Hidayah Itu Hadiah

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

Sepertinya, ada orang yang merasa kalau iman yang sekarang ada di hatinya itu ia peroleh karena dirinya sendiri. Orang lupa bahwa, jangankan beriman, beragama pun kebanyakan kita adalah karena keturunan. Dalam kenyataan demikian, tidak ada yang sebenarnya lebih tepat dari ungkapan "iman sebagai hadiah".

Nah karena iman itu hadiah, maka tidak ada gunanya usaha kita untuk mengimankan orang lain. Sebaliknya, tidak ada juga gunanya "berdakwah untuk membentengi akidah" umat dari pemurtadan seolah-olah kita punya kuasa atas iman dan tidaknya seseorang. Koq orang lain, iman kita sendiri pun kita tidak akan mampu menjaga.

Nabi Ibrahim, bapaknya tidak beriman. Nabi Nuh, anaknya tidak beriman. Nabi Luth, istrinya tidak beriman. Apa daya mereka? Nabi kita ingin sekali agar pamannya beriman, tetapi apa kata al-Qur'an? Innaka lā tahdī man aḥbabta! (Kamu tidak bis amemberi hidayah orang yang kamu cintai).

Karena iman itu hadiah, maka satu-satunya cara kita menerimanya adalah dengan bersyukur. Perbuatan tidak berterimakasih atas nikmat iman itu disebut kufur. Orangnya disebut kafir. Orang kafir itu sesungguhnya adalah orang yang sudah diberi hadiah iman, tetapi mereka menolaknya. Pemberinya hanya satu: Allah. Bukan kita.

Karena kita tidak memberi, maka hati-hati menyebut orang lain kafir. Jangan-jangan ia tidak diberi hadiah iman.... atau belum diberi hadiah... atau jangan-jangan hadiah iman yang diberikan kepadanya berbeda dengan hadiah iman yang diberikan kepada kita. Kalau kita diberi hadiah iman Islam, jangan-jangan orang itu mendapatnya iman Kristiani, iman Yahudi, dan lain-lain. Who knows?

Ingat lho ya, hadiah itu juga sifatnya adalah ujian. Iman itu ujian. Bisa jadi ujian kita berupa iman Islam, orang lain berupa iman Kristiani. Bisa jadi kita lulus (semoga); bisa jadi orang lain yang lulus dengan ujian yang berbeda (mungkin saja). Jadi, mari bersyukur dengan hadiah/hidayah ini dan jalani ujian kita sampai lulus. Jangan hina hadiah iman orang lain, jangan-jangan mereka yang malah lulus.

Foto Ilustrasi: Anak SD berjilbab itu selama beberapa minggu ini "sekolah sore" di SD Marsudirini. Sore tadi, aku yang njemput.

Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin

Wednesday, August 21, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: