Hizbut Tahrir Dibubarkan, PKI Dibiarkan

ilustrasi

Oleh : Makinuddin Samin

Bunyi spanduk para pendemo “Hizbut Tahrir dibubarkan, PKI dibiarkan.” Aku bilang “Kalian menghina penguasa Orde Baru (Orba)!”
.
Soeharto secara sistematis, selama 32 tahun, telah menghabisi PKI; sebagai organisasi politik, ideologinya, pengurusnya, simpatisannya, saudaranya simpatisan, tetangganya pengurus, kambingnya, ayamnya, tikusnya, cindilnya, dan semua yang dilabeli PKI atau komunis. Lalu, sekarang ada yang mengatakan “PKI dibiarkan.” Opo, Cuk?
.
Berapa jumlah korban akibat “operasi pembersihan” PKI dan simpatisannya oleh Orba? Tim pencari fakta yang dibentuk Presiden Soekarno, yang dipimpin oleh Menteri Negara Oei Tjoe Tat menyebut 78 ribu orang terbunuh. Laporan Komando Operasi Pemulihan dan Ketertiban (Kopkamtib) bentukan Soeharto menyebut satu juta nyawa melayang. Sarwo Edhie Wibowo, Mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) menyebut tiga juta orang terbunuh (Buku Pengakuan Algojo 1965-Tempo Publishing).
.
Cukup dengan pembantaian jutaan nyawa orang Indonesia itu? Tidak! Jutaan yang lain ditangkap. Termasuk menangkap orang-orang yang tidak terbukti, tidak terlibat, dan bahkan hanya menjadi anggota organisasi afiliasi. Tahanan Politik (Tapol) bolongan B adalah kategori yang tidak terbukti dan golongan C kategori Tapol yang tidak terlibat langsung. Bahkan yang aneh, ribuan orang lainnya ditangkap tapi tidak masuk dalam golongan manapun, hanya karena terlanjur ditangkap, mereka kemudian ikut ditahan bertahun-tahun, bahkan ada yang puluhan tahun. Kelompok terakhir ini kemudian disebut sebagai golongan X dan Y.
.
Dilansir oleh Indonesia’s Political Prisoners, vol 49 1976-1977 menyebutkan pada 1972 Soeharto telah melepaskan 540 ribu golongan C. Jika mereka ditangkap pada tahun 1965-1966, mereka telah mendekam dalam tahanan selama 5-6 tahun tanpa pengadilan. Pada 1975-1979, Orba melepas lagi sebanyak 500 ribu Tapol golongan C karena tidak mampu memberikan makan. Sisanya masih mendekam di penjara sepanjang Orba berkuasa; di antara ada yang berusia 70-80 tahun.

Tentang kekejaman terhadap Tapol yang terbukti, yang tidak terbukti, maupun yang terlanjur tertangkap, dan lain-lain selama dalam tahanan, silakan baca buku “Politik Pembebasan Tapol” yang diterbitkan YLBHI. Baca juga buku yang menguak kebengisan Orba terhadap para perempuan korban peristiwa '65 yang berjudul "Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65" diterbitkan ELSAM dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan Institut Sejarah Sosial Indonesia.
.
Apakah itu semua cukup? Tidak! Banyak keluarga ex-Tapol yang dibunuh hak perdatanya (susah mencari kerja, sulit berkarir, dan ditutup jalan untuk usaha), juga dibunuh hak-hak politiknya (mereka tak boleh memilih dan dipilih dalam jabatan publik). Mereka juga diberi label sebagai orang/kelompok orang yang tak bersih lingkungan, tak bersih diri, dan lain-lain selama Orba berkuasa.
.
Dengan kekejaman seperti itu, tiba-tiba sekelompok orang menyebut “PKI dibiarkan.” Mereka membandingkan perlakuan berbeda antara PKI dan Hitbut Tahrir. Lho apakah situ ingin diperlakukan seperti PKI? 

Sumber : Status Facebook Faraumaina Sandy

Monday, June 29, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: