He's The Man

Oleh: Muhammad Jawy

 

Dua kali membohiri kakaknya di pentas demokrasi pada level tertinggi di Indonesia, kali ini ia kembali masuk dalam peperangan, namun memulainya dengan senyap. 

Ia membiarkan bandwagon effect dukungan terhadap kakaknya terbentuk, mulai dari gerakan 212, pertemuan tokoh yang dilabeli ijtima' ulama, ia tetap diam dari pandangan publik, membiarkan tokoh yang bisa membangun bandwagon effect itu yang bicara, seperti mas Dahnil dkk.

 

Karena kehadirannya di publik ketika itu, bisa mengacaukan pembentukan soliditas yang sedang dibangun, terlebih ia pernah terbuka menolak bekerjasama dengan FPI ketika berbicara ke para wartawan asing pada tahun 2014. Padahal soliditas 02 itu tersentral pada kredibilitas ketua umum FPI, HRS, bukan lagi kepada PKS atau PAN seperti ketika 2014. Kita tahu forum yang dilabeli ijtima' ulama itu, tokoh tertingginya adalah HRS. HRS-lah yang bisa menyatakan "Go" or "No go".

Sebagai seorang Kristiani taat sekaligus aktivis, ia membidani sayap Kristen Indonesia Raya (KIRA) di Partai Gerindra, sekaligus ia adalah penentu kebijakan penting di partai ini. Dominasinya dalam percaturan politik kubu politik kakaknya, sebenarnya menjamin bahwa kubunya akan mengenyahkan gagasan atau ide yang anti Pancasila. Maka ketika ditanya, kenapa ia kemudian membolehkan FPI menjadi bagian pendukungnya, ia menjawab sederhana, "Saya mau menang!". Kata "saya" dan bukannya "kami" itu secara psikologis ingin menunjukkan bahwa he's the man, orang yang sangat penting, dalam percaturan politik ini. 

FPI-lah yang mampu mewujudkan aksi 212 terjadi, bukan PKS atau HTI, mereka hanya mengikut kesuksesan FPI. Namun toleransi dalam merangkul FPI, membuat Hashim pun harus menerima dukungan dari eksponen pengusung khilafah seperti HTI, ataupun dari mereka yang dulu bersimpati kepada gerakan DI/TII. Tentu saja bukan politik kalau tidak ada paradoks, apalagi politik khas Indonesia yang masih mengagungkan politik identitas padahal seringkali prakteknya adalah pragmatisme duniawi.

Eks HTI yang biasanya menolak pemilu, selalu golput, karena mereka menganggap demokrasi adalah syirik, dan mengikuti pemilu adalah haram, namun kali ini sangat tampak bahwa mereka bertekad baja untuk merontokkan 01 yang mengeluarkan Perppu yang melarang dan membubarkan HTI. Ya, mereka akan mencoblos beramai-ramai di Pilpres kali ini. 

Namun adanya Hashim sebagai tokoh dominan di kubu 02, sebenarnya sekaligus menolak narasi bahwa kubu 02 dikuasai para pendukung khilafah. Ya mereka silakan mendukung, kebijakan tetap saja "Gue yang menentukan dong". Mungkin akan ada usulan kebijakan lips service untuk menyenangkan hati para voter-nya. Yah cukuplah untuk dihebohkan di media sosial. Tetapi kebijakan kunci tentu tak akan lari dari patron yang sesungguhnya.

Kemunculannya beberapa hari menjelang Pilpres dengan issue pembagian jatah menteri, sekadar menegaskan bahwa "I'm the man". Ia sangat tahu bahwa beberapa hari ini suara sudah cukup terkonsolidasi, kemunculannya di ruang publik tak akan banyak mengubah peta suara. Bahkan justru ia berpotensi menarik suara dari kalangan Nasrani untuk lebih memperkuat kubunya.

He's the man. Hashim Djojohadikusumo.

 

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Wednesday, April 3, 2019 - 02:30
Kategori Rubrik: