Hizbut Tahrir, PKS Garis Lurus dan Teror Sarinah

Oleh: Ihda Himada Soduwuh 

"Pejuang Hizbut Tahrir, berikut kader PKS garis lurus, seolah masih belum percaya ISIS tega melakukan hal keji seperti di Suriah, eh Sarinah tempo hari. Mereka masih menganggap bahwa hal serupa hanya bisa dilakukan oleh para agen intelijen berikut kontraktor keamanan swasta. Persis seperti dalam film trilogi Bourne, Sniper, maupun Mission Impossible. Pemerintah selalu memiliki peluang menjadi musuh bersama, ia punya kuasa, harta, serta relasi ke mana saja. Mereka menganggap bahwa rakyat jelata selalu baik, seperti halnya tokoh-tokoh dalam serial drama Turki. Teroris hanyalah reality-show karangan pemerintah agar rakyatnya terhibur.

Pendapat semacam itu bisa mendarah daging karena dalam proses pengkaderannya, ditanamkan seolah pemain intelijen sedemikian mengancam. Bagi kader PKS bisa dimaklumi, dalam film Sang Murabbi-nya, tergambar betapa dakwah bukanlah jalan mudah. Seperti menghadirkan suasana era Islam Mekah ke era Orde Baru. Nuansa sembunyi-sembunyi ditekankan, sampai sandal pun harus tak boleh diperlihatkan. Meski sebenarnya organisasi dakwah macam NU dan Muhammadiyah bisa dengan santai menggelar pengajiannya. Soal Hizbut Tahrir, lain lagi. Anggap saja kehadirannya sama seperti Hari Tanoe dengan Perindo-nya, meramaikan jagad perebutan perhatian. Kalaupun merengek sampai mengejek, maklumi saja karena umurnya pun baru seumur jagung. Lumrah jika mereka meminta jatah permen.

Beberapa hari lalu, saya diperjalankan mengiringi Ustad Abu Bakar Bangashir dalam konvoi lapis bajanya. Untuk mengawal satu orang saja, Polda Jateng memamerkan semua otot-otot kuat serta tulang besinya. Bahkan satu bis K-9, anjing pintar berharga ratusan juga itu, tak luput dari rombongan bersenjata lengkap ini. Dalam momen itu, sang ustat yang tadinya menolak ISIS dengan tegas, menjelaskan kenapa ia berganti haluan. Rupanya sang propagandis utama ISIS di Indonesia, yang tengah dikarantina di Nusambangan, berhasil menghadirkan perkinclongan di benak sang imam MMI tersebut. Jadilah rujukan teroris kawakan berdaya ledak besar macam Imam Samudra cs itu, mendukung dalam doa para teroris amatir berdaya ledak imut kemarin hari. Bayangkan, jika imamnya sudah mengiyakan, bagaimana dengan ribuan jamaahnya di seluruh Indonesia? Meski secuil dan diawasi gerak-geriknya, tetap saja namanya rabies bisa menular, kan?

Kemudian, para manusia awam tak peduli keamanan saat penangkapan teroris lugu kemarin bagaimana? Apakah begitu cermin rakyat Indonesia kebanyakan? Bisa jadi demikian. Menilik sejarahnya pada perang kemerdekaan, kenekatan atau kepasrahan memang tak terpisahkan. Bayangkan saja, dengan sebatang bambu lancip saja berani menggerebek konvoi bersenjata otomatis, bahkan benteng sekalipun. Kalau bukan keimanan tingkat tinggi pada doa sang kiai, mana mungkin rakyat jelata itu mau setor nyawa cuma-cuma. Bisa jadi itulah kenapa tawaran ISIS berupa surga beserta puluhan bidadarinya dijawab semangat anak-anak muda di seantero negeri. Persis seperti jaman perang melawan Jenderal Mallaby di Surabaya beberapa dekade silam. Nah, awam melawan awam, jadilah guyonan.

Entah kenapa, dunia intelijen begitu seksi di mata masyarakat umum sejak setahun sebelum pilpres lalu. Soal kegigihan barisan Ikhwanul Muslimin menghembuskan via berbagai medianya sih memang sudah sejak belasan tahun silam via Saksi, Sabili, Panji Mas, dkk. Tapi ya hanya secuil peminatnya, itu-itu saja, itulah sebab gulung tikar. Tapi pasca bom meletus kemarin, seolah para intel ini sibuk bermediasosial. Mengabarkan berbagai macam info yang selang berapa jam kemudian diklaim hoax. Herannya, para pembagi informasi berikut gambar menyeramkan itu tak juga mengucap maaf karena telah menyebarkan informasi menyesatkan dan penimbul kekhawatiran. Kalimat yang mendaku diri sebagai pejabat polisi Anu, intel Ani, dan lainnya, bisa begitu dipercaya sampai membuat kawan yang umumnya sarjana universitas ternama dalam kontak saya, mengirimkan berita menghebohkan.

Lalu Hizbut Tahrir Indonesia merilis soal teori konspirasinya di laman mayanya. Lagi-lagi, mulai dari menyalahkan kelambanan respons polisi, sampai menuding Densus 88 melanggar HAM saat menangkap para terduga teroris. Lucunya, tak disinggung sama sekali tentang kekejian pelaku bom yang sudah diklaim merupakan tanggungjawab ISIS. Bisa jadi, dalam pikiran HTI, pemerintah memang selalu salah karena berlandaskan Pancasila. Hukum buatan manusia yang jelas kafir dan terkutuk. Adapun ISIS, karena menjunjung syariat Islam dan khalifah, dimaklumi meski di sana-sini membunuh orang yang bahkan seagama dengannya. Dalam teori intelijen pemerintah selalu bersalah inilah HT berlindung. Memang ironis, tapi mereka ini mengaku sudah khatam bab perpolitikan, meski kuliahnya jurusan pendidikan atau lainnya. Jadi, saya yang sekian tahun menimba ilmu politik, teori maupun praktek, cukup tersenyum saja.

Saya sudah membaca sampai halaman ke-50, tapi yang mengajak debat baru sampai lembar ke-15, mau apa?" kata Kang Sabar pada tamu bermobil loreng-hijau.

(Sumber: Facebook Ihda Himada S)

Saturday, January 16, 2016 - 16:15
Kategori Rubrik: