Hidup untuk Hidup

ilustrasi
Oleh : Budi Setiawan
Duka mendalam kita sampaikan kepada keluarga penumpang Sriwijaya SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, empat menit setelah lepas landas.
Pilu hati kita menyimak suami kehilangan anak dan istri yang begitu lama didambakan untuk bertemu setelah kian lama berpisah.
Bergetar hati kita mendengar kabar seorang ibu pingsan berkali-kali mendengar kabar anak, mantu, besan dan cucunya menjadi korban kecelakaan yang mengenaskan ditengah awan kelabu Covid 19 menyelimuti Indonesia.
Kematian yang tiba-tiba selalu menggedor hati yang kuat sekalipun.
Seluruh syaraf dilumpuhkan oleh luapan emosi yang impulsnya membuat otak memerintahkan seluruh jaringan organ tubuh manusia untuk menurunkan kinerjanya ditingkat paling minimum
Ini adalah sistem pertahanan tubuh manusia yang didesain Tuhan Sang Pencipta agar kita tidak merusak diri sendiri dari dalam.
Yang didesain agar dalam keadaan apapun manusia dipaksa untuk hidup. Oleh tubuh kita sendiri. Apapun keadaan yang kita alami.
Mekanisme ajaib ini menyadarkan kita semua bahwa hidup itu untuk hidup.
Bukan untuk mati.
Hidup untuk menyebarkan kebaikan di muka bumi ini. Hari ini. Detik ini. Bukan nanti.
Kehidupan yang lebih baik setelah kematian hanya sebuah janji.
Yang sampai kapanpun tidak pernah akan diketahui.
Karena yang mati tidak pernah mengabari.
Kepada yang hidup sampai detik ini.
Kita yang masih bernafas hanya bisa menghargai karunia Tuhan diberikan kesempatan menyaksikan tragedi kemanusiaan yang mengharu biru.
Yang membuat hati yang tinggi menjadi rendah.
Yang membuat hati yang marah menjadi pasrah sembari terpekur diam membiarkan hati ini tergores oleh rasa haru yang mendalam hingga tak terasa air mata jatuh kepangkuan.
Dan manakala kita tegakkan kepala, kita menghela nafas panjang dan sejenak berdoa :
Selamat menuju keabadian yang entah bagaimana suasananya disana.
Kami yang masih hidup mengenang semua kebaikan kalian.
Bahwa kalian semua adalah pejuang. Yang dalam aneka maksud dan tujuan.
Tujuan akhir kalian yang sekarang jasadnya berserak di lautan adalah semata untuk kebaikan.
Berkumpul dengan keluarga dan berjuang untuk kembali ke keluarga kemudian menaburkan cinta disana.
Al Fatihah untuk korban Sriwijaya Air SJ 182.
Semoga keluarga korban diberikan penghiburan dan tabah hingga bisa melanjutkan hidup.
Sumber : Status facebook Budi Setiawan
Saturday, January 16, 2021 - 14:00
Kategori Rubrik: