Hijrah, Berpindah Dari Kegelapan Kepada Cahaya Tentulah Hal Baik

ilustrasi
Oleh : Muhammad Jawy
 
Namun hati-hati, apakah hijrah yang didapatkan itu betulan hijrah, atau "hijrah"?
 
Karena banyak juga kegelapan lain yang menyaru sebagai cahaya, dan korbannya tidak sedikit. Umumnya korban berasal dari kalangan yang dari kecil tidak mendapat pendidikan agama dengan baik dan runtut, sehingga mudah terkecoh oleh kemasan "kegelapan yang menyaru sebagai hijrah".
 
Waktu SMA kelas 1 saya pernah didatangi berkali-kali oleh agen NII. Bahasanya sangat meyakinkan buat saya yang pendidikan agama hanya terbatas "sekolah Arab aka belajar ngaji turutan" di pesantren. Nyaris saya terjerat, kalau tidak diselamatkan oleh salah satu sahabat saya.
 
Dan ketika di ITB, rupanya ada puluhan mahasiswa yang hancur kuliahnya karena terjerat NII ini. Mereka yang semester awal nilainya banyak yang bagus, kemudian bisa mendadak nasakom (nasib satu koma), karena dipaksa untuk setor uang bulanan yang nominalnya jutaan, angka yang fantastis untuk seorang mahasiswa. Ada yang jadi penipu, supaya bisa dapat uang, karena pahamnya adalah di luar mereka semua kafir, jadi boleh ditipu. Ada pula yang sampai melacurkan diri, karena mereka menganggap syariat belum berlaku. Iya bahkan sholat pun belum dianggap wajib oleh mereka.
 
Suatu hari orangtua mahasiswa dipanggil pihak kampus, karena anaknya tidak pernah kelihatan di kampus. Kedua orangtua tergopoh datang ke Bandung, menengok kos anaknya. Ia melihat anaknya pucat dan kurus, sebelum mereka sempat berdialog panjang lebar, si anak meminjam mobil orangtuanya untuk pergi sebentar.
 
Ternyata, mobil orangtuanya langsung dilego. Si anak itu ternyata lagi kelabakan untuk mengejar target setoran bulanan. Semakin terkejutlah kedua orangtuanya. Anak itu tak berani keluar dari NII, karena kalau keluar berarti dianggap murtad. Dan ancamannya adalah bunuh!
Itu di tahun 2000-an awal. Sekarang kita memasuki babak yang lebih ekstrim dan sadis lagi, karena yang hadir adalah ISIS, yang lebih bergelimang jebakan.
 
"Path of salvation"
"Kesempatan untuk menebus dosa'
"Jalan pasti menuju surga"
"Khilafah sudah berdiri!"
 
Dan benar, korbannya jauh lebih banyak lagi. Termasuk nama-nama yang diulas dengan lugas oleh majalah Tempo ini. Tak sedikit dari mereka berpendidikan tinggi, punya jabatan dan pekerjaan yang baik di negeri asalnya. Mereka termakan oleh "kegelapan yang menyaru hijrah".
 
Sekarang tinggal penyesalan, dan nasib mereka sungguh terkatung-katung. NKRI juga tak akan semudah itu menerima mereka kembali, kalau tidak ada jaminan, mereka betulan sembuh dari penyakit akutnya.
 
Dan kasihan para pemudi yang sudah terlanjur dijadikan pelampiasan nafsu para petempur ISIS dengan kedok sebagai jihad-nya wanita.
 
Kasihan para anak yang masa depannya hilang, karena kecerobohan orangtuanya yang menyesatkan hidup mereka dengan membawanya ke tempat "hijrah" itu.
 
Ini pelajaran penting bagi sesiapa yang bertekad kuat untuk hijrah, pastikan hijrahnya tidak justru menjerumuskan kepada kesesatan dan kegelapan yang malah lebih parah. Untuk itu, lihat gurunya, lihat lingkungannya.
 
Jangan pernah mau diajak bergabung kepada kelompok yang menutup diri dari muamalah dengan orang lain.
 
Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy
Wednesday, June 19, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: