Hizbut Tahrir & Kudeta Militer

Oleh : Denny Siregar

"Seberapa berbahayanya Hizbut Tahrir sehingga harus dibubarkan ?"

Tanya seseorang di kotak pesanku. Ia lalu bercerita bahwa HTI adalah gerakan non kekerasan. HTI hanya melakukan demo dan orasi dijalan, tanpa anarki. Dan seharusnya pemerintah menghormati hak asasi bersuara tanpa harus membungkam mereka.

Ini pertanyaan salah. Seharusnya dia bertanya, "Kenapa gerakan Hizbut Tahrir dilarang di banyak negara ?" Bukan hanya Indonesia, tetapi juga Mesir, Libya, Suriah, Irak bahkan Saudi melarang keberadaan Hizbut Tahrir.

Dari situ saja seharusnya ia sudah mendapat kesimpulan betapa berbahayanya Hizbut Tahrir, organisasi transnasional ini. HT bukan organisasi kemaren sore seperti beberapa kelompok agama garis keras di Indonesia. Jejak mereka tercatat banyak dalam percobaan kudeta di beberapa negara.

Salah satu pola Hizbut Tahrir adalah penyusupan mereka ke MILITER.

Sengaja saya beri huruf kapital supaya kita paham bagaimana dan dimana HT bergerak. Mereka masuk baik sebagai ulama - mengisi majelis keagamaan - ataupun anggota militer dan membangun kekuatan disana.

Gerakan HT begitu halus sehingga tanpa disadari, mereka sudah menguasai militer dengan "mencuci otak" bahwa pendirian negara Islam adalah keharusan. Dan untuk mendirikan mimpi itu, segala cara harus dilakukan, bila perlu dengan darah dan senjata.

Dan itulah yang terjadi di Yordania, ketika mereka melakukan kudeta militer di tahun 1969. HT melakukan kudeta militer yang sama di Irak dan Mesir (1974) juga Suriah (1976).

Di Pakistan (Mei 2011), beberapa prajurit pengikut Hizbut Tahrir berencana melakukan kudeta militer tetapi berhasil digagalkan.

Meskipun semua kudeta militer mereka gagal, tapi bisa dilihat betapa berbahayanya HT ketika mereka ada disebuah negara. Mereka melakukan perekrutan dan pengkaderan dengan sangat sistematis dan menghasilkan orang2 fanatik yang mau melakukan apa saja demi berdirinya negara Islam.

Meskipun organisasinya dilarang, ideologi penganut Hizbut Tahrir sulit dihilangkan. Karena mendirikan negara Islam adalah bagian dari keimanan mereka. Itulah kenapa di beberapa negara, petinggi2 HT ditangkapi dan dihukum mati. Karena hanya itu solusi menghilangkan gerakan mereka. Meski begitu, di negara demokrasi seperti Indonesia ini hal itu sulit dilakukan..

Berkembangnya Hizbut Tahrir di Indonesia sebenarnya sudah lama, sejak tahun 1980an. Tetapi mereka baru mencatatkan badan hukum mereka pada bulan Juli 2014.

Meski begitu, tahun 2013, HTI pernah tampil di TVRI siaran deklarasi mereka di Gelora Bung Karno dan dihadiri ribuan orang. Mereka meneriakkan anti Pancasila dan demokrasi juga tentang pendirian negara Islam.

Sesudah merajai masjid2 kampus, sekolah2 dan pemerintahan dalam bentuk dakwah dan pengkaderan, pada masa pemerintahan Jokowilah, HTI dibubarkan melalui Perppu tahun 2017. Meski agak terlambat karena penyebaran HTI sudah seperti kanker stadium tinggi di negeri ini, tetapi setidaknya mulai ada perlawanan.

Dari sejarah dan fakta diatas, kita tahu betapa berbahayanya HTI di Indonesia.

Pembubaran mereka bukan solusi final, karena mereka pasti akan menyebar ke partai dan ormas yang seideologi dengan mereka. Tetapi setidaknya kita sudah memulai. Dan stigma "terlarang" HTI menjadikan mereka seperti PKI yang juga dilarang di negeri ini.

Orang2 HTI dengan gayanya yang khas akan selalu membangun persepsi bahwa mereka adalah gerakan dakwah dan non kekerasan. Padahal sesungguhnya, merekalah biang dari segala biang kehancuran sebuah negeri..

Terimakasih, Jokowi dan jajarannya. Terimakasih NU, Ansor & Banser.

Selanjutnya, mari kita hadang dakwah2 mereka yang selalu penuh dengan senyuman manis tapi sesungguhnya sangat berbisa..

Seruput kopinya...

Sumber : facebook Denny Siregar

Tuesday, May 8, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: