Hitam Putih Cara Saya Menjaga dan Mencintai Jokowi

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Hampir semua orang yang pernah membaca tulisan saya sejak lebih dari lima tahun yang lalu pasti tidak bisa membantah bahwa saya pendukung militan Presiden Jokowi. Dan untuk itu semua resiko apapun saya tanggung karena terkadang katanya tulisan saya dianggap agak keras menyerang rival Presiden Jokowi dalam dua kali Pilpres yaitu Prabowo dan kelompoknya.

Untuk membantu Presiden Jokowi saya pun tidak segan-segan melakukan "negative campaign" tentang Prabowo. Semua cerita gelap Prabowo saya kuliti mentah-mentah. Tidak jarang saya mendapat ancaman persekusi atau yang sejenisnya karena ulasan saya. Tapi tidak sejengkalpun saya surut melangkah, karena bagi saya apa yang saya lakukan bukan sekedar membela Jokowi tapi membela NKRI dan Merah Putih.

Selama ini sayapun tidak pernah tercatat sebagai anggota organ relawan manapun. Karena saya khawatir tulisan saya yang terkadang keras akan menjadi beban bagi organ relawan tersebut. Pada masa kampanye saya blusukan kampanye ke berapa daerah dan komunitas untuk mengkampanyekan Pemilu Cerdas. Sebagai volunteer saya bebas ikut dan diajak beberapa kelompok untuk kampanye dan hal itu merupakan bagian kewajiban saya sebagai warga negara.

Dan sekarang pesta demokrasi sudah usai. Dimana saya berdiri ? Saya kembali ke habitat asli saya sebagai trainer dan konsultan sambil sesekali menulis. Karena target perjuangan saya sudah tercapai : Jokowi terpilih menjadi Presiden lagi. Syukur Alhamdulillah Puji Tuhan, Astungkare.

Saya tidak pernah berharap atau mimpi menjadi pejabat negara. Karena saya amat sangat menyadari apa dan siapa diri saya sebagai rakyat jelata. Kapasitas dan kapabilitas saya juga tidak built-in untuk menjadi seorang pejabat. Dan sayapun juga bukan lingkaran dekat Presiden. Jadi dengan tanpa beban saya kembali ke habitat asli untuk mencari sesuap nasi.

Dalam perjalanan hidup saya, hanya sekali punya kesempatan berbincang langsung dengan Presiden Jokowi. Itupun tidak lama. Kepada beliau saya utarakan akan tetap menjadi pendukung beliau tapi sebagai pendukung yang kritis. Karena sejatinya saya tidak pernah mendukung orang per orang secara personal. Kepada beliau saya juga menyampaikan bahwa saya mendukung NKRI dan Merah Putih secara total. Bukan mendukung personal Presiden Jokowi. Beliau setuju.

Sebagai contoh soal anak dan menantu Presiden Jokowi yang berniat menjadi calon walikota, saya juga sampaikan ke beliau bahwa saya tidak setuju dan akan tetap keras menentang. Karena saya menginginkan Presiden Jokowi terhindar dari stigma negatif nepotisme seperti SBY, Megawati dan Soeharto. Ini cara saya menjaga marwah Presiden Jokowi.

Tidak semua kebijakan Presiden Jokowi saya setuju. Ada beberapa yang langsung saya sampaikan kepada beliau. Salah satunya tentang program revolusi mental. Saya sudah memberikan masukan teknis untuk perbaikan dan beliau merespons dengan positif dan meminta saya untuk membantu memperbaiki program tersebut. Saya sudah menyanggupi tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Mungkin beliau masih sibuk atau mungkin sudah lupa. Kita berprasangka baik saja. Toh masih ada urusan negara yang lebih penting dibandingkan hal itu.

Kebijakan lain yang saya kritisi adalah pembangunan jalan tol di berbagai daerah. Bukan pembangunan jalan tolnya yang saya tidak setuju tapi penanganan dampak sosial dari adanya jalan tol tersebut yang saya permasalahkan. Di sepanjang pantai pantai utara Pulau Jawa banyak usaha kuliner dan usaha kecil berbabis rakyat yang terdampak pembangunan jalan tol gulung tikar menjadi korban. Minggu lalu saya juga melihat hal yang sama di sepanjang jalan tol Lampung. Seharusnya Pemerintah Pusat menggandeng pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak sosial dan ekonomi ini lebih dini sehingga tidak timbul korban berjatuhan. Mereka merasa dimiskinkan oleh Pemerintah. Dan dalam hal ini Presiden Jokowi kurang memberikan perhatian yang semestinya.

Juga pada kebijakan pengangkatan anggota kabinet Indonesia Maju saat ini. Tidak 100% saya menyetujui anggota Kabinet Indonesia Maju. Bagi saya tidak masuk akal bagaimana mungkin menteri- menteri yang menurut saya gagal di periode lalu seperti Tjahjo Kumolo dan Yasona Laoly tetap diangkat kembali.

Juga dengan menunjuk Prabowo menjadi menteri pertahanan. Ini juga saya sangat tidak setuju. Bukan sekedar dia bekas rival Pilpres atau rekam jejak masa lalu yang berdarah-darah tapi juga rekam jejak loyalitasnya kepada atasan. Bagi saya ini sangat membahayakan posisi Presiden Jokowi. Mungkin banyak orang tidak percaya, tapi beberapa analis militer dan pemerhati politik senior mengamini kekhawatiran saya.

Di samping itu menukar posisi Susi Pudjiastuti dengan Edhi Prabowo orang Gerindra di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Menurut saya ini perjudian besar bagi Presiden Jokowi. Setelah kita melihat kiprah Menteri Susi yang relatif cemerlang kini harus diganti dengan politikus yang pengetahuannya masih nol besar di bidang kelautan dan perikanan.

Jadi apakah saya harus diam membisu ? Tidak mungkin, bukan ? Setidaknya ini menjadi catatan kecil untuk Presiden dan tempaan semangat bagi Yang bersangkutan untuk menunjukkan performa kerjanya.

Saya berharap kekhawatiran saya salah. Tapi tetap mengkritisi kebijakan Presiden atau pemerintah adalah cara saya mencintai Indonesia, mencintai Presiden Jokowi dan sekaligus menjaga Indonesia.
Bagi yang tidak sependapat dengan saya tidak ada masalah. Tapi jangan menghakimi dengan mengatakan pendapat saya salah. Karena sayapun tidak akan mencela pendapat Anda. Paham kan ?

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Saturday, October 26, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: