Hingga Kini, Indonesia Masih Bantu Bangladesh

Ilustrasi

Oleh : Amin Sudarsono

Hari Jumat datang. Rindu mau mulai menyerang. Sudah sepekan kami ada di Cox's Bazar, Bangladesh. Rasanya ingin setiap hari bercerita tentang aktivitas kami, tapi setiap sampai penginapan tubuh jarang bisa kompromi. Lelah berjalan mengitari kamp-kamp pengungsi saudara kita Rohingya.

Kami setiap hari membawa yang berbeda. Selasa kemarin panel tenaga surya kami bawakan untuk 150 keluarga. Termasuk pemasangannya, sehingga bedeng bambu tempat mereka berteduh bisa agak terang dengan daya 65 Watt. Kipas angin dua buah juga lumayan menyejukkan di tengah panas terik udara. Terimakasih untuk Bazma dan YDSF.

Usai memasang di beberapa rumah, kamu ke Child Care Home, ya semacam sekolah untuk anak-anak Rohingya. Gembira melihat mereka baca puisi, bernyanyi, menulis dan menggambar. Oh ya, anak-anak ini dilarang belajar bahasa Bangla. Pemerintah melarang. Jadi, para guru hanya mengajar bahasa Burma.

Rabu kemarin kami salurkan paket makanan untuk 500 keluarga. Ini di kamp Kutupalong 5. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari jalan utama. Rusaknya bukan kepalang. Terguncang badan karena naik bajaj ke sana. Sehari penuh berkeringat.

Kamis kami lakukan penyaluran makanan nutrisi untuk anak-anak. Ada 250 anak di 6 kamp. Seluruhnya bisa makan daging sapi.

Usai itu, kami kembali ke Kutupalong 5. Kali ini payung, dan non-food item yang dibagikan. Ada sarung, pembalut, alat kebersihan rumah.

Malam harinya, kami hadiri pertemuan internasional bersama mitra yang bekerja di Cox's Bazar. Dari IHH Turki, Al Ihsan Australia dan FOZ.

Tadi pagi, Jumat, kami bagikan 600 paket untuk bayi. Ada cereal, tambahan makanan untuk merekam yang mengalami busung lapar. Semua dilakukan di klinik sementara yang dikelola Small Kindness Bangladesh.

Sebelum shalat Jumat, kami bagikan alat cukur dan perangkat lengkap. Sepuluh orang pertama menerimanya sebagai modal usaha produktif. Gunting, pisau, sisir, krim, dua kursi, cermin dan lainnya. Wajah bahagia terpancar.

Besok, kami rencana membangun lantai masjid, klinik sementara dan penyaluran shelter.

Masing-masibg ada kisah cerita, foto dan video. Andai lancar, dan luang waktu, ingin rasanya saya bagi ke Anda. Agar kita sadar, ada sejuta manusia tanpa kewarganegaraan di sini, yang tidak tahu masa depannya.

Hari ini ada empat tim relief dan dua medis. Besok sore, dua tim medis itu, dokter Subhan dan Nrs Happy dari MDMC akan pulang, mas Andri Septiono dari YDSF juga selesai misi.

Alhamdulillah, telah datang baru saja, dua perawat MDMC Mas Nunung dan Mas Novan, serta tim relief Kang Riyadi dari DT Peduli.

Sepekan ke depan, saya dan tiga tim relief dari DT Peduli dan Yayasan Suluh Insani akan bertahan. Sebab masih ada penyaluran bantuan belum selesai.

Semoga lancar pekerjaan kami, dan kisah lanjutan terus bisa kami tulis.

Sumber : Status Facebook Amin Sudarsono

Sunday, April 22, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: