Hidup Dengan Cara Islami

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumudin bercerita bahwa kehidupan manusia itu di ukur bagaiamana ia memanfaatkan waktunya untuk berbuat kebajikan. Kita kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk tidur ketimbang untuk hal-hal yang bermanfaat dan ibadah. Coba bayangkan, jika rata-rata usia umat manusia di jaman Nabi Muhammad ini sekitar 60 -70 tahun dan waktu yang digunakan untuk tidur sekitar 8 jam dalam sehari. Seperti diketahui, kebanyakan orang—terutama di Indonesia—tidur mulai pada pukul 20.00 malam dan bangun sekitar pukul 05.00 pagi.

Karenanya, yang membedakan kualitas kemuliaan seseorang adalah dari pemanfaatan waktu untuk kebajikan. Kalau waktunya habis dengan kerja-kerja intelektual, spiritual, dan kebermanfaatan kolektif maka dia akan menjadi pribadi yang mulia. Karenanya, seseorang akan jadi mulia dengan menghabiskan waktu-waktunya untuk belajar dan menghiasi waktunya dengan perbuatan baik dan menebar damai pada sekitarnya.

Al Ghazali dalam bukunya ihya ‘ulum al-din juz III hal 219 menyebutkan hakikat dunia yang terdiri dari tiga unsur yakni benda-benda (materi), adanya bagian manusia dan pembangunan.

Ia mengatakan :
“ketahuilah, bahwa dunia ibarat dari adanya benda-benda (materi), adanya bagian masing-masing manusia dan perlunya masing-masing manusia sibuk membangun. Inilah tiga unsur yang diperlukan. Sebagian orang menduga bahwa dunia dapat berdiri dengan salah satu unsure, padahal bukanlah demikian”

Pada bagian lain diterangkan bahwa manusia sering lalai dan mempermainkan unsur-unsur itu, sehingga diperlukan adanya peraturan untuk memelihara dunia sebaik-baiknya. Al Ghazali mengatakan

“akan tetapi, karena kelalaian dan kejahilan manusia, Tuhan menjadikan peraturan dalam Negara dan kepentingan untuk rakyat, bahkan semua urusan dunia diberi peraturan karena kelalaian dan pemikiran yang rendah itu. Kalau semua orang berfikir sadar dan mempunyai kemauan baik tentulah semuanya menjadi orang-orang zuhud, orang-orang suci didunia ini. Kalau tidak demikian, terlantarlah segala jalan perekonomian dan menjadi rusaklah semua manusia, termasuk kaum zuhud yang suci itu”.

Al Ghazali mengajukan suatu teori saling ketergantungan yang dizaman kita ini dikenal dengan inter-dependence

“setiap manusia dalam kebutuhan hidupnya, saling bergantung satu sama lain. Kaum produsen yang menghasilkan bahan makanan didesa memerlukan alat-alat industri yang dihasilkan oleh pabrik di kota, dan keduanya memerlukan kaum pedagang yang akan mengusahakan tukar menukar barang-barang yang dibutuhkan oleh masing-masing pihak. Para konsumen memerlukan barang-barang dari pihak produsen. Mereka menjadi produsen karena menghasilkan macam-macam barang yang diperlukan, dan sekaligus menjadi konsumen karena memerlukan barang-barang yang dihasilkan oleh orang lain”

Lantas, masihkan kita ingin menjadi mahluk egois, mementingkan kelompok sendiri, menganggap yang berbeda sebagai musuh, penuh curiga? Jika demikian ada yang salah dalam diri anda kata Al ghazali. Anda gagal menjadi bagian dari mata rantai membangun peradaban.

Hasyudalah, sudahkah anda ngopi dan dengarkan Via valen hari ini, saya sudah satu gelas sambil memandangi foto Nanik Sudaryati dengan gemes, kalau anda?

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Friday, November 3, 2017 - 10:15
Kategori Rubrik: