(Hilangnya) Kearifan Beragama

Oleh: Sholahuddin Muzayin

 

“Sholluu fii buyutikum...”

Muazin di masjid kampung saya mengumandangkan azan dengan kalimat itu saat hujan deras. Itu terjadi sewaktu saya masih Sekolah Dasar (SD), lebih dari 30 tahun silam. 

 

Saat kali pertama mendengar suara azan tersebut, saya tanya ke ayah yang kebetulan ketua takmir masjid di kampung saya. Apakah ini artinya ayah? 

“Oh, itu maksudnya muazin minta kita salat di rumah masing-masing karena hujan,” begitu jawaban ayah. Sejak itu saya tidak kaget kalau mendengar azan seperti itu lagi. Orang-orang di kampung saya di Walen, Simo, Boyolali sana pun taat seruan muazin. Mereka tidak ke masjid, tapi salat di rumah masing-masing. Tidak ada yang protes. 

Kalau dalam beberapa hari ini kalimat “Sholluu fii buyutikum...” dikumandangkan di masjid-masjid pun sebenarnya bukan hal baru. Tidak perlu menunggu serangan virus Covid-19 untuk mengumandangkan azan seperti itu. Saat hujan lebat dan telah masuk waktu salat, sah-sah saja muazin menyeru untuk salat di rumah masing-masing. Toh azan seperti itu sudah dipraktikkan saat zaman Nabi Muhammad. 

Jurnalis senior Dahlan Iskan, dalam sebuah tulisan “Azan Baru” mengaku seumur hidup baru mendengar suara azan seperti itu. Tentu Dahlan Iskan tidak salah karena ini menyangkut pengalaman personal, meski saya sudah mendengarnya sejak SD. 

Lantas mengapa akhir-akhir ini seruan untuk salat di rumah (untuk sementara) banyak dipersoalkan orang? 

Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih bahayanya air hujan? Toh kalau hujan deras tetap bisa pakai payung untuk ke masjid? Kalau gak punya payung bisa pakai daun pisang seperti warga di kampung saya dulu? Atau kalau pun harus berhujan-hujanan, toh itu tidak membahayakan? Paling ya basah kuyup. Risiko terburuknya ya masuk angin yang tidak mengancam jiwa. Tapi mengapa tetap ada seruan untuk salat di rumah? 

“Agama (Islam) itu memberi banyak keringanan atau rukhsah kepada para pemeluknya,” begitu ayah melanjutkan. Rukhsah itu diberikan agar pemeluk Islam ini tidak ribet saat menjalankan perintah agama. Ringan-ringan saja. Begitu nasihat ayah yang masih tergiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini. 

Salat Jamak 

Bahkan ketika hujan deras tiba saat salat sudah berlangsung, imam di kampung saya sering men-jamak salat dua waktu. Salat Jamak artinya mengumpulkan dua salat fardu yang dilakukan secara berurutan dalam satu waktu. Salat jamak karena hujan biasanya dilakukan bila jarak antara dua waktu salat itu berdekatan. Misalnya saat salat magrib berlangsung, tiba-tiba hujan deras turun. Setelah salat maghrib, imam kemudian mengumumkan kepada jamaah untuk menjamak salat dengan salat isak. Bahkan saat itu salah satu imam juga berani memutuskan menjamak antara salat zuhur dan asar saat hujan. Padahal jarak zuhur hingga asar sekitar 3 jam. Bisa jadi hujan sudah reda saat asar tiba. 

Apakah saat itu ada umat yang protes? Tidak ada. Bahkan saya begitu girang kalau ada imam yang menjamak salat. Yah, namanya anak-anak. Pikirannya simpel, mau enaknya saja he..he... 

Dulu, kampung saya, Walen, dikenal sebagai desa yang religius. Konon, “Walen” berasal dari kata “wali”. “Walen” artinya tempat para wali. Banyak tokoh agama dan kiai di desa ini. Ada Kiai Muchtarhadi, Kiai Habib, Kiai Abu Amar, Kiai Abuchaeri, Kiai Dahlan, ada masih ada beberapa, tapi sebagian saya lupa. Maklum sudah lama...

Mereka adalah para kiai bijak. Para kiai itu bisa mengimplementasikan praksis agama dengan penuh kearifan. Bisa saja di antara para kiai itu ada perbedaan pendapat dalam beberapa hal, tapi perbedaan itu tidak mengurangi keteduhan mereka dalam melayani umat. Situasi keagamaan pun jadi adem. Seperti keputusan muazin yang menyerukan salat di rumah saat hujan, atau keputusan imam saat menjamak salat, tidak pernah menimbulkan masalah. 

Situasi ini begitu bertentangan dengan praksis keagamaan saat kita menghadapi ancaman besar virus Covid-19. Seruan sementara untuk tidak salat berjemaah di masjid pun ditanggapi secara beragam. Ada yang menerima, tapi banyak pula yang menentang. Orang-orang yang “terlalu bersemangat” beragama ini yang banyak menentang dengan berbagai narasi. 

“Mall saja tidak ditutup, mengapa justru masjid tutup? Wong ke pasar saja berani, mengapa ke masjid tidak berani? Tidak perlu takut virus Corona, takutlah kepada Allah. Kita sedang dalam krisis, mari kita memakmurkan masjid dengan salat berjemaah...” 

Bahkan ada pihak yang menurunkan paksa pengumuman di masjid yang menyerukan umat untuk sementara salat di rumah masing-masing. Mereka menurunkan spanduk sambil bertakbir : Allahu akbar....! 

Saya sih berpikir simpel saja. Lebih berbahaya mana air hujan dengan Covid-19?. Kalau gara-gara air hujan saja boleh tidak ke masjid, lantas saat menghadapi Covid-19 mengapa jadi ribut? Bukankah seruan pemerintah, MUI, NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid, dan sebagainya itu juga bagian dari “Sholluu fii buyutikum” seperti disampaikan para muazin?

Toh bukan hanya di Indonesia saja. Arab Saudi yang sering disebut sebagai khodimul haramain (penjaga/pelayan dua tanah suci : Mekah dan Madinah) pun menerapkan langkah lebih tegas : menutup masjidil haram, tempat kakbah yang menjadi kiblat umat Islam. Sebuah langkah luar biasa dalam situasi luar biasa. Toh semua untuk kemaslahatan bersama, sesuai misi agama diturunkan dari langit. 

Apakah situasi ini karena hilangnya kearifan dalam pelaksanaan agama?... 

Ah, tiba-tiba khayalan saya kembali ke situasi beragama di kampung saat saya masih kecil. Teduh tanpa gejolak.

Sungguh aku rindu...

Colomadu, 24 Maret 2020

 

(Sumber: Facebook Sholahudin Muzayin)

Tuesday, March 24, 2020 - 17:30
Kategori Rubrik: