Hebatnya Wanita Nusantara

Oleh Danz Suchamda

Bagaimanakah peran perempuan Nusantara di jaman kerajaan-kerajaan kita jaman dahulu?
Mari kita simak sejarah. 

Ternyata perempuan Nusantara tidak saja berhak memperoleh posisi tinggi, tetapi juga mampu berkarya yang luarbiasa sehingga dikagumi oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Tanyakan, mengapa kalian khususnya generasi muda Indonesia tidak mengetahui fakta ini?

Marilah kita bahas beberapa.

KILISUCI

Nama aslinya adalah Dyah Sanggramawijaya. Putri dari Sinuhun Prabu Airlangga yang mendirikan kerajaan Kahuripan sebagai revival atas kerajaan Mataram Medang (Mataram Kuno) yang hancur diserang oleh Kerajaan Srivijaya. Ia mendapat mandat dari rakyat Medang yang membutuhkan pemimpin baru yang kuat.

Dyah Sanggramawijaya adalah putrinya yang pertama. Ia sempat menjadi Maha Menteri (Rakryan Mahāmantri, atau Prime Minister, atau Perdana Menteri) dengan gelar Rakrayan Mahāmantri I Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi. Seorang yg bergelar I Hino pada masa itu artinya adalah calon pengganti Raja bila sang Raja turun tahta.

Tapi disamping itu, ia memliki 2 adik pria dari 2 selir Sinuhun Airlangga yang adalah penganut ajaran Vishnu. Adiknya2 itu sangat ambisius dan selalu bentrok berebut wilayah kerajaan. Melihat hal itu maka hati Dyah Sanggramawijaya menjadi sedih dan muak melihat bagaimana perhelatan dunia yang selalu membawa penderitaan bagi rakyatnya. Ia pun sempat dilamar oleh dua pria berkuasa berwatak buruk dan jahat (yang dilambangkan sebagai manusia yg berkejiwaan Asura bernama Lembusura, dan Mahesasura) dan menolaknya, bahkan melawannya. Oleh karena itu, sekalipun dirinya pewaris tahta yang berhak, tetapi ia memilih untuk menyerahkan haknya itu kepada 2 adiknya tersebut dan menjadi Kili (sejenis wikuni/bikkhuni yang hidup di hutan (forest-monk) atau siddha) sehingga digelari Dewi Kilisuci. Pada tahun 1035 Masehi, ia pergi menuju ke tengah hutan rimba yang jarang ditinggali orang yg disebut Gunung Klothok , di Gua Selomangleng.

Ia sendiri merasa bahwa dengan menekuni Dharma Budajawa (Jawasanyoto), dengan menjadi pertapa dirinya akan berada dalam suatu posisi yang dapat memayungi rakyatnya secara spiritual serta secara tidak langsung mengarahkan kedua adiknya tersebut agar menjalankan pemerintahannya demi kepentingan rakyat.

Pada akhir masa baktinya di dunia, ia tidak mati seperti orang biasa, tetapi moksha atau mencapai tataran Tubuh Pelangi (Jalu) alias tubuhnya lenyap berubah jadi sinar berwarna-warni dan menjadi abadi berkarya sepanjang masa untuk menolong mahluk hidup. Oleh karena itu ia dikenal sebagai Mahasiddha Vidyadhari.

Dialah yang menjadi buyut Sinuhun Prabu Jayabaya yg terkenal dengan ramalannya itu. Dan Sinuhun Jayabaya sendiri dalam gelarnya menggunakan sepotong dari gelar Dewi Kilisuci yaitu "Uttunggadewa". Demikian pula canggahnya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit , yaitu Raden Wijaya atau Shri Kertarajasa, menggunakan sepotong dari gelarnya yaitu Sanggramawijaya.

PRAJNAPARAMITA

Sekarang sampailah kita pada tokoh wanita terbesar yang dihormati di seluruh dunia , yaitu Gayatri Rajapatni.

Gayatri adalah seorang praktisi Dharma Budajawa (Jawa-sanyoto). Seorang berpendidikan tinggi yang rajin membaca literatur, politik dan urusan2 spiritual. Ia juga memiliki wajah yang sangat cantik, mempesona dan kharismatik, serta kecerdasan dan kebijaksanaan yang tinggi. Tetapi, pada tahun 1276 Masehi, pada usia 16 tahun, sejarah ternyata berulang kembali. Apa yang terjadi pada Airlangga 200 tahun yang lalu polanya berulang kembali. Dunianya menjadi gila. Ia harus menyaksikan kehancuran rumahnya dan negerinya. Bahkan menyaksikan bagaimana ayahnya dibunuh oleh Jayakatwang, salah satu adipati ambisius dari Kediri.

Gāyatrī berhasil melarikan diri, dan bersembunyi di daerah hutan Dlepih, Wonogiri. Selama persembunyiannya itu, ia menjadi seorang pelayan (babu). Walau akhirnya, kakak ipar dari saudara perempuannya berhasil membebaskan dirinya ketika terjadi serangan berganda dari pasukan kerajaan Mongol pada tahun 1293 M. Tokoh pahlawan yang berhasil mengalahkan Mongol itu adalah Raden Wijaya yang kemudian menjadi raja Majapahit pertama dengan gelar Shri Kertarjasa Jayawardhana, seorang penganut Ciwa. Gayatri diperistri olehnya, bersama empat sepupunya yg keturunan Singosari lainnya. Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara (Dara Petak ini adalah putri Raja Melayu. Inilah sebabnya kenapa orang Malaysia merasa bertalian darah dengan Nusantara). Sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwanotunggadewi dan Rajadewi. Tribhuwanotunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.

Mengapa ia disebut Prajnaparamita? 

Seperti kita ketahui bahwa Prajna artinya adalah Kebijaksanaan, sedangkan Paramita artinya 'ke seberang melampaui' (go beyond). Jadi dengan kata lain Prajnaparamita adalah kebijaksanaan yang melampaui kebijaksanaan duniawi biasa. Dengan kata lain, kebijaksanaan Adiduniawi, atau gampangnya Kebijaksanaan Luar-biasa. Nama inilah yang dipakai untuk sutra-sutra Buddhis seperti misalnya Sutra Hati (Prajnaparamita Hrdaya Sutra; note : Hrdaya = jantung/hati) yang terkenal di seluruh dunia.

TRIBHUWANA WIJAYATUNGGADEWI 
(Ratu Kencono Wungu)

Ia adalah putri dari Gayatri Rajapatni. Ia adalah pewaris tahta ketiga dari ayahnya Shri Kertarajasa. Dikarenakan pengganti Kertarajasa yang pertama yaitu Jayanegara ternyata kurang becus memimpin negeri sehingga banyak pergolakan dan pertumpahan darah. Jayanegara sendiri akhirnya terbunuh dalam sebuah pemberontakan. Akan tetapi ia tidak memiliki putra penerus. Oleh karena itulah maka Tribhuwana diangkat menjadi Rajāputrī Majapahit (dan ini bukan yg pertamakalinya perempuan menjadi raja di Nusantara). Dan sebagai Rajāputrī, ia memiliki prestasi yang luar biasa, yaitu : menghancurkan kerajaan Chola (Kerajaan asing dari India yang mengalahkan Kerajaan Srivijaya di Sumatera).

Ia bergelar Sri Tribhuwana Wijayatunggadewi Maharajasa Jayawishnuwardhani. Memimpin negeri selama 20 tahun.

Dan dialah ibu dari Prabu Hayam Wuruk yang terkenal bersama patihnya yaitu Gajah Mada dalam menyatukan wilayah Nusantara yang membentang dari sekarang wilayah Kamboja hingga Papua.

Akhir kata, ini bukanlah bermaksud membuat semua daftar wanita Nusantara yang berjasa bagi umat manusia, rakyat, bangsa dan negerinya. Masih banyak yang lain. Tetapi mengingat ruang dan tempat yang terbatas, saya cukupkan sampai disini saja. Yang terpenting adalah bahwa generasi muda , khususnya kaum perempuan, hendaklah terbuka matanya terhadap potensi kemampuan yang kalian miliki. Jangan menyerah pada kondisi, jangan mau hanya jadi pemanisnya lelaki, dan yang penting jangan bermental perempuan simpanan.

Rahayu!

Note : Karena dijaman dahulu belum ada fotografi, maka kalian harus bisa puas cukup dengan melihat ukiran patungnya -- yg tentu saja sudah mengalami hagiografi (penambahan embel-embel dan ornamen utk memuliakan karena rakyat mengaguminya).

Saturday, January 16, 2016 - 16:15
Kategori Rubrik: