Hebatnya Sinuhun Totok?

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Keraton Agung Sejagad berumur pendek. Itu mungkin karena ulah netijen, warga dunia maya yang nyata. Dengan dalil semua anggota masyarakat adalah tokoh, semua orang kini bisa menyebarkan informasi apa saja. 

Berkat postingan walimurid SD Timuran, Yogya, ulah Pembina Pramuka yang mengajarkan tepuk kafir bisa segera dibully rame-rame. Persis dengan mencuatnya berita Keraton Agung Sejagad. Interaksi dunia medsos jauh lebih akseleratif dalam men-judgment sesuatu. Benar atau pun ngawur. Dampaknya sama, memberikan vibrasi lebih kuat dibanding media mainstream (padal konvensional).

 

Jauh sebelum itu, sebenarnya banyak kasus. Polisi dipecat gara-gara netijen juga ada. Para ASN pun, kini juga pusing dan jiper, terutama yang pemalas dan korup, dengan adanya medsos. Nggak ngasih senyum dalam pelayanan, bisa diposting di medsos. Seorang ibu berhijab nyolong tanaman di jalan tol, bisa jadi viral.

Melalui jejak digital, netijen juga segera tahu, siapa Totok Santosa. Tahun 2016 ia pernah memakai modus sama di DIY dengan nama Jogya DEC (Development Commite). Demikian juga aktivitasnya di Mberja, Nggodean, Sleman, yang memiliki anggota lebih besar dari KAS. Aktivitas di Mberja relative ada bentuknya; Belajar kanuragan, ilmu Kejawen, dan rias pengantin. Karena masyarakat sekitar terganggu, kegiatan itu surut.

Darimana duit Totok mendirikan keraton di Purworejo? Nyewa kostum grup ndolalak? Dugaan orang, dari iuran atau pungutan duit anggota. Dengan anggota 450-an, rasanya sulit mengumpulkan duit gede. Apalagi anggotanya kebanyakan orangtua, dan ekonomi lemah. Atau, orang kayakah Totok? 

Dari jejak digital, Totok adalah pendukung Prabowo dalam Pilpres 2014 dan 2019. Apa hubungannya? Yang kita bisa tahu, permaisurinya, Dyah Gitardja, ternyata teman di LMP, di mana perempuan bernama aseli Fanny Aminadia itu adalah pengurusnya. Dan bukan suami-isteri. Sedang LMP? Laskar Merah Putih, ormas nasional sayap kanan dari Partai Beringin. Kita tahu siapa ketua umum partai ini? The Tommy Soeharto.

Terus apa hubungannya? Ya, kita tidak tahu. Intel Polisi, biasanya lebih pinter. Tapi, apakah Polisi tahu, penasihat spiritual KAS yang bernama Resi Joyodiningrat orang yang sama, dengan bendahara umum Partai Beringin, yang namanya mirip? Ini sekedar nanya.

Kalau ditlesih-tlesih, apa sih beda model penipuan Totok Santosa dengan puna-puni model investasi bodong, sorga bodong, umroh bodong, gubernur bodong, parpol bodong? Para nasabah Asuransi Jiwasraya, juga mungkin Asabri, bisa merasakan pahitnya ketipu. Inget bagaimana dulu Soeharto menggiatkan rakyat menabung lewat Simpedes BRI? Tapi duitnya kemudian dipakai Tommy bikin 'pabrik' Timor?

Memplesetkan ujaran Mbah Pram, tipu-tipu itu sebenarnya sama saja. Cuma narasinya saja yang hebat-hebat. Heibatnya Sinuhun Totok? Nggak juga. Mungkin kebodohan dan kemiskinan, ditambah lemah iman, menyebabkan penipu seolah lebih pintar.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Thursday, January 16, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: