He Is Nothing

Ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Dua hari ini medsos Indonesia riuh rendah dengan pemberitaan dari sebuah negara Timur Tengah tentang pelarian dari Indonesia sedang diperiksa aparat keamanan dari otoritas setempat karena menempel bendera yang "dianggap" mirip bendera ISIS di dinding rumah pelariannya yang terlihat kumuh dan memprihatinkan.

Ada teman saya kirim pesan pribadi, mengapa saya tidak menulis tentang orang itu atau peristiwa itu. Jawaban saya adalah karena bagi saya dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa serta peristiwa itu peristiwa kriminal biasa. Jadi kenapa saya harus menulis sesuatu yang tidak ada manfaatnya buat saya dan bangsa ini. Ah entahlah bagi saya orang itu sangat tidak penting dan tetap bukan siapa-siapa. Juga bagi bangsa ini.

Ganti saya bertanya pada teman saya. Tolong sebutkan 1 saja sumbang sih atau jasa orang itu kepada Republik ini ? Sehingga saya layak memberi perhatian untuk menulisnya. Teman saya tidak bisa menjawab. Bukan karena dia bodoh, tapi karena dia jujur. Pada kenyataannya tidak ada sebesar biji kurma pun jasa dia kepada negara ini. Dia bukan Ulama yang berilmu tinggi seperti Quraish Shihab, Gus Mus, Habib Luthfi, Gus Dur dll. Kalau bersuara tinggi : IYA. Dia bukan juga penceramah yang menyejukkan hati seperti Nassarudin Umar atau Zainudin MZ dll. Tapi penceramah agama yang mudah marah-marah dan memaki-maki dengan bahasa kasar : IYA. Dia juga bukan warga negara taat hukum. Dia malah kabur terbirit-birit dan terkencing-kencing kabur saat kasus chatt mesumnya disidik aparat kepolisian.

Bagi saya dan bagi bangsa ini keberadaan orang itu sebagai anak bangsa lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Oleh karena itu orang itu tidak pernah saya anggap sebagai FAKTOR dalam kehidupan saya atau kehidupan bangsa ini. Selama kita selalu memperbincangkan entah dalam rangka memuji-muji atau mencaci maki, secara tidak langsung dan secara tidak sadar kita telah menempatkan dirinya sebagai FAKTOR dalam hidup kita. Entah faktor positif atau negatif.

Kalau seseorang merasa dirinya dianggap sebagai FAKTOR, secara psikologis dia merasa terperhatikan dan merasa jadi orang penting. Apalagi ditambah dengan provokasi spotlite dari media massa. Orang itu tetap mengganggap dirinya sebagai orang yang besar dan diperhitungkan. Perasaan GLORIFIKASI ini akan berpotensi dikapitalisasi oleh dia dan para pendukungnya sebagai alat untuk menaikkan posisi tawar dia secara politis.

Saran saya untuk mengkerdilkan keberadaan orang itu bagi bangsa ini adalah dengan menganggap dia tidak ada dan bukan lagi sebagai faktor yang layak untuk kita perbincangkan. Cuekin saja dia dan tidak perlu kita membuang energi dan waktu untuk menyiapkan wahana untuk dia. Tidak perlu juga dengan cara memaki-maki atau melecehkan dia. Apapun sepak terjangnya.

Harus diakui selama ini dia merasa besar dan semakin membesar karena sikap salah kita dalam memperlakukan dia. Kita terlalu sering memberikan panggung di media sosial buat keberadaan dia. Sehingga dia merasa tetap menjadi pusat perhatian publik. Apalagi dalam kasus ini Pemerintah terlihat seperti berlebihan memperlakukan dia. Helloooo.......dia buronan kriminal lho Bu Menlu !!!

Langit tidak akan menunjukkan dirinya tinggi, kecuali memang kita menganggap dia tinggi. Dan bumi tidak perlu kita injak-injak untuk menunjukkan dirinya rendah. Tapi sosok ini bukan bumi apalagi langit. Dia hanya manusia biasa tanpa makna. Dia juga bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Jadi tidak perlu kita siapkan panggung boneka untuk mencercanya.

He is just nothing !!!

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Friday, November 9, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: