penjelasan medis terkait hoaks tersebut agar bisa dimengerti orang banyak. Selain itu, perlu bagi praktisi kesehatan untuk mencerdaskan masyarakat bahwa tidak ada yang instan terkait kesehatan. Semua harus evidence-based dan dilakukan oleh ahlinya.

Mari bersama-sama kita lawan hoaks kesehatan. Ini bukan masalah keyakinan, agama, politik, atau apa pun. Ini tentang nyawa manusia. Ini tentang kemanusiaan kita. Untuk yang masih suka bikin dan sebar hoaks kesehatan, monggo sumpahannya, Koh Irvan Kristanto.

Ambarawa, 22 September 2018
Om Aldin

 

(Sumber: Facebook Aldinshah)

Sunday, September 23, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: