Hijrah

ilustrasi

Oleh : Nophie Kurniawati

Lagi rame fenomena hijrah. Hijrah ala seleb. Niat dan tujuannya mungkin baik. Ingin memperbaiki diri dalam menjalankan agama yang dia yakini. Tentu ini adalah hal yang sangat baik, dianjurkan bahkan di perintahkan.
Tetapi prakteknya kadang malah tidak sesuai dengan niatnya. Entah karena salah memahami atau salah tuntunan. Misalnya berhenti dari PNS lalu berjualan baju atau jualan buku atau jualan makanan. Sampai sini tidak ada yang salah. Tanpa alasan apapun hal itu juga boleh2 saja dilakukan. Tapi ketika ditanya alasannya, ada yang menjawab bahwa menjadi PNS itu makan riba, digaji pemerintah yang asal uangnya tidak jelas, bisa dari riba dari sumber2 yang tidak halal dll, nah cara berfikir seperti ini kejauhan jadinya nyasar.

Bayangkan, kalau semua orang, muslim terutama, berfikir seperti dia, dan lalu semua PNS muslim itu resign dan alih profesi jadi pedagang semua, lalu negara yang kelola siapa? Aturan2 perdagangan, produksi, export, import, regulasi2 yang bikin siapa?. Padahal yang jadi PNS itu juga termasuk guru, dokter, hakim, jaksa, insiyur, polisi, tentara dll. Apa iya semua profesi itu akan di hindari?. Tutuplah negara. Sementara di jaman nabi, jaman khilafah pun ada orang2 yang pekerjaannya adalah seperti PNS di jaman ini. Sekarangpun ustad idola yang masih PNS juga ada. UAS misalnya.

Kalau memang mau makan uang yang halal meski jadi PNS, seharusnya dengan menjaga integritas dan akhlak dirinya. Misalnya, masuk PNS jangan nyogok. Jangan terima atau kasih suap dalam pekerjaan. Jangan ngambil yang bukan haknya, seperti mark up biaya dinas dll. Datang dan pulang tepat waktu sesuai aturan. Jangan menunda2 pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Jangan suka mbolos. Melayani dengan baik. Kalau perlu lebihkan pengabdian sebagai sedekah, dll. Itu cukup. Soal gaji itu duit darimana itu khan sudah urusan orang lain, bukan urusan dia. Asal cara yang dia lakukan sudah sesuai syariat, maka yang dia terima khan juga halal.

Memangnya kalau berjualan itu sudah pasti duit yang dia terima berasal dari sumber yang halal ?. Bagaimana kalau yang beli dagangan dia itu koruptor ?. Maling ? Rampok ? Penipu ? Pembobol ATM ? Pelacur dll yang mendapatkan uang dengan cara2 tidak halal. Apakah mereka tidak boleh beli dagangannya?. Darimana bisa tahu itu duit asalnya halal atau tidak?.

Ada juga pedagang yang cara berjualannya tidak halal. Misalnya curang dalam timbangan. Ambil untung berlebihan. Menipu soal kwalitas, barang jelek di bilang bagus. Bukankah itu cara2 yang tidak halal. Jadi, PNS atau pedagang bukan soal pekerjaannya, tapi soal bagaimana kita menjalani pekerjaan itu.

Ada juga seleb yang berhijrah lalu ujug2 mengganti semua model pakaiannya. Dari baju biasa jadi gamis, jubab, jilbab puanjang, malah langsung cadaran. Dari klimis lalu brewokan. Dari sarungan jadi celana cingkrang. Dari aku dan kamu, jadi ana antum. Akhi ukhti. Dll. Tapi diwaktu yang sama jadi jaga jarak sama orang lain. Sama tetangga. Mulai pilih2 teman, pilih2 masjid, pilih2 pengajian. Sampai yang ekstrim bikin tembok pembatas, yang diluar sana bid’ah, sesat, pendosa, saya doank yang bener. Ini sih hijrah yang kesasar. Dari normal jadi embuh banget.
Menjalankan sunnah Rasul itu baik. Boleh2 saja piara jenggot kalau punya, berjilbab atau bercadar, celana cingkrang, pakai gamis. Boleh. Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah akhlak dan perbuatan baik, kepada diri sendiri, kepada sesama dan kepada Allah. Makanya perintahnya adalah fastaqbikhulqairat. Artinya berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan berlomba-lomba panjangin jenggot, lebarin jilbab atau cingkrangin celana.

Dulu, Rasul menjawab pertanyaan sahabat untuk memudahkan membedakan muslim dengan yahudi di pasar, maka muslim disarankan untuk memiara jenggot dan mencukur kumis. Kemudian menganjurkan untuk menghindari isbal karena jubah panjang itu sering dipakai oleh orang2 yang sombong dan berlebihan. Meskipun begitu, sahabat Umar bn Khatab dikecualikan dari golongan itu, meski Umar pakai jubah yang panjang, karena Umar terbukti bukan orang yang sombong. Jadi kalau sekarang ada orang yang pakai jubah pendek, celana cingkrang tapi malah jadi sombong dan berlebih2an itu khan jadi keliru. Kok malah dia jadi orang yang oleh Rasulullah disuruh menghindari ? Padahal tujuan dia ingin meniru Rasulullah. Itu khan nyasar namanya.

Yang paling ekstrim adalah, saat orang yang mengaku baru berhijrah sudah berani membuat stempel dan labeling kepada orang lain. Berani menghukumi orang lain keliru, tidak paham agama, liberal bahkan kafir. Astaghfirullah.
Ada yang baru belajar satu dalil tentang “sampaikan walau satu ayat” lalu berani mendebat, membantah bahkan menyalah-nyalahkan pendapat ulama yang sudah ngaji dan mondok bertahun-tahun dari sumber ilmu yang jelas. Inalillahi…

Poinnya saya ingin sampaikan, untuk kita semua, terutama teman2 muslim, bahwa hijrah itu baik, kalau tujuannya memang untuk memperbaiki diri. Belajarlah dulu dari sumber2 yang benar, guru2 yang benar, supaya hijrahnya tidak keliru. Dan setelah belajar dan merasa punya ilmu, maka yang pertama-tama harus diperbaiki adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

#NK

Sumber : Status Facebook Nophie Kurniawati

Saturday, September 7, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: