Hibernasi

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
Pernah dengar istilah hibernasi? Mungkin yang biasa pakai laptop ingat, bahwa laptop bisa diposisikan hibernation, yaitu tidak hidup benar-benar tapi juga tidak mati 100%.
Buat apa ada mode kayak gitu? Biasanya kan kalau menyalakan laptop dari awal sekali, perlu proses booting yang lama, apalagi banyak terinstal aplikasi. Maka salah satu tekniknya adalah dibikin tidak nyala 100% tapi juga tidak mati 100%.
Kenapa nggak dinyalakan saja terus-terusan? Ya, pastilah baterai segera habis. Makanya ada mode hibernation.
Teknik hibernasi inilah yang digadang-gadang untuk bisa diterapkan nanti pada manusia, kalau jadi rencanya kita mau jalan-jalan ke luar angkasa, menembus langit menggapai bintang-bintang.
Sebutlah misalnya nanti itu kita sudah bisa bikin pesawat ruang angkasa yang kecepatannya 'anggap saja' sudah secepat cahaya, yaitu 300.000 km per detik.
Dari bumi ke matahari dengan kecepatan segitu, cukup 8 menit saja. Kalau ke pinggiran sistem tata surya, kurang lebih juga segituan lah.
Tapi tahu nggak berapa jarak ke bintang-bintang di langit? Jauh sekali jaraknya. Yang paling dekat adalah Proxima Centauri. Terletak sejauh 4,2 tahun cahaya (3,97×1013 km) dari Bumi. Jadi butuh perjalanan 4 tahun perginya doang. Pulangnya? Ya, segitu juga. Taroklah misalnya sampai disana kita nginep semingguan lah.
Berarti 8 tahun lamanya kita naik vasel ruang angkasa. Sungguh bukan perjalanan yang menyenangkan. Naik pesawat Jakarta Jeddah 9 jam non-stop rasanya sudah mual-mual, lha ini 4 tahun. Coba mau ngapain kita duduk bengong selama 4 tahun?
Dari situlah terbetik teknik hibernasi tadi. Jadi kita sebagai awak pesawat dibikin tidur. Secara penampakannya, seperti yang digambarkan di beberapa film fiksi ilmiyah, tubuh kita direndam di dalam semacam cairan dalam kotak.
Nanti 4 tahun ke depan baru akan dibangunkan. Dengan cara itu kita juga akan hemat energi sekaligus hemat bekal makanan. Pokoknya malam ini kita tidur hibernasi, rasanya tuh kayak cuma besok pagi bangun sudah sampai di Proxima Centauri.
Padahal tidurnya 4 tahun lamanya. Bangun-bangun cari nasi uduk atau bubur ayam. Tapi selama 4 tahun kita nggak butuh makan minum.
Teknik ini banyak yang bilang terinspirasi dari sejenis beruang, yang bisa mengalami tidur panjang selama musim salju. Kondisi ketakaktifan dan penurunan metabolisme ditandai dengan suhu tubuh yang lebih rendah, pernapasan yang lebih perlahan, serta kecepatan metabolisme yang lebih rendah. Metabolisme mereka turun secara drastis.
Hewan ber-hibernasi untuk menghemat energi, terutama selama musim dingin sewaktu terjadi kelangkaan makanan, membakar cadangan energi, lemak tubuh, dengan perlahan.
Tapi masih jadi tanda tanya besar, kira-kira bisakah teknik berhibernasi ini diterapkan buat manusia? Para ahli masih pusing memikirkan kemungkinannya. Tapi bukan mustahil juga sih.
Tapi kira-kira buat apa hibernasi ini buat manusia? MEmangnya kita mau jalan-jalan ke bintang di langit? Apakah vasel dengan kecepatan cahaya mungkin diciptakan?
Nah ini yang mau saya bicarakan. Kebutuhan hibernasi pada manusia bukan untuk jalan-jalan ke angkasa luar. Tapi justru untuk bertahan di bumi, khususnya dalam menghadapi pandemi. Konon pandemi tidak akan hilang hanya dalam hitungan bulan. Tapi bisa sampai setahun atau bahkan beberapa tahun.
Sementara itu kita pada terkena resiko ketularan gara-gara tiap hari terus beraktifitas. Serba salah jadinya. Diam saja ngumpet di rumah sambil rebahan sebenarnya jalan yang paling logis dan aman, tapi bete banget lah setahun ngumpet.
Maka kalau teknologi hibernasi ini bisa diterapkan, kan lebih asyik. Seluruh umat manusia di muka bumi ini ditidurkan dengan teknik hibernasi. Tidak usah lama-lama, setahun lah kira-kira. Insyaallah virus jahatnya sudah mati. Setelah itu baru deh kita-kita dibangunkan. Taroknya karena umat manusia sedunia ini kompak berhibernasi, virus jadi nggak punya kerjaan dan mati dengan waktu cepat.
Setahun kemudian kita pada bangun. Atau mungkin istilahnya : dibangkitkan dari tidur panjang. Saat itu mungkin saja rambut, kuku, kumis, dan jenggot kita tetap tumbuh, panjang barangkali. Tapi tidak tahu juga, sebab metabolisme tubuh kita kan rada melambat. Mungkin rada gondrong dikit kali ya.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat
Saturday, January 23, 2021 - 17:45
Kategori Rubrik: