Hentikanlah

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Melihat geraknya yg sistematis dan selama dua tahun dia menunjukkan perlawanan kepada pemerintah, dengan kata lain, dia sengaja menghancurkan Jakarta. Maka usaha kita menghambatnya harus segera ada agar dia tidak merusak lebih parah, tidak perlu terus memakinya karena akan sia-sia saja. Kita yakin dia tidak sendirian dalam menjalankan rencana perusakan yg berkelanjutan, karena dia punya rencana entah mau jadi apa, walau mimpinya jadi presiden masih jauh di langit ke sepuluh namun tetap harus di hambat geraknya jangan dibiarkan dia memperbesar ruangnya.

Pemerintah dalam hal ini instansi terkait di pusat bisa membonsai kelakuannya, DPRD sbg wakil partai harus juga bisa menghadangnya bukan malah bekerjasama. Jangan cuma PSI yg bernyali, sementara partai tua malah jadi kemayu, unyu-unyu tapi mau. Percayalah kalau DPRD hanya menikmati kemudahan anggaran, maka kelak akan menyulitkan,dan kebejatan makin di anak kandungkan.

 

Gerakan pengrusakan didepan mata untuk alasan apa saja tidak akan bisa di terima, bahkan akal gila saja mungkin masih bertanya, ternyata masih ada orang yg lebih gila. Sayangnya dia selalu di poles dgn baju agama, ya beragama tapi jadi Jawara.

Kewarasan kita harus di padukan agar bisa menjadi penghambat rencana pengrusakan yg lebih membahayakan. Jalan satu-satunya adalah menghambat anggaran belanja. Dalam hal ini Mendagri bisa bekerjasama dgn Menkeu agar dia tak seenak jidatnya dalam menghamburkan uang rakyat dari pajak yg dikutip. Kecurigaan kita ada kerjasama antara dia dan lembaga DPRD dalam hal membiarkan uang rakyat di kerat sangat nyata. Bagaimana buku anggaran yg isinya rencana perampokan bisa di sah kan, sekarang ketua DPRD nya bilang kecolongan, kecolongan atau nyolong barengan. 

Bagaimana kecolongan, rencana pelebaran trotoar, beli toa, membabat hutan kota, dst, itu kan semua rencana kerja perusakan nyata, kok sekarang bilang kecolongan, yang pasti ngampret seragam itu yang nyata. 

Perusakan Jakarta dan sikap melawan program pemerintah yang sah, selain merusak citra hubungan internal pemerintah, disana juga terbentuk preseden buruk bahwa ada praktek kepala daerah yang jelas merusak tak bisa di tindak. 

Dia terus membesar menjadi pemalak. 

Lihat saja, mungkin baru kali ini DKI mengalami depisit anggaran sampai 10 T, sementara yang didapat hanya Toa, Trotoar, dan Pompa rusak, dan rakyatnya melepas nyawa sampai 60 orang, kerugian harta teriliunan, membayar akibat banjir yang tidak diantisipasi sama sekali. Hebatnya, Gubernurnya masih cengengesan di jaga Jawara yg disumpal dana hibah. Apa bukan Bedebah.

SEGERA KERDILKAN DIA KALAU TIDAK BISA DI HENTIKAN. KECUALI KITA MEMBIARKAN UANG TRILIUNAN DI HAMBURKAN PERCUMA DAN KITA HANYA BISA MEMAKI MANUSIA YG TIDAK ADA LUBANG TELINGANYA, TAK PUNYA KULIT MUKA DAN TAK PANTAS JADI MANUSIA SEBAGAIMANA LAYAKNYA.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, January 24, 2020 - 21:45
Kategori Rubrik: