Hidup Makin Sulit? Iya Kata Kaum Penggerutu yang Kufur Nikmat

Oleh: Niken Satyawati

Pilpres masih lama. Calonnya memang sudah pasti. Namun yang lebih pasti lagi adalah mulai membanjir lagi fitnah dan gorengan isu dari tukang jual hoax, kelompok penggerutu, kaum pesimis dan tukang hasut. Atau perpaduan dari berbagai kategori itu.

Isunya itu-itu saja. Hidup makin sulit, pengangguran dimana-mana. Gitu terus diulang-ulang. Yang mengherankan adalah kawan-kawan saya yang sebenarnya terpelajar ikut memakan mentah-mentah fitnah dan hasut yang ditiupkan. Betul kata pakar deradikalisasi Indonesia, Haryoko R Wirjosoetomo. Fitnah dan isu yang ditiupkan melulu yang berhubungan dengan soal perut. Sehingga orang tak akan mencerna informasi melalui logika. Melainkan langsung masuk ke croc brain dan membakar emosi. Mau hoax atau tidak, yang penting marah dulu.

 

Narasi yang dijual adalah narasi-narasi basi. Mereka memaparkan data, tapi data yang saa yang sudah dibangun sejak sebelum Pilpres 2014 berlangsung. Tentang angka kemiskinan sekian, angka pengangguran sekian. Mereka menyebut itu nawa duka. Ya iyalah memang angka kemiskinan dan pengangguran tinggi, tapi itu kan zaman sebelum Pak Jokowi menjadi presiden.

Dan data basi itu digoreng terus oleh penghasut secara sistematis dan terstruktur untuk menumbuhkan pesimisme, membangkitkan kemarahan. Gerombolan penghasut dan tukang “ngarang” ini sengaja menggunakan data basi dalam konteks sekarang ketika semua fakta sudah berubah. Mereka tak peduli bahwa akhirnya semua pernyataan itu jauhnya menjadi fitnah. Yang nerima informasi juga sama parahnya, tak ada tabayun, dan mereka menjadi gerombolan tukang fitnah berjamaah yang tak lagi peduli ajaran agama bahwa “Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan.”

Mereka terus mengatakan hidup makin susah, padahal faktanya harga-harga stabil. Inflasi juga tidak tinggi, hanya 3,5%, kurang dari separo dibanding era pemerintahan sebelumnya yang mencapai 8,5%. Mereka teriak cari uang sulit, padahal faktanya angkatan kerja terus naik di era Presiden Jokowi. Dan kata lain angka pengangguran justru turun.  Turun Angkatan kerja naik sebanyak menjadi 133.94 Juta di Februari 2018, dibandingkan dengan 131,55 Juta pada Februari 2017, jadi ada kenaikan  2,39 juta. Peluang kerja dimana-mana. Start up di bidang teknologi informasi membuka peluang kerja bagi siapapun yang mau. Hanya pemalas yang tidak mau bekerja.

Pada satu sisi ketika orang-orang kaya berteriak-teriak hidup susah, kenyataannya persentase penduduk miskin terus menurun. Di era pemerintahan Presiden Jokowi kemiskinan mencapai rekor terendah (9,82%). Bahkan ini sekaligus rekor sepanjang sejarah Republik Indonesia dari sebelum masa kemerdekaan.

Saya pernah menegur kawan yang terus berteriak hidup susah dan menyalahkan pemerintah. Saya bertanya, “Apakah hidupmu sebelum ini baik dan baru sekarang susah?” Dia menjawab, “Hidupku susah sejak dulu.” Lalu saya timpali, “Yasudah, itu menjelaskan semuanya.”

Artinya, sebenarnya tidak sekarang saja hidupnya susah. Sejak dulu juga susah, dan dia sendiri yang menciptakannya. Yang lucu adalah saya melihat hidupnya sebenarnya baik-baik saja, anak-anak bisa sekolah, bahkan sesekali dia pergi liburan. Tapi dia terus berteriak hidup susah. Jadi dasarnya dia memang orang yang kufur nikmat, tidak bersyukur, dia orang yang gampang mengeluh.

Saya jadi ingat ayat dalam Alquran, barang siapa bersyukur akan ditambah nikmatnya. Barang siapa kufur, maka azab Allah sangat pedih. Saya simpulkan, orang itu lagi kena azab Allah karena terus mengeluh dan kufur nikmat.

Friday, September 7, 2018 - 09:45
Kategori Rubrik: