Hiperealita Politik

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ada tulisan bagus ttg hal diatas, pengertiannya adalah bhw bangsa di dunia ini nyaris 100% berpenyakit itu, apa Hiperealita tak lain adalah manusia seperti kita yg jauh melayang diatas realita, namun sebenarnya hal ini terjadi karena pengkondisian yg dilakukan oleh pelaku yg pintar menjual dan membangun nutrisi sebuah brand, contoh ; Hermes membranding brand sedemikian kuatnya sampai logika kita pecah, rasional kita hancur, bagaimana tidak, sebuah tas tangan wanita bisa berharga 2 milyar rupiah, padahal fungsinya sama dgn tas kulit buatan Seragen bhkn mungkin lebih kuat. Begitu juga Starbuck, kedai kopi Amerika yg menjual kopi 60.000 per gelas ini hanya menjual brand, kopinya mungkin kalah dgn kopi Kok Tong di SIANTAR, atau kopi Mandailing di Natal, tapi rasa menjadi orang Amerika lgsg terasa saat keluar dari Starbuck, dan tetap menjadi orang kampung saat keluar dari kedai kopi Subuh punyanya Ationg di pasar Tebing Tinggi, tapi realita kopinya tetap ada. Sementara yg keluar dari Starbuck serasa menjadi sosok yg lain, dan lupa rasa kopinya.

 

Hiperealita ternyata tidak saja menyerang manusia pemakai produk branded, tapi juga politisi yg nggak pakai brain, mereka mendudukkan dirinya diatas rata2 dan merasa paling bisa, parahnya hal yg sama diikuti para fans yg juga kena serangan Hiperealita cuma bedanya sang idola serasa bisa semuanya, cindelnya lupa sedang mengidolakan orang gila yg mendudukkan dirinya di dunia hayal bahwa kapasitasnya bisa mendunia.

Belakangan ini kita dihadapkan pada tontonan itu, banyak sosok yg melayang diatas realita dirinya. Kita comot saja seperti Din Samsudin yg menawarkan dirinya jd wapres, emang dia siapa, apa kapasitasnya, gelarnya, jabatannya, atau apa. Amin Rais pernah mengatakan menunggu Jokowi datang di rumahnya, dia siapa, dalam kapasitas apa, dan mau apa. Dan banyak lagi hiperealita atas dirinya. SBY, AHY, FZ, dst adalah manusia hiperealita.

Kalau tadi kita katakan membayar mahal starbuck dari rasa kopi yg sebenarnya kepada kopi plus gengsi, tapi sayangnya kita membayar mahal politikus kelas kakus, murahan, pembohong, munafik, yg harusnya kita bayar seadanya, namun kita terjebak oleh balutan gaya mereka yg seolah-olah, namun sejatinya sampah.

So, kita mundur selangkah utk waspada agar kita melihat realitanya bahwa manusia yg terus berteriak menyalak menyalahkan semuanya yg di kerjakan pemerintah adalah musuh nyata kita, dan ini fakta. Boni Hargens menyebut dgn gamblang siapa mereka yg berencana mau melakukan kudeta, siapa bandarnya dan dimana. Tidak terlalu sulit menebaknya, karena mereka kasat mata, kita hadapi mereka tanpa gelap mata, tapi jangan juga tutup mata.

Mari kita ikuti Jokowi, langkahnya akurat dan pasti karena dia telah melatih intuisinya dgn penuh realita, bukan coba-coba. 

TAK USAH URUS USA KARENA DIDEPAN MATA KITA MAKIN JELAS MUSUH KITA SIAPA.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, June 7, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: