Hentikan Program Bina Atlet Ciptaan SBY, Kunci Melesakkan Jumlah Emas AG

Oleh: Musrifah Ringgo

Keberhasilan Indonesia meraih 30 emas serta bercokol di urutan 4 klasemen perolehan medali sementara ajang Asian Games 2018 hingga 30 Agustus 2018 sebenarnya tak lepas dari gebrakan yang dilakukan presiden. Tak banyak yang mengingat bahwa tonggak revolusi managemen olahraga Indonesia belum berjalan 2 tahun namun hasilnya sudah terlihat nyata.

Bukan hanya jumlah perolehan emas memecahkan rekor medali emas dalam sejarah keikutsertaan Indonesia namun hingga 11 hari penyelenggaraan, Indonesia tak pernah abstain mendapat medali emas dalam satu hari. Keberhasilan pemerintah ini menunjukkan bahwa jika olahraga diurusi dengan serius, dengan baik dan penuh perhatian maka kita tinggal memetik hasilnya.

Lantas faktor apa yang membuat Indonesia begitu garang dan mampu meraih banyak medali emas? Salah satu faktornya yakni dibubarkannya Satlak Prima, (Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas). Satlak Prima dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2010, saat Soesilo Bambang Yudhoyono masih menjadi Presiden dengan Menpora Roy Suryo. Satlak Prima bertugas untuk memvalidasi atlet berprestasi. Perpres No. 95 tahun 2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional juga mencantumkan klausul pembubaran Satlak Prima. Alasan mendasar mengapa keberadaan Satlak Prima ini dihilangkan yaitu tentang persiapan Indonesia menghadapi Asian Games dan Asian Para Games Tahun 2018 ini.

Jokowi menginstruksikan pemotongan birokrasi anggaran Asian Games dan Asian Para Games yang selama ini justru menjadi batu sandungan. Selama ini, alur penyaluran anggaran prestasi dan kebutuhan atlet nasional memang melibatkan Satlak Prima sebagai pihak ketiga dan otoritas yang memvalidasi para atlet.

Prosesnya, induk cabang olahraga (PB) mengajukan kepada Satlak Prima. Kemudian, Satlak Prima mengajukan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga sebagai otoritas pengguna dana APBN. Setelah dievaluasi, proses pencairan dana tersebut dilakukan melalui mekanisme yang tak jauh berbeda. Panjangnya birokrasi inilah yang disinyalir menjadi salah satu penyebab prestasi Indonesia jalan di tempat. Contohnya adalah Sea Games Malaysia kemarin. Pada ajang dua tahunan tersebut, Indonesia meraih prestasi terburuk sepanjang sejarah.

Langkah melikuidasi Satlak Prima menunjukkan Presiden Jokowi mendorong menterinya segera mengambil kebijakan yang tepat, merombak bottleneck prestasi atlet kita. Tidak hanya itu, Jokowi juga menstimulus para atlet dengan bonus sebesar Rp 1,5 M serta tawaran menjadi pegawai negeri sipil. Bonus ini berlipat ganda dibanding bonus atlet Asian Games 2014 yang hanya Rp 400 juta tanpa embel-embel diangkat jadi PNS.

Jokowi, mampu menunjukkan  kemampuan memotivasi atlet, memanagemen kebijakan yang mendorong peningkatan prestasi atlet, menggelorakan optimisme masyarakat serta mengangkat harkat dan martabat bangsa yang rontok akibat perolehan medali emas hanya 4 buah di Incheon Korea empat tahun lalu. Negara tetangga bahkan Negara Asia melihat, Presiden Jokowi mampu membawa negaranya tidak hanya tangguh menghadapi krisis, mendorong kemajuan namun juga mengembalikan citra serta harga diri bangsa melalui prestasi olahraga. **

Friday, August 31, 2018 - 12:00
Kategori Rubrik: