Hikmah Tak Mudik Ke Rumah

ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan dan diiringi bulan Syawal. Itu menandakan bukan hari Raya bagi umat Islam dunia tapi sudah menjadi tradisi mudik rakyat Indonesia. Tidak peduli apa suku, bahasa hingga agamanya. Mudik sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Pun mudik tidak hanya bermakna meminta maaf pada orang tua namun juga mendoakan orang tua di makam bagi yang sudah tak memiliki orang tua. Rasanya kurang afdhal bila tidak dilakukan.

Padahal di negara lain, tidak ada namanya mudik bahkan di Arab Saudi, negara Islam. Bahkan dijaman Rasulullah tidak ada tradisi mudik. Nah kebetulan saat ini sedang marak pandemi Corona dan pemerintah sudah resmi melarang untuk mudik pada lebaran kali ini.

Bagi masyarakat kita tentu bukan hal mudah menahan diri tidak mudik apalagi inilah dalam sejarah budaya kita tidak melakukannya. Pun dengan shalat Idul Fitri kemungkinan banyak yang meniadakannya. Ormas Islam NU dan Muhammadiyah sendiri sudah menganjurkan untuk tarawih dan shalat Idul Fitri dirumah. 

Pertimbangan ini tidak mudah diambil tetapi demi kebaikan bersama, akhirnya pemerintah memutuskan untuk melarang mudik. Meski faktanya beberapa masyarakat sudah mencuri start mudik. Masyarakat mestinya mau memahami mengapa pemerintah mengambil keputusan larangan mudik tahun ini. Resiko penyebaran corona akan makin massif bila warga nekad mudik. Bukan hanya mayoritas pemudik berasal dari Jakarta namun warga desa banyak yang berusia lansia sehingga potensi tertular makin terbuka lebar.

Kita bisa menahan diri tidak mudik toh sudah ada teknologi yang memudahkan kita berkomunikasi dengan keluarga di desa. Selain itu mereka pasti mau memahami mengapa kita tidak mudik. Tidak perlu khawatir mau apa di Kota? sudah banyak pemerintah daerah menyalurkan bantuan termasuk dari Presiden secara pribadi mengirimkan sembako. Sehingga kita bisa bertahan.

Biaya mudik dan hidup dirumah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tempat selama ini hidup. Apalagi dirumah juga tidak bisa bekerja.

Bahkan tradisi saat lebaran, orang dari perantauan sering bagi-bagi uang pada anak-anak. Otomatis beban pengeluaran akan makin besar. Ditambah lebaran jatuh Bulan Mei dimana pada Juni tahun ajaran baru dimulai. Tentu butuh biaya untuk sekolah bagi anak-anak. Yang jelas paling beresiko tertularnya Corona ke orang-orang yang kita sayangi. Bukan hanya tenaga, pikiran, uang bahkan kita terancam kehilangan orang-orang yang kita sayangi.

Pikirkan sekali lagi, bila mudik akan jauh lebih banyak madharatnya dibandingkan manfaatnya. Tahan diri dulu toh prediksi pemerintah Juli tren penyebaran Corona turun dan berakhir sekitar Oktober November.

Lebih baik manfaatkan waktu untuk banyak memikirkan apa yang bisa dilakukan selama kita stay at home atau bekerja. 

Bila tetap ingin membantu orang tua, kirimkan dana untuk menghadapi Ramadhan maupun Idul Fitri sehingga ketidakhadiran kita tetap akan berarti. Percayalah, yang tidak mudik bukan hanya kita namun juga banyak masyarakat lain yang juga mengurungkan niat mudik. Pun tidak mudik bukan berarti ibadah puasa atau idul fitri kita berkurang pahalanya, ini berkaitan dengan madharat. Jadi pikirkan bila mau mudik tahun ini. 

Tuesday, April 21, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: